13 ¦ The Plan

Mulai dari awal

"Terus Shinta gimana?"

"Shinta yang bilang kalau dia yang pergi. Enak aja, nggak segampang itu gue lepasin."

"Gue tau nih, gimana caranya biar Elsya mundur." Celetuk Erga. "Abisnya gue gregetan juga sama ini cewek, heran mau-maunya gitu loh jadi istri kedua."

Mereka berdua langsung menatap Erga dengan penasaran. Namun Erga langsung menatap Farhan dengan senyum miringnya. "Far, diantara kita bertiga 'kan cuma elo nih yang masih belum kawin, sedangkan gue dan Pak Dimas udah ada segelnya."

"Ah anjir, firasat gue nggak enak nih." Celetuk Farhan.

Ketika Erga akan melanjutkan ucapannya, seorang cowok yang seusia mereka datang menghampiri meja mereka.

"Sorry ganggu." Ujarnya lalu menunjuk Derry. "Lo bener 'kan Derry?" Tanyanya.

Derry mengernyit bingung namun mengangguk. "Iya bener, gue Derry. Ada apa ya? Gue kayaknya nggak kenal elo deh." Jawab Derry santai.

Cowok itu mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Gue Gibran, kakaknya Shinta."

Buru-buru Derry membalas uluran tangan Gibran dan tersenyum. "Oh, salam kenal." Ujarnya.

Farhan dan Erga hanya saling melempar tatapan menahan tawa saat melihat reaksi Derry.

"Boleh gue gabung disini?" Tanya Gibran.

"Oh, boleh-boleh. Gabung aja." Sahut Derry langsung. "Kenalin, ini temen-temen gue. Farhan dan Erga." Derry memperkenalkan kedua temannya.

Gibran ikut bergabung dan duduk dikursi yang masih kosong. "Gue langsung to the point aja ya. Lagipula kayaknya pas sama topik obrolan kalian sekarang." Ujar Gibran.

Buset cenayang apa gimana ini si Gibran? Batin Derry.

"Gue punya rencana, gimana lo bisa lepas dari Elsya." Ucap Gibran.

Derry terkejut menatap Gibran. "Ini lo nggak mau ninju atau maki-maki gue gitu, karena udah hamilin adek lo?" Tanyanya kebingungan.

Lantas pertanyaan itu membuat Farhan dan Erga tertawa kencang. Punya teman yang rada-rada kayak Derry kadang menghibur juga.

Gibran ikut tertawa. "Udah nggak ada waktu. Kapan-kapan aja, lo mau nikah 'kan sama adek gue? Udah cinta mati banget 'kan lo?"

Dengan anggukan kencang Derry menjawab. "Iyalah gila aja."

"Gue bakalan bikin Elsya mundur. Selain itu, gue punya rencana bagus." Ucapan Gibran barusan langsung membuat mereka bertiga menganga lebar.

°°°

Elsya melangkah anggun melewati koridor rumah sakit. Hari ini, jam prakteknya sudah selesai dan ia akan bergegas pulang. Ketika ia berada di parkiran, Elsya melihat Shinta dan Derry yang baru keluar dari lobby rumah sakit dengan Shinta yang menggendong Orlen. Lantas Elsya mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil dan melangkah menghampiri mereka berdua.

Tetapi sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. Membuat langkah Elsya terhenti.

"Hai, kita ketemu lagi disini." Ucap Gibran.

Mendengar suara Gibran, Elsya menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Kamu—"

Gibran tersenyum manis pada Elsya. "Apakabar, sayang?" Tanya Gibran.

Elsya mendengus kesal. "Sayang? Siapa kamu, manggil-manggil saya sayang?" Sinis Elsya.

Dari jarak jauh Derry melihat mereka berdua. Gibran buru-buru memberi kode pada Derry agar Shinta tidak melihat mereka berdua.

"Kamu lupa atau budek sih? Saya pernah bilang, sebelum kamu menjadi yang kedua untuk Derry saya yang bakalan bikin kamu jatuh ke pelukkan saya sebelum itu terjadi."

"Jangan mimpi." Cibir Elsya.

Gibran melangkah maju mendekati Elsya. "Let's see. Saya bakalan bikin jadi kenyataan." Ucap Gibran lalu memegang pergelangan tangan Elsya. "Kalau kamu yakin nggak akan jatuh ke pelukkan saya, ikut saya malam ini untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu client saya." Tantang Gibran.

Dengan senyuman sombong, Elsya menjawab tantangan Gibran. "Siapa takut?" Balas Elsya.

"Okey, kayaknya kamu butuh waktu untuk ganti pakaian dan makeup. Tinggal mobil kamu disini dan saya bakalan bawa kamu ke salon. Masih ada waktu dua jam lagi."

"Deal. Saya nggak akan jatuh ke pelukkan kamu, inget itu baik-baik."

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju mobil Gibran. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Gibran membawa Elsya ke salah satu mall untuk membelikan Elsya dress dan ke salon yang ada di mall tersebut.

Pukul sepuluh malam, Gibran dan Elsya memasuki ballroom hotel yang cukup terkenal untuk menghadiri acara ulang tahun client Gibran. Malam ini Elsya tampak anggun dengan dress yang ia kenakan serta makeup natural yang dipakainya.

"Wine?" tawar pelayan yang membawa nampan berisi wine pada mereka berdua.

Gibran mengambil dua gelas dan menyerahkan satu gelas pada Elsya yang langsung disambut oleh gadis itu. Dua jam mereka menikmati acara yang berlangsung dan entah sudah berapa gelas wine yang sudah mereka minum.

Saat gelas terakhir yang Elsya minum, Gibran langsung tersenyum senang.

Kita lihat sayang, sampai mana kamu masih keukeuh untuk bersama Derry.

"Acaranya masih lama?" Tanya Elsya.

"Mungkin sebentar lagi selesai. Kenapa?"

Elsya menggeleng. "Saya agak pusing." Jawabnya.

Gibran bersorak dalam hati.

"Mau saya anter pulang sekarang?" Tawarnya.

"Beneran nggak apa-apa? Acaranya belum selesai."

Bukannya membalas ucapan Elsya, Gibran beranjak dari kursinya dan menarik Elsya keluar dari ballroom hotel. Tepat ketika mereka keluar dari ballroom, tubuh Elsya langsung tumbang seketika. Gibran dengan sigap meraih tubuh Elsya dan menggendongnya menuju lift. Ia kemudian memencet lantai 15, hingga kotak besi itu membawanya ke lantai 15.

Dengan tangan yang udah mulai pegal, Gibran membenarkan letak tubuh Elsya dan berjalan menuju kamar yang ia pesan. Sesampainya didepan kamar, ia memencet bell kamar tersebut dengam susah payah. Tidak lama kemudian pintu kamar tersebut dibuka dari dalam.

Gibran langsung masuk kedalam kamar dan meletakkan Elsya diatas ranjang berukuran king size.

"Rencana pertama selesai, kita lanjutin rencana kedua." Ujar Gibran pada orang-orang yang menunggunya dari tadi.

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!