For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

11

566 17 0

"Hati ini akhirnya benar - benar terluka, luka yang cukup dalam sehingga sulit untuk kembali pulih."

                              ^^^^

       Sepanjang perjalanan pulang, Asya tak bisa melepaskan pandangan dari Aldan. Dia merasa tidak enak karena telah berbohong. Aldan yang merasa diperhatikan langsung menoleh, "Apa perutmu masih sakit?" tanyanya perhatian.

       "A-aku baik-baik saja." jawab Asya ragu. Asya sebenarnya berharap Aldan tidak perlu bersikap terlalu baik, jadi dia bisa melakukan apapun tanpa rasa bersalah.

       "Baguslah kalau begitu." ujar Aldan merasa lega, "Apa kamu masih ingat Naila?"

       Asya mengerutkan kening bingung, "Maksudnya?" Aldan justru tersenyum simpul, "Kamu benar-benar lupa atau pura pura lupa?"

       "Tadi kita menghadiri pernikahan Naila. Bukannya beberapa waktu lalu aku sempat mengenalkanmu padanya? Dia yang aku akui sebagai kekasihku waktu itu?" ujar Aldan mengingatkan. Asya mencoba mengingat kembali pertemuan pertama mereka dan kejadian konyol saat dirinya dengan berani bersikap selayaknya wanita yang tak tahu malu. Mengingatnya hanya membuat Asya merasa malu sendiri, "Iya, sepertinya aku ingat."

       "Waktu itu, aku sengaja memintanya untuk mengakuiku sebagai kekasihnya agar kamu menjauh, padahal dia telah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan menikah dengannya." Asya mulai mengingat Naila, dia tidak percaya dunia bisa sesempit ini. Dia dipertemukan dalam hubungan yang terasa sederhana namun rumit baik dengan Naila ataupun Aldan. "Aku berharap kamu mau mundur teratur dan menjauhiku, tapi jawabanmu waktu itu cukup mengagetkan. Karena jawaban itu, mungkin saja kita..." ucapan Aldan terhenti.

       "Sekarang Naila telah menikah dengan Putera, dia adalah lelaki yang baik. Mereka sudah berhubungan sejak dua tahun lalu tapi baru mulai serius setahun ini, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Naila selalu membanggakannya padaku, aku akui sahabatku kali ini tidak salah memilih." Aldan memutuskan mengalihkan pembicaraan.

       Asya sebenarnya penasaran dengan ucapan Aldan selanjutnya, tapi Aldan mengalihkannya ke arah yang Asya tak suka. Untuk saat ini, dia tak ingin nama Putera disebut-sebut, rasanya terlalu menyakitkan harus mengingat betapa Putera telah mengaggapnya seperti mainan yang bisa dibuang kapan saja.

       Beberapa detik kemudian, mereka telah sampai di depan rumah Asya. Aldan sudah bersiap untuk memapah Asya, tapi Asya menolaknya dengan alasan dia bisa jalan sendiri. "Ayo masuk kedalam dulu!" ajak Asya.

       Aldan melihat jam di tangannya, "Terima kasih, tapi ini sudah cukup malam. Lebih baik aku pulang sekarang saja. Kalau perutmu sakit lagi, lebih baik pergi ke dokter saja." ujar Aldan sebelum akhirnya berlalu pergi.

       Asya memandang mobil Aldan hingga mobil itu menghilang dari pandangannya, "Kenapa aku berharap oranglain yang bersikap sepertinya." gumam Asya dalam hati.

                              ****

       Seperti biasa, siang itu Asya pergi ke toko untuk menggantikan ibunya berjaga. Tak disangka, Putera datang ke toko. "Sya, bisa kita bicara?" itu yang dia katakan.

       "Katakan saja!" jawab Asya singkat. Dia tidak ingin menghampiri atau berdekatan dengannya karena dia tahu, Putera telah menjadi suami oranglain, jadi lebih baik dia berdiri di dalam dan Putera di luar, layaknya penjual dan pembeli.

       "Kita perlu bicara serius!" ungkap Putera menekankan. Asya tetap tidak bergeming, dadanya mulai terasa sesak lagi, tapi sekuat mungkin dia coba menekan seluruh emosi yang ingin meledak dalam dirinya. "Hal serius apapun, katakan disini. Jika tidak bisa, tak usah bicara!" ujar Asya sambil menahan nada suaranya agar tetap terdengar normal.

       "Oke, kita bicara seperti ini." Putera memilih mengalah daripada Asya memintanya pergi, "Aku memang salah, tanpa mengatakan apapun aku malah menikah dengan orang lain dan meninggalkan janji yang tak bisa aku tepati padamu. Kamu memang pantas menghukumku, tapi hubungan kita sudah tidak berjalan baik sejak awal. Akhirnya aku menyerah pada keinginan keras mamaku, aku benar - benar minta maaf." sesalnya.

       Asya menarik napas, "Lalu apa lagi?"

       "Aku berharap, kamu tak mengatakan apapun pada Naila ataupun Aldan mengenai hubungan kita. Kumohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini secara perlahan pada Naila!" Asya menelan ludah, napasnya terasa semakin pendek mendengar begitu pedulinya Putera pada Naila, sedangkan pada dirinya yang selama ini menunggu, apa dia perduli?

       "Aku tidak bisa menjanjikan apapun, lebih baik kamu pergi saja!" usir Asya halus. Sebenarnya Asya sudah tak tahan lagi ingin menangis. "Tapi Sya..."

       "Pergi, atau aku akan melemparimu!" ancam Asya. Putera pun terpaksa pergi tanpa hasil, dia mengerti kalau permintaannya cukup sulit.

       Asya terduduk lemas di lantai, dia menangis terisak. "Kenapa! Kenapa kamu harus berkata seperti itu dihadapanku? Apa kamu tidak sadar luka yang telah kamu torehkan waktu itu saja belum bisa sembuh!" ujar Asya dalam hati.

                               ****

       "Hei, kurasa ini belum seminggu, kenapa kamu sudah masuk kerja?" tanya Aldan tak percaya. Aldan bingung karena Naila baru empat hari tidak masuk setelah pernikahan, padahal seharusnya dia tengah berbulan madu dan tak akan masuk selama seminggu ini.

       "Putera memintaku menunda bulan madu kami. Dia bilang ada hal penting yang perlu dia kerjakan. Jadi, daripada diam tidak jelas di rumah. Lebih baik aku kerja saja." jawab Naila santai, tapi wajahnya tidak bisa berbohong kalau ada kekhawatiran yang dia rasakan.

       "Bulan madu masih bisa ditunda tapi masalah tidak boleh di tunda-tunda karena nanti akan jadi masalah." ujar Aldan menanggapi.

       Naila tahu itu, itu sebabnya dia tidak protes saat Putera meminta menunda bulan madu mereka. Sebenarnya Naila sedikit kesal, tapi mau apalagi. "Ah ya, beberapa hari yang lalu kamu datang dengan Asya kan! Apa kamu yang mengajaknya?" tanya Naila tiba-tiba.

       "Sejujurnya, mama yang memaksaku mengajaknya. Mau apa lagi, mama selalu membuat kepalaku rasanya mau meledak kalau kemauannya tidak aku turuti." cerita Aldan.

       "Mamamu memang cerewet, kan!" ujar Naila ringan.

       "Kamu mengatai mamaku? Aku pecat kamu!" seru Aldan. Mereka terdiam sejenak lalu tertawa bersama, "Tapi...sepertinya bagus juga, mungkin kita bisa berteman."

       "Eh...teman apa teman!" goda Naila.

       Aldan tersenyum tipis, "Bukannya kamu mau bekerja, cepat pergi sana kerjakan tugasmu." ujarnya. Naila pun keluar dari ruangan Aldan masih sambil tersenyum penuh arti.

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!