10

594 23 0

"Semua orang tahu ini menyakitkan, tapi..."

                             ^^^^

       Asya memandang dirinya di pantulan cermin, dia merasa sangat menyedihkan. Selama ini dia berharap pada mimpi yang tak akan bisa tercapai. Putera memberinya harapan yang begitu tinggi tapi dalam sekejap menjatuhkan semuanya ke dasar. Hatinya begitu sakit melihat undangan yang Putera simpan dihadapannya waktu itu, apalagi Putera tak mengatakan apapun padanya. Dia ingin menangis, tapi mana mungkin dia pergi ke pesta pernikahan dengan wajah yang sembap.

       Asya terkejut saat mendengar pintu yang terbuka, Nira masuk tanpa minta izin. "Kakak mau kemana?" tanya Nira penasaran.

       "Aku diajak ke pernikahan." jawab Asya singkat. Nira tersenyum penuh arti, dengan semangat dia memperhatikan penampilan Asya yang begitu berbeda dari biasanya. "Siapa yang ngajak?"

       "Aldan." jawab Asya seadanya. Gaun yang Asya pakai saat itu pun pemberian dari Aldan. Asya bahkan masih ingat kalimat yang Aldan ucapkan saat dia memberikan gaun itu, 'Aku tidak mau kamu mempermalukanku disana, jadi kamu harus memakainya. Besok, kujemput pukul 7.' sebal sekali dia harus mengingat itu.

       "Pasti ini dari dia!" tebak Nira. Asya tak menjawab, tepat setelahnya bel berbunyi jadi dia tak harus menjawab tebakan Nira.

       Benar saja, Aldan yang datang dengan setelan jas yang dia gunakan. Jika mereka dipasangkan akan terlihat serasi, tapi Asya hanya dapat mengagumi penampilan Aldan sesaat karena bayangan Putera dengan setelan seperti itu tiba - tiba berkelebatan di kepalanya.

       "Kenapa dia melihatku seperti itu, apa dia terpesona dengan penampilanku?" ujar Aldan percaya diri. Nira tersenyum kecil mendengarnya, dia pun menepuk pundak Asya.

       Asya sangat terkejut, dia sampai mengelus dadanya berkali - kali, "Kamu ini! Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?"

       "Kakak juga, melihat dia seperti itu. Kakak sangat terpesona melihat penampilan kak Aldan!" goda Nira.

       Asya langsung memandang Aldan, dia sempat terdiam sejenak, "Tentu saja, siapa pun akan melakukan hal yang sama." jawabnya kemudian. Asya tidak mungkin mengatakan apa yang tadi dia pikirkan, jadi dia terpaksa mengatakan hal itu. Dia yakin, Aldan tak akan berpikir lebih mengenai kata-katanya itu.

       Ucapan itu terdengar sangat ringan, tapi cukup menyengat sesuatu di dalam diri Aldan yang selama ini tertidur. Untuk sesaat Aldan tertegun, pandangannya tak bisa lepas dari Asya.

       "Lebih baik kita segera pergi. Bukannya kita tidak boleh terlambat!" ajak Asya, dia segera menarik lengan Aldan karena tak mau mendapat pertanyan lain dari Nira. Ibu Asya yang melihat itu dari kejauhan tersenyum bahagia, akhirnya Asya mau untuk bangkit dari keterpurukannya selama ini.

       "Hati - hati, ya!" pesan Nira.

       Sepanjang perjalanan, Aldan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya terus menyetir tanpa menoleh ke arah Asya. Asya sempat menoleh, tapi Aldan tidak melakukan hal yang sama. Dia pikir, Aldan tak suka dengan ucapan yang sempat dia katakan tadi.

       "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Asya ragu. Aldan menoleh sekilas, lalu kembali serius menyetir tanpa mengatakan apapun.

       Asya tidak bisa bertanya lagi, dia memilih diam hingga mereka sampai di gedung tempat resepsi pernikahan tengah dilangsungkan.

                             ****

       "Kamu kenapa, sejak tadi melamun terus?" Putera menjawab pertanyaan itu dengan senyuman, dia langsung mencium kening wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Setidaknya dengan melakukan itu, perasaannya yang tidak enak menjadi lebih baik. Hari ini, dia harus terlihat bahagia. Demi istrinya, dan para tamu yang telah menyempatkan datang ke pesta pernikahannya.

       "Naila!" panggil Aldan. Asya terus mengikuti Aldan dari belakang, menghampiri Naila dan suaminya. Dia tidak bisa melihat mereka karena terhalang punggung Aldan.

       Naila langsung melambai pada Aldan, Putera pun ikut menoleh. Dia ikut menyunggingkan senyum melihat kedatangan Aldan. Awalnya memang seperti itu, tapi setelah Asya berdiri disamping Aldan dan keduanya berpandangan. Senyuman itu memudar berganti keterkejutan.

       Putera sangat terkejut, dia memang memberikan Asya undangan, tapi dia tidak percaya Asya datang bersama Aldan. Putera agak khawatir kalau Asya mengatakan sesuatu pada Aldan, dan Naila tahu kebenaran itu dari mulut oranglain bukan darinya.

       Asya tak bisa berhenti memandang Putera, dia sangat ingin bertanya banyak hal tapi dia tidak bisa apalagi disampingnya berdiri wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Dengan sekuat tenaga Asya mencoba menahan airmata yang sudah tak sabar untuk segera mengalir membasahi pipinya. Asya tidak habis pikir, kenapa nasibnya harus begitu buruk, bertemu Putera dalam situasi seperti itu. Asya bahkan tak sempat memandang apalagi mengingat wajah Naila.

       "Ternyata kamu mendengar ucapanku juga." ujar Naila sambil tersenyum penuh arti melihat ke arah Asya. Aldan hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi, dia ingin menyangkal tapi sepertinya tidak akan ada artinya.

       Aldan dan Naila sempat melihat ada yang aneh dari keduanya, "Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Naila tiba-tiba.

       Asya dan Putera langsung menoleh, "Iya, kami memang saling kenal. Senang bisa kembali bertemu dengan 'teman lama'. Iya kan, Sya!" jawab Putera setelah lama terdiam.

       Mendengar Putera mengatakan kalau mereka hanyalah 'teman lama' dengan sangat ringannya. Dada Asya terasa sangat sesak mendengar itu, Putera memang telah berubah. Asya tak percaya dengan jawaban yang terlontar dari mulut Putera, tapi dia tetap mengiyakan kebohongan itu.

       "Wah, kebetulan sekali kalau begitu." ungkap Naila lega.

       Asya benar - benar sudah tak tahan lagi, "Maaf, bisa tunjukkan dimana toiletnya?" Naila langsung memberitahu Asya, tak perlu waktu lama untuk Asya pergi meninggalkan mereka.

       "Apa Asya tidak mengingatku?" tanya Naila bingung.

       "Mungkin dia lupa." jawab Aldan datar, "Ah ya, hampir lupa. Mewakili mama, aku minta maaf karena dia tidak bisa hadir."

       "Aku mengerti maksud mamamu, jadi gak masalah kok. Sampaikan saja salamku padanya." ungkap Naila. Disampingnya, Putera tidak tenang, beberapa kali dia melirik ke arah Asya pergi.

       Aldan menepuk bahu Putera, membuatnya menoleh kaget, "Kamu harus bahagiakan Naila, kalau tidak, aku akan memberi pelajaran menyakitkan untukmu." canda Aldan, "Nai, aku pergi dulu!"

                              ****

       Asya menangis di toilet, dia ingin berhenti tapi airmata tidak bisa berhenti mengalir dari balik matanya.

       "Sya, kamu di dalam!" seru Aldan dari luar. Mendengar panggilan Aldan, Asya segera menghapus airmatanya lalu mencuci muka dan segera mengeringkannya dengan tissue.

       Tak lama, Asya keluar dengan wajah tertunduk. Dia tidak mau Aldan melihat matanya yang memerah, bekas menangis.

       "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di toilet sejak tadi?" tanya Aldan dengan nada kesal.

       "Perutku sakit." jawab Asya singkat. Dia terpaksa memegangi perutnya, pura-pura sakit.

       "Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja." usul Aldan yang tiba - tiba jadi khawatir, "Apa kamu masih bisa jalan?"

       "Bisa kok," Aldan membantu memegangi lengan Asya, untuk memapahnya padahal tanpa dipapah pun Asya bisa jalan sendiri.

       Dari kejauhan, Putera melihat Asya yang dipapah. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu padanya, tapi adanya Aldan membuat Putera mengurungkan niatnya dan memilih melihat semua itu dari kejauhan.

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!