Cewek itu tertawa lebar--tawa yang tak pernah diperlihatkan kepadanya sebelumnya. Selama tiga bulan mengenalnya, Domi tak pernah mengenal ekspresi itu di wajahnya. Membuatnya tampak... menakjubkan.

Kau cantik, dengan segala kepribadianmu. Kau sangat bersinar saat menjadi dirimu sendiri.

Domi mengerang ketika kata-katanya sendiri menyusup ke dalam benaknya, menyadarkannya akan sesuatu. Apakah ia sedang termakan ucapannya sendiri??

Cepat-cepat dihalaunya pikiran itu secepat datangnya, lalu dengan langkah tergesa dihampirinya cewek yang masih berkerumun bersama teman-teman setimnya itu.

"Hei."

Carla menoleh, dan alih-alih masam seperti biasanya, menampakkan wajah sumringah kepada Domi. "Dom!"

"Congrats, my girl..." Tanpa berpikir dua kali, diraihnya gadis yang hanya setelinganya itu ke dalam pelukannya. "So proud of you!"

"Thank you!" Carla hanya melepas pelukannya dan tersenyum lebar menanggapi, sebelum kembali sibuk dengan teman-temannya.

Domi menghela napas, diam-diam dalam hati mengumpat. Cewek sialan. Namun, ia tidak boleh lepas kendali sekarang. Seluruh penantiannya sejak tiga bulan yang lalu, pengorbanan juga jerih payahnya, berujung pada hari ini. Saat ini. Karena itu, ia hanya harus bersabar.

Sebentar lagi.

Lalu, masih dengan kedok senyum tanpa celanya, ia menyentuh lembut lengan Carla untuk kembali mendapatkan perhatiannya. "Um, can I have a sec?"

Carla berpamitan singkat pada teman-temannya sebelum mengajak Domi ke ruang ganti di belakang yang masih sepi. Tenang-tenang saja ia membuka baju basketnya, menyisakan kaus putih melekat di tubuhnya, sementara Domi harus menahan diri untuk tidak menerjangnya. Cewek naif ini, masa ia tidak tahu the power of wet white shirt? Atau, ia lupa, bahwa ia menggunakan bra berwarna mencolok di balik kausnya?

Yang mana pun, Domi yakin Carla tidak bermaksud menggodanya, karena ia sama sekali tidak melakukan eye contact sejak tadi, dan sekalinya menatap Domi, sorotnya benar-benar netral.

"So? Kau mengajakku kemari hanya untuk melamun?"

Domi berdeham, berusaha menemukan kembali suaranya. "Aku tidak... Ehm... Aku hanya ingin menyelamatimu, personally. You know, merasakan bagaimana rasanya menjadi orang paling spesialmu."

"Thank you, you don't have to. Kau mau repot-repot kemari saja sudah lebih dari yang mampu kuharapkan." Carla tersenyum--bukan dan tidak pernah senyum manis yang menonjolkan kefemininannya, senyumnya lebih seperti senyum bahagia. Namun, sorotnya melembut ketika menatap Domi. Yang lama kemudian baru disadari Domi, sudah jauh berbeda dari Carla yang dikenalnya tiga bulan yang lalu. Carla yang berdiri di hadapannya ini, tergila-gila padanya, head over heels, tapi juga sekaligus sangat menawan dengan caranya sendiri. Semakin ke sini, Domi akhirnya mengerti, apa yang menjadi daya tarik terbesar Carla. Bukan kecantikan atau keseksiannya, seperti yang dimiliki banyak cewek lain, namun kekuatannya dan keberaniannya untuk selalu menjadi dirinya sendiri.

Domi maju, mencium sekilas pipi Carla, lalu menatapnya intens dengan wajah hanya berjarak dua puluh senti dari wajah Carla. "Carla, you're.. beautiful. I'm serious! Kau tampak sangat bersinar..." Domi tampak berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, "Guess it's safe to say happy girls smile the brightest, huh?"

Carla tersenyum lagi, jemarinya terangkat untuk menyusuri bentuk wajah Domi yang tersembunyi di balik topi dan kacamata tanpa lensanya--penyamaran standar yang selalu digunakan Domi ketika ia bersama Carla. Lalu, dengan nada mengalun lembut, ia berkata, "Dan kau, mengapa kau tak ikut bersinar? Matamu, mengapa tak ikut tersenyum? Kau tak bahagia untukku, Domi?"

Domi tersentak ketika kata-kata itu telak menyerang benaknya. Sial, ia tahu tentang rencana balas dendamku?? Hanya ketika aku sudah sedekat ini menuju titik terang! Tidak, tidak, seluruh jerih payahku tidak boleh terbuang sia-sia begitu saja!

Dalam keadaan panik, direngkuhnya cewek itu ke dalam pelukannya. Sama sekali tak menyadari, di dalam sana, jantung Carla berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, atau bahwa cewek itu sama sekali tak bermaksud mencurigainya. Dan, untuk menutupi kedoknya yang dikiranya hampir terbongkar, ia pun berkata--menambah berat kerja jantung Carla, "Aku bahagia untukmu, Carla. Selalu. Tapi aku tak bisa berbohong; aku paling bahagia saat bersamamu. Menyentuhmu, merengkuhmu ke dalam pelukanku. Jujur saja, aku tak pernah merasakan cinta yang sehebat ini sebelumnya."

Domi melepaskan pelukannya, hanya untuk menggenggam erat kedua bahu Carla dan menatapnya lurus-lurus. Pengendalian dirinya sudah kembali seperti semula, dan ia bertekad menyelesaikannya saat itu juga, sebelum momen langka itu berlalu. Lalu, diucapkannya kata-kata itu, sembari membisikkan selamat tinggal dalam hati. "Aku ingin kau berjanji padaku, Carla. Apapun yang terjadi, percayalah padaku. Bahwa aku mencintaimu, lebih dari yang mampu kuungkapkan. Kalaupun seluruh dunia berusaha memisahkan kita... Aku ingin kau tetap mempercayaiku, Carla. Setiap kau jatuh, setiap kau terluka, aku ingin kau mengingat kata-kataku hari ini. Bahwa akan ada satu orang yang akan selalu mencintaimu."

*

"Carla...!" Teriakan Claire di sepanjang lorong rumah mungil mereka melengking tinggi, membangunkan Carla dari tidur pulasnya.

"Ugh, Claire!" dumel Carla, sambil melirik jam di ponselnya. Pukul tujuh? Badannya masih belum rela meninggalkan ranjang yang baru ia tiduri tak sampai lima jam yang lalu.

"Carla, kau harus melihat ini!" Pintu kamar mereka menjeblak terbuka, diikuti Claire yang datang terbirit-birit dengan wajah panik stadium lima.

"Deuh, Claire, tidak bisakah perkaramu menunggu setidaknya dua jam lagi? Kepalaku masih jet lag." keluh Carla, membayangkan apa saja yang dilakukannya semalaman hingga sesubuhan tadi: mengikuti 'after party' yang telah dirancang sedemikian rupa oleh teman-teman setimnya untuk merayakan kemenangan mereka sekaligus ulang tahun pelatih tercinta. Too many things happened in one night.

"TIDAK BISA!" Claire berkacak pinggang dengan wajah tidak menerima bantahan. Lalu, ketika Carla hanya mengubah posisi tidurnya tanpa berkata apapun lagi, ia segera bergerak menarik Carla dari ranjang dan menyeretnya menuju ruang tamu.

"Oke, oke, aku bisa berjalan sendiri." sungut Carla, melepaskan cekalan adik kembarnya, hanya untuk tertegun menatap TV yang dibiarkan Claire dalam keadaan menyala.

Sosok Domi tampak sumringah dalam acara infotainment itu, saat berdiri bersanding dengan Gisel memamerkan sepasang cincin di jari manis mereka. Liputan mengenai mereka tampak sudah hampir mencapai akhir ketika Domi berbicara menghadap kamera, mengucapkan kalimat penutup, "Harapan ke depan? Ya, semoga hubungan kami berdua direstui oleh masyarakat, jadi nggak diserang gosip-gosip tak sedap lagi. Aku sempat dengar rumor beredar tentang retaknya hubungan kami, atau bahkan aku cari-cari selingkuhan di belakang Gisel. Yang katanya cewek tomboy lah, cewek dari kalangan biasalah." Domi melengos. Lalu, dengan nada meremehkan dan raut minta-dihajar, ia kembali berkata, "Apa mereka bahkan berpikir ketika mengatakan itu? Bagaimana mungkin aku mengorbankan cewek sempurna seperti Gisel, demi cewek nggak jelas seperti itu? Tell you what. You either lose your mind, or dream too much, okay?"

Almost Over YouBaca cerita ini secara GRATIS!