2

3.6K 333 6

.
.
.

Hujan lebat malam ini membuat Rara khawatir, ini sudah pukul 10 malam tapi Daniel belum juga sampai rumah.

"Daniel" lirih Rara.

Tak lama kemudian pintu utama terbuka. Terlihat raut cemas dan lega menjadi satu pada wajah Rara melihat Daniel yang sedikit basah karna hujan.

"Niel" Rara langsung memeluk Daniel.

Daniel membalas pelukan Rara.
"Kenapa kau belum tidur?"

Rara melepas pelukan dan mengambil tas Daniel.
"Aku menunggumu"

"Rara-ya, sudah aku bilang jika aku pulang malam jangan menungguku"

"Gwenchana Niel, ini tugasku sebagai istri"

Daniel tersenyum kemudian mereka pergi kekamar mereka.

---

Daniel baru saja selesai mandi dan duduk bersandar di tempat tidurnya.

"Ahh, akhirnya" ucap Daniel.

"Apa sangat melelahkan?" Tanya Rara.

"Hm, sedikit. Ada masalah tadi sehingga harus meeting mendadak" ucap Daniel sambil memijat pelipis matanya.

"Tidurlah" ucap Rara kemudian membenari selimutnya.

Ctaaarr!!

"Ah, eomma" ucap Rara reflek ketika suara petir menyambar. Rara sedikit menutup telinganya dan menunduk.

Daniel melihat itu langsung mendekati Rara dan merangkul Rara.
"Gwenchana" Ucap Daniel. Daniel tahu kalau saat ini Rara sedikit takut. Yah, Rara takut dengan petir. Namun sepertinya sekarang tak sepanik dulu.

Ctaaarrr!!

Kali ini petirnya lebih keras dan tak lama kemudian lampunya mati.

"Yak, Niel oppa" ucap Rara langsung memeluk Daniel. Daniel sedikit tersenyum saat ini.


"Gwenchana, aku disampingmu"

"Aishhh kenapa harus gelap seperti ini" lirih Rara.

"Hah~ akhirnya kau memanggilku oppa" canda Daniel.

"Aish, Niel"

"Hei, benar kan, kau harus memanggilku oppa. Aku lebih tua darimu 3 tahun" tegas Daniel.

"Arraseo Niel oppa"

Cttaaarrr!!

"Aish, Niel oppa" kejut Rara.

"Eomma~ appa hiissskk"

Rara dan Daniel saling berpandangan.
"Nino"

Dengan cepat Rara dan Daniel menyalakan lilin dan menghampiri anak mereka itu.

"Eomma appa hiskkk eomma appa"

Rara dan Daniel membukan pintu dan mendapati Nino duduk tersungkur dibawah ketakutan.

Nino sempat terjatuh saat turun saking takutnya Nino tetap dalam posisi terjatuh dan hanya bisa menangis.

"Nino!" Ucap Rara dan Daniel bersamaan kemudian menghampiri Nino. Rara bahkan tidak memperdulikan ketakutannya terhadap petir.

"Nino-ya" Rara langsung mengangkat Nino dan menggendongnya.

"Eomma~ huweee appo"

"Apayo? Eodiga ?" ucap Rara.

Nino hanya menunjuk kakinya.
"Ah, ne" Daniel memgelus kaki Nino dengan lembut.

Clataarr!!

"Eomma hiskkk eomma" tangis Nino semakin kencang saat petir mulai bersuara kembali.

My Nurse - Kang DanielBaca cerita ini secara GRATIS!