Part 4✔

2.9K 133 2

"Menghargai perasaan orang lain tidak harus dengan cara membalas perasaan itu. Tapi cukup lihat dan hargai perasaan yang ada untukmu."

~~~

Mobil sport berwarna biru tua melaju dengan kencang ditengah jalanan Jakarta yang ramai. Tuan dari mobil itu menaikkan kecepatan hingga mobil itu sampai di suatu rumah megah berwarna abu-abu.

Diparkirnya mobil itu di sebuah garasi yang ada di rumah tersebut.

"Assalammualaikum yah, bun," sapa Faldo dari luar rumah sembari mengetuk pintu.

Dibukanya pintu itu dengan seorang wanita tua yang sudah mengabdi pada keluarga Faldo sejak Faldo kecil.

"Wa'alaikumsalam den. Ayah sama bunda ada di dalem lagi ngobrol sama tamu," balas bibi.

"Makasih bi," ucap Faldo dengan senyum ramahnya.

Betapa terkejutnya Faldo ketika memasuki ruang tamu. Wanita yang kehadirannya tak pernah Faldo inginkan. Rebecca Dista Viviany. Wanita yang selama ini mengagumi Faldo namun cintanya tak berbalas.

Sebenarnya, keluarga Faldo tak pernah suka dengan Rebecca. Namun karena tidak enak dengan Rebecca, mau tidak mau mereka harus menerima Rebecca yang bertamu ke rumah mereka.

"Ngapain lo disini hah?" tukas Faldo.

"Hai do. Kamu tuh apaan si, aku dateng bukannya di sapa apa gimana malah ditanya ngapain disini," ucap Rebecca dengan manjanya.

"Nggak usah banyak ngomong deh lo. Mending sekarang lo pergi dari sini. Muak gue liat lo," jawab Faldo ketus.

"Ihh kamu kok malah ngusir aku sih? Gimana kalo nanti malem kita dinner di resto yuk," ajak Rebecca.

"Lo ngajak gue dinner?" tanya Faldo dengan nada sedikit naik.

Rebecca menjawab pertanyaan Faldo dengan sebuah anggukan tanda iya.

"Najis banget gue dinner sama lo," tolak Faldo.

"Faldo, jangan gitu dong. Kasian Rebecca udah ngajak baik-baik masa kamu nggak mau," bujuk bunda.

"Tapi bun--"

"Faldo sayang kan sama bunda?"

"Ya sayang lah bun,"

"Kalo sayang, Faldo mau dong turutin kata-kata bunda?" rayu bunda.

"Terserah bunda," jawab Faldo pasrah. Karena dia tak mau membuat bundanya kecewa hanya karena hal sepele. Meskipun Faldo tahu yang dilakukan bundanya hanya karena rasa tidak enak pada Rebecca.

♦♦♦

KREKK...

Dibukanya kenop pintu itu oleh bunda. Bunda terkekeh melihat anak laki-lakinya sedang berdiri di balkon kamar.

"Faldo," panggil bunda memulai pembicaraan diantara mereka.

Faldo yang merasa namanya dipanggil seketika langsung menoleh ke sumber suara. Senyumannya manis. "Hai bun," sapa Faldo.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!