20 ¦ In The End, I'm Married With My Sincostan

9.5K 802 15

Suara hairdryer di kamar Derry semenjak dua bulan terakhir ini, seolah menjadi back sound yang selalu Derry dengar setelah ia resmi menikahi Shinta dua bulan yang lalu. Entah dipagi hari atau sore menjelang malam ketika Shinta selesai mandi dan ia mencuci rambutnya. Bukan hanya itu aja, kamar Derry bukan lagi seperti kamarnya yang dulu alias ketika ia masih menjadi bujangan.

Dulu, mungkin menemukan diapers bayi di kamar Derry adalah hal yang paling mustahil. Sekarang? Jangankan diapers bayi, barang-barang Orlen pun hampir menghiasi setiap sudut kamar Derry. Belum lagi beberapa barangnya dan Shinta yang juga tertata rapi di kamarnya. Siapa lagi kalau bukan istri tercintanya itu yang merapikan, Derry sih mana ngerti soal rapi merapikan rumah. Yang dia ngerti, paling cuma cara menggombali Shinta atau paling bagus kalau nggak kerja, ya, mendiamkan tangisan Orlen kalau malam.

Seperti sekarang, bunyi hairdryer milik Shinta menyambut Derry ketika masuk ke kamar, sepulangnya dari masjid untuk solat magrib. Melihat Shinta masih sibuk mengeringkan rambutnya, Derry menyenderkan tubuhnya pada tembok sambil melipat tangannya didada. Lalu memperhatikan Shinta yang duduk dimeja rias.

"Sincostan, kamu udah gantiin baju Orlen?" Tanya Derry ketika suara hairdryer berhenti.

Shinta melirik Derry dari pantulan kaca riasnya sambil merapikan rambutnya. "Udah barusan, sebelum aku keringin rambut." Jawabnya. "Kamu ganti baju gih, polo shirt yang mau kamu pakai ada diatas kasur."

Bukannya mengambil polo shirt-nya, Derry malah menghampiri Shinta dan memeluk istrinya itu.

"Sana deh, Mas. Ini mau rapihin rambut dulu." Ucap Shinta menggerak-gerakan pundaknya saat Derry meletakkan wajahnya dipundak.

Derry menggelengkan kepalanya. "Bentar dulu dong, kamu wangi. Enak dicium tau, Sincostan."

"Nih cium ketek aku, makin wangi. Apalagi kalau habis keringetan."

"Iya, apalagi keringetannya kalau habis—"

Shinta memotong ucapan Derry. "Abis apa?" Tanyanya galak.

"Habis masak, sayangku. Idih kamu pasti mikir yang iya-iya nih." Sahut Derry sambil menaik turunkan alisnya yang terlihat dikaca. "Mening kita nambah adek aja yuk, buat Orlen. Nggak usah makan bareng Gibran."

"ENGGAK. Udah cepetan ganti baju, ini malam minggu pasti macet nanti. Banyak anak ABG pada keluar buat ngapel di rumah ceweknya." Ucap Shinta jutek.

Derry mencubit hidung Shinta. "Sok tahu banget ini Ibu-ibu satu. Bilang aja, nggak pernah diapelin jadinya iri."

"Ih, siapa yang iri? Terus ya, kamu juga yang bikin aku jadi Ibu." Sarkas Shinta.

"Nyesel nih aku bikin jadi Ibu?"

"Nggak usah banya nanya kayak wartawan. Pantesan aja Mas Farhan nyebut kamu soang ya, nggak bisa diem mulut kamu."

"Aku diem kalau cium bibir kamu."

Shinta yang geram dengan Derry karena menganggunya kemudian memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Derry. Ia menatap suaminya itu dengan senyuman, lalu meraih jedai miliknya dan menjepit bibir Derry dengan jedai tersebut.

"Tuh, makan deh cium." Ucap Shinta dengan puas.

Karena sakit bibirnya dijepit dengan jedai oleh Shinta, dengan cepat Derry menarik jedai tersebut dari bibirnya. Punya bini jutek abis tuh gini emang, kalau nggak sadis karena omongan pedasnya, ya, kayak begini deh jadinya. Tapi namanya cinta, mau sejutek apapun pasangan sih yang ada makin cinta bahkan rasa-rasanya bukan keki lagi, tapi gemas ampun-ampunan.

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!