:nineteen:

1K 210 25
                                              

Taehyung berjalan melewati koridor sekolahnya dengan rasa percaya diri yang timbul entah sejak kapan.

Pria itu bahkan tak mengingat kapan terakhir kali ia berani berjalan tanpa menyembunyikan wajahnya dengan poni.

Eksistensi Sooyoung dalam hidupnya dan perubahan yang terasa signifikan membuat pria itu tersenyum kecil.

Membuat segerombol gadis di ujung lorong menjerit bak tikus terjepit.

"Wow! Wow! Wow! Are you Kim Taehyung?"

Jimin menepuk punggung pria itu kelewat keras, membuat Taehyung meringis menahan nyeri.

"Ck. Pergilah, Jim."

"I'm your bestfriend. Are you forget me?"

Taehyung hanya melenguh pelan, mempercepat langkah agar kaki pendek Jimin tak mampu mengejarnya.

"YAK!"

"BERHENTI DISANA, BODOH!"

Taehyung terkekeh pelan.

'Tak buruk juga', pikir pria itu.

---

"Kau benar benar hebat karena sudah mengubah itik buruk rupa menjadi angsa, Soo."

Suara bernada kelewat antusias itu membuat yang mendengarnya tertawa.

Jimin masih bersemangat menceritakan bagaimana hebohnya dia ketika melihat tampilan Taehyung pagi ini.

Kemeja yang tak dikancingkan dan kaos hitam polos sebagai dalaman. Benar benar mahakarya di tubuh Taehyung.

Dan jangan lupakan sorot mata kelam namun teduh itu.

"Aku yakin predikat the hottest boy in school akan beralih ke si keparat itu."

Jimin mendecih tak suka, menyilangkan kedua lengan pada dada.

"Bukannya julukan itu milikku sebelumnya?"

Jungkook menaikan alisnya sambil memandang Jimin remeh.

"Julukan itu menjadi milikku kemarin. Saat aku memenangkan lomba marathon kelas kita."

"Dan dia sudah merebut julukan yang bahkan belum genap seharimu, Ji."

Yeri terbahak akan fakta yang menyakitkan bagi Jimin itu.

Membuat Sooyoung maupun Jungkook ikut tertawa mengejek.

"Halah. Dia tetap kalah jauh dengan keterampilan menggodaku."

Jimin tersenyum congkak sambil memandang ke arah pintu, lebih tepatnya ke arah pria yang sedari tadi mereka bicarakan.

"Menggoda saja tak bisa, apalagi menembak."

Jungkook dan Yeri menahan tawanya agar tidak pecah, bisa habis mereka jika Taehyung marah.

Sedangkan, Sooyoung merasakan pipinya memanas. Gadis itu menunduk guna menyembunyikan rona merah yang samar di pipinya.

Taehyung mendekati Jimin, meloloskan satu pukulan yang telak mengenai belakang kepala Jimin.

"Aku bisa, namun tak mau."

"Kenapa?"

Bukan Jimin, tapi Sooyoung yang bertanya. Membuat semua orang disana melotot terkejut.

"Karena aku tahu aku tak pantas untuknya."

"Kau belum mencobanya."

"Memang apa yang bisa ku banggakan?"

wнen yoυ love ѕoмeone. [ vjoy ]✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang