Sebuah Ketidakpastian

42 0 0

Lagu-lagu yang menjadi hot trending saat ini tak mampu menghiburku. Sepotong kue coklat favoritku juga tak mampu mengembalikan keceriaan yang telah lama hilang dari dalam diriku. Sepanjang hari hanya kulalui dengan melamun. Memikirkan tentangmu. Tentang kita.

"Adakah aku dalam rencana masa depanmu?" sesaat diriku sempat ragu untuk menanyakan ini. Ah, tidak. Lebih tepatnya aku takut akan apa yang akan kudengar setelahnya. Selalu.

"Nggak tahu," dia menjawab. Sudah kuduga. Jawaban klise. Jawaban yang sama setiap kali aku menanyakan tentang keseriusannya padaku. "Oh, bukan," dia berhenti sejenak. Sedikit harapan muncul dalam hatiku. "Nggak ada. Aku tidak pernah memikirkanmu, meskipun hanya sekilas, itu tidak pernah terlintas," Oke, kali ini jawabannya berbeda. Tetapi intinya tetap sama, rasa sakit yang akhirnya aku rasakan.

Aku menutup mataku. Ingatan-ingatan tentang kita kembali muncul ke permukaan. Bagaimana kita bertemu, bagaimana aku bisa jatuh begitu dalam hingga untuk sekedar merangkakpun diriku tak mampu.

Tidak ingatkah kau saat kita pertama kali bertemu?

Tidak ingatkah kau saat kau bosan, aku selalu menjadi tempat pelarianmu?

Tidak ingatkah kau betapa hangatnya pelukanku ketika kau menggigil kedinginan?

Masih adakah aku dalam hatimu?

Masihkah aku menempati ruang kosong dihatimu?

Kumohon padamu, kali ini saja. Berikan aku sebuah tanda. Tidak perlu besar, tidak perlu heboh. Cukup sedikit saja. Sekecil butir padi, dan aku mampu menunggu. Menunggumu hingga siap mengikrarkan perasaanmu padaku. Seberapa lamapun itu, aku mampu. Aku memang selalu ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang menanti. Yang aku butuhkan hanya satu, sebuah kepastian.

Sebuah KetidakpastianWhere stories live. Discover now