Party CEO - 41 - Kenangan yang Mencuat

227K 10.7K 2.7K

Axel hanya melihat kegelapan, tapi ia masih bisa merasakan lengan kecil berusaha menahan tubuhnya yang terhuyung. Sial! Jika ia sampai jatuh menimpa pemilik tangan yang meneriakkan namanya itu, Mysha pasti bisa terluka.

Axel mengerahkan sisa tenaganya untuk mengangkat kaki kirinya lalu memijak cepat dan kuat ke atas lantai. Keseimbangannya pulih. Perlahan tapi pasti, Axel bisa kembali melihat cahaya. Suara lembut itu terus memanggil namanya sembari menepuk pipinya berulang.

"Axel, are you alright?" Mysha memeriksa dahi Axel, tapi tak dirasakan peningkatan suhu yang signifikan.

"I'm fine." Axel tersenyum ketika seluruh kesadaraannya kembali. "Sorry for making you worry." Pria itu membelai lembut pipi Mysha yang memucat.

"Tidak! Kita harus ke dokter sekarang!"

Axel menggeleng, tapi Mysha menarik tangan kekar itu paksa sekuat tenaga. Saat itulah Mysha mendengar suara yang tak asing.

Mysha menoleh ke arah Axel. Untuk yang pertama ia bisa melihat semburat merah mewarnai wajah tampan itu.

"Are you hungry?" Mysha membeliak takjub. Suara perut keroncongan baru saja ia dengar dari seorang CEO paling berkelas yang dikenalnya. Ya, Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?

Axel tak mampu menjawab apa-apa. Rasa malunya lebih besar dari apa pun. Terlebih mereka tengah diperhatikan seorang pramuniaga yang ikut bersemu merah entah karena apa.

"Ya ampun Axel, jangan bilang kau belum makan apa-apa sejak pagi, sementara kau bekerja seharian tadi dan bahkan sempat mengurus tender di klien?!" Rentetan kata-kata meluncur cepat dengan nada meninggi.

Axel tak bisa berkelit melihat Mysha membeliakkan mata sembari berkacak pinggang. Wajah yang memucat itu kini bersemu merah. Mungkin setengahnya karena marah.

"Sebenarnya, aku belum makan apa pun sejak tadi malam. Aku bahkan tak bisa tidur memikirkan pesta kita, juga gaun yang akan kaukenakan. Belum soal cincin pernikahan. Rasa-rasanya semua katalog yang mereka tawarkan terlalu sederhana untuk kuberikan kepadamu."

Mysha semakin melebarkan matanya. Warna keemasan yang mampu menaklukkan Axel itu berkilat kesal. Pria di hadapannya ternyata nyaris pingsan hanya karena kehabisan energi. Padahal jelas Axel baru sembuh dari flu, tapi ia terlalu memaksakan diri.

Wanita itu menoleh cepat ke arah pramuniaga.

"I'm sorry miss, kurasa pemilihan gaunnya akan kami tunda dulu. Aku akan mengajarkan cara makan yang benar pada pria yang bahkan tak bisa menjaga kesehatannya sendiri ini."

Axel terpana. Untuk yang pertama seseorang terlihat marah padanya. Axel kembali merasakan lengannya ditarik dengan kasar keluar butik.

"Mysh...." Axel memanggil nama Mysha ragu-ragu.

Tak ada jawaban.

"Mysh ... are you mad?"

Axel terdiam ketika Mysha menoleh. Ada buliran air jatuh di sudut mata wanita itu. Refleks Axel langsung merengkuh Msyha dalam dekapan kukuhnya meski dentaman jantung pria itu bertalu penuh kekhawatiran.

"Kupikir kau sakit parah!" tangis Mysha pecah dalam pelukan pria itu. "Dasar bodoh! Rasanya mau mati memikirkan kalau ternyata kau punya penyakit serius."

Hati Axel mencelus. Kemarahan Mysha adalah bentuk kasih sayang terhadapnya. Wanita itu tak hanya mengharapnya kenikmatan satu malam, atau harta melimpah yang biasanya orang lain harapkan darinya.

Axel mempererat dekapannya. Tangan kanannya tanpa sadar membelai puncak kepala Mysha penuh kasih. Mysha begitu terbuka padanya. Menceritakan segala tentang dirinya, keluarganya, juga seluruh perasaannya.

[END] Passionate CEO - Malam yang Tak Terlupakan 18+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang