3

3.1K 315 5

.
.
.

Daniel tengah bersama Nino di ruang tengah malam ini. Daniel mendudukan Nino di tempat duduk makannya untuk makan malam.

"Nino makanlah" bujuk Daniel.

"Shileo~"

"Wae?"

"Ini tidak enak" ucap Nino polos.

"Ini enak Nino. Eomma yang membuatnya"

"Eomma?"

"Mm eomma. Sekarang makan ne"

Daniel mencoba menyuapkan makanan pada Nino. Nino hanya terdiam kemudian membuka mulut dan memakannya.

"Nino harus makan yang banyak"

"Wae?"

"Agar Nino bisa tumbuh seperti appa"

"Seperti appa?"

"Hm, seperti appa. Lihat appa tinggi kan?" Daniel berdiri.

Nino mengangguk.
"Kalau begitu Nino harus banyak makan"

"Kalau tidak makan?"

"Nino tidak akan bisa tumbuh seperti appa"

Nino mengangguk.
"Nino akan makan. Appa Nino akan makan sendili"

Nino mengambil sendoknya dan memakan makanannya sendiri. Daniel tersenyum kemudian duduk disamping anaknya itu.

Tak lama kemudian Rara baru pulang dan melihat Daniel bersama Nino tengah bersama. Nino yang mengetahui duluan langsung senang.

"Eomma, eomma"

"Eomma?" Daniel menoleh pada Rara yang sudah tersenyum.

Daniel menghampiri Rara kemudian memeluk Rara tetapi Rara menghindar.

"Wae?" Ucap Daniel bingung.

"Aku baru pulang dari rumah sakit. Jadi aku harus mandi dulu"

"Arraseo, tapi aku kan hanya ingin memelukmu"

"Niel, aku baru saja pulang dan banyak bakteri dan kuman" Daniel mempoutkan bibirnya. Rara tersenyum.

"Jangan seperti itu"

"Jaga Nino sebentar, aku akan mandi" tambah Rara kemudian naik ke atas"

"Eomma~" panggil Nino sambil merentangkan tangannya.

"Nino tunggu sebentar, eomma harus mandi dulu" ucap Rara sambil pergi.

"Nino melanjutkan makan dulu ne" ucap Daniel.

Nino menggelengkan kepalanya.
"Shieleo!! Eomma. Appa, eomma" rajuk Nino.

"Nino, eomma sedang mandi. Tunggu sebentar.

"Eomma!!" Rajuk Nino kembali.

"NINO!" Daniel meninggikan suaranya. Nino hanya diam menatap Daniel. Cairan bening mulai menutupi sebagian mata Nino.

Daniel yang baru sadar dengan apa yang dibuatnya langsung menggendong Nino.

"Hiskkkk hueeeeeee heeeee" Nino menangis digendongan Daniel.

"Appa mianhae. Appa mianhae Nino-ya" Daniel menepuk pelan punggu Nino.

"Hueeeeee appa hueee"

"Ne, appa mianhae"

Tangis Nino belum juga mereda. Daniel sedikit bingung tetap menepuk punggung Nino.

"Sttt Nino-ya" Daniel duduk  kemudian mendudukan Nino dipahanya dan merapihkan rambut anaknya itu.

"Uljima. Appa mianhae" Nino hanya mengangguk dan memeluk Daniel kembali. Daniel membalssnya.

"Sttt uljima Nino-ya" Tangis Nino sudah sedikit mereda kali ini.

Rara baru saja keluar. Muka paniknya tak bisa disembunyan kali ini. Rara langsung menuju Daniel dan Nino.

"Nino?" Nino menoleh.

"Eomma hisk" ucap Nino sambil merentangkan tangannya.

"Wae wae wae" ucap Rara sambil menggendong Nino. Nino hanya diam. Rara melihat Daniel yang sesekali menunduk.

"Daniel wae?"

"Mianhae"

"Hm?"

"Nino menangis karnaku" ucap Daniel.

"Kenapa bisa begitu?"

"Aku tidak sengaja membentak Nino"

Rara membulatkan matanya sejenak kemudian tersenyum pada Daniel.

Rara menggenggam tangan Daniel.
"Gwenchana" ucap Rara, Daniel menatap Rara.

"Eomma aku mengantuk" ucap Nino.

"Nino sudah mengantuk. Nino bersama appa dulu ne. Eomma akan buatkan susu" Nino hanya mengangguk kemudian Daniel ngembi Nino dari gendongan Rara.

"Kajja kita kekamar" Nino tetap diam namum tetap memeluk leher Daniel.

"Nino ingin tidul belsama appa eomma" ucap Nino tiba tiba saat Daniel membuka pintu kamar Nino.

"Nino ingin tidur bersama appa dan eomma?" Jelas Daniel. Nino mengangguk.

"Baiklah, kajja kita kekamar" Daniel menutup pintu kemudian pergi menuju kamarnya dan Rara.

Rara naik ke atas dan masuk kekamar Nino. Rara mengerutkan dahinya.
"Tidak ada siapa siapa? Ah, pasti dikamar" Rara kemudian menutup pintu dan menuju ke kamarnya.

Benar saja Daniel tengah bermain dengan Nino di kasur kamarnya.

"Eomma" panggil Nino.

"Nino ingin tidur bersama eomma dan appa?"

Nino mengangguk.
"Ne" ucap Nino bersemangat.

"Ne" ulang Daniel.

Rara duduk di samping kemudian menyerahkan botol susu pada Nino yang sudah berbaring di dekat Daniel.

---

Rara meletakan botol minum Nino di meja samping. Rara mengusap perut Nino lembut kemudian menyelimuti anaknya itu.

"Rara?"

"Hm?"

"Mianhae?"

"Wae?"

"Aku bukan appa yang baik" ucap Daniel penuh penyesalan.

"Niel ? Kenapa kau berbicara seperti itu"

"Aku membentak Nino sampai menangis sekarang dia takut padaku" Daniel menghelas nafas.

"Niel, dengarkan aku" Rara mencoba menggenggam tangan Daniel.

"Kau adalah appa terbaik. Nino sangat menyayaingimu. Dia menangis karna kaget Niel"

"Tapi aku merasa gagal"

"Niel, jangan beranggap kau seperti itu. Bagiku dan Nino kau adalah appa terbaik. Kau tau Niel? Nino selalu berkata 'kapan appa pulang?' 'Eomma, aku ingin bertemu appa. Kajja kita kekantor' 'Eomma, Nino ingin bersama appa'"

Daniel terdiam mendengar semua itu dari Rara.
"Jangan beranggap kau appa buruk Niel. Kau adalah appa terbaik untuk kami"

Daniel tersenyum.
"Gomawo"

"Ne, tidurlah"

.
.
.

Terimakasih buat yang sudah membaca, vote sama coment ^^

Maaf author baru bisa update karna terlalu asik memikirkan untuk My nurse versi member lain dan Imagine Wanna One yang belum di publis semua. Dan author sempet kehilangan karakter Daniel disini juga. Jadi baru bisa update setelah author paksa memikir. Maaf jika kali ini gak sesuai perkiraan 😂😂

My Nurse - Kang DanielBaca cerita ini secara GRATIS!