Bagian Kelima (Penampilan Baru dan Si Bencong Salon Kecantikan)

72 4 4

"Ada yang bisa eike bantu, mbak-mbak aneh??" tanya seorang pegawai salon kecantikan yang nama perempuannya adalah Winarti dan nama prianya adalah Winarto kepada Amira dan Sofie ketika mereka berdua sudah berada di dalam sebuah salon kecantikan di tepi kampungnya. Karena Amira dan Sofie masih diam dan saling pandang, seorang pegawai salon kecantikan tersebut melototi Amira dan Sofie dari ujung sandal jepit hingga pangkal rambut mereka berdua dengan pandangan yang aneh, lalu dia tertawa-tawa cukup kencang dengan genitnya sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

"Narti, jangan kencang-kencang dong ketawanya!" ingat Bu Hani si pemilik salon kecantikan yang sedang melayani seorang pengunjungnya creambath tanpa menoleh ke Winarti alias Winarto.

"Ini loh bund ada dua cewek aneh datang kemari nggak tahu dari mana asalnya!" jawab Winarti sambil menoleh ke Bu Hani yang masih sibuk mengcreambath rambut pengunjungnya.

"Dari planet Pluto kali, bund!" kata Winarti sambil ngakak dengan genitnya, tapi kali ini mulutnya yang cukup lebar dibiarkan terbuka.

"Layani aja!" kata Bu Hani cepat dan cukup keras.

"Siap, bund!" jawab satu-satunya pegawainya tersebut sambil tersenyum-senyum.

"Kok manggil kita berdua mbak-mbak aneh siihh??" tanya Sofie dengan muka cemberut kepada Winarti. Si bencong salon kecantikan itu hanya tertawa-tawa ngakak saja. Bu Hani menoleh ke Winarti sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Winarti yang sedang tertawa ngakak tersebut. Setelah itu, Bu Hani kembali mengcreambath pengunjungnya. Seorang pengunjung yang sedang dilayani oleh Bu Hani sekarang ini tidak mendengar sama sekali percakapan mereka berempat, karena dia sedang membaca sebuah Majalah sambil mendengarkan musik di HPnya dengan memakai earphone.

"Kalian berdua ke sini mau ngapain??" tanya Winarti serius.

"Mau potong rambut!" jawab Amira kalem yang sedikit ketakutan.

"Kalau kamu, Sof?" tanya Amira kepada Sofie.

"Juga mau potong rambut aja!" jawab Sofie malu-malu sambil garuk-garuk kepalanya.

"Apa?? Kalian berdua ke sini mau potong rambut aja??" tanya Winarti lagi, lalu dia tertawa dengan genitnya.

"Neng, ini udah jaman milenium, neng!" jawab Winarti sambil mengempit tangan kirinya dengan ketiak kanannya dan tangan kanannya menopang dagunya.

"Emangnya kenapa sihh??" tanya Amira ingin tahu.

"Idiiiiiiihhh! Ngaca dulu dong, neng!" jawab Winarti sambil membalikkan badannya Amira dan Sofie, lalu mendorong mereka berdua ke dekat sebuah kaca besar yang sejak tadi dibelakangi Amira dan Sofie.

"Lihat tuh muka kalian berdua! Aduuuuuhhh, booookk!" kata Winarti kepada Sofie dan Amira yang diam sejenak memandangi dirinya di hadapan sebuah cermin kotak setinggi dua meter dan selebar tiga orang dewasa.

"Penampilan yang sangat aneh! Idiiiihhh....mana kusam lagi!" sambung Winarti.

"Kami berdua ke sini cuma mau potong rambut aja kok! Bukan creambath!" kata Sofie sambil menoleh ke Winarti yang ada di belakangnya.

"Duuuhh, nih anak! Gebleeekkk banget!" jawab Winarti, lalu tertawa dengan genitnya lagi.

"Emangnya kenapa sih??" tanya Sofie dengan jutek kepada Winarti.

"Emangnya kenapa sih....emangnya kenapa sih!" gerutu Winarti yang berkaos ketat, bercelana ketat, berbedak putih cukup tebal, dan bergincu merah merekah tersebut.

Gaun Merah Jambu AmiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang