12 ¦ Bukan Waktunya Untuk Main-main

5.1K 695 41

"Kenapa jadi ke rumah kamu?" Tanya Shinta ketika mobil Derry memasuki kompleks perumahannya.

Shinta tahu jika ini kompleks rumah Derry karena waktu itu, ia pernah mengantar berkas pekerjaan yang diutus oleh Pak Dimas ke rumah Derry. Namun bukannya menjawab pertanyaan Shinta, Derry malah memarkir mobilnya dihalaman rumah. Butuh perjuangan untuk Derry membawa Shinta keluar dari rumah. Ia sengaja berbohong pada Shinta jika ia mengajaknya ke Jakarta untuk menemui Erga dan Farhan.

"Yuk turun," ajak Derry sambil melepas seatbelt.

"Kamu gila ya? Ngajak aku ke rumah kamu?" Shinta menaikkan nada suaranya.

Derry menatap Shinta. "Aku mau ngenalin kamu dan Orlen ke Mami sama Papi. Dimana letak gila-nya?"

Shinta berdecak kesal. "Tapi aku nggak suka ya, kamu bohong sama aku." Omelnya.

"Kalau kamu nggak dibohongin gini, mau sampai kapan aku bohongin Mami? Sincostan, aku nggak mau nambah dosa banyak-banyak. Dosa aku mungkin kalo digambar udah segede naga-nagaan di sinetron."

Shinta terdiam, walaupun sebenarnya ia ingin tertawa ketika Derry bilang kalau dosa-nya segede naga-nagaan di sinetron. Ini cowok lagi serius, tapi kadang mulutnya suka nyeletuk yang aneh-aneh.

Derry meraih tangan Shinta dan mengenggamnya. "Please, ini bukan waktunya untuk main-main lagi. Aku udah nggak bisa ngikutin kemauan kamu untuk nggak maksa kamu menikah sama aku, Sincostan."

"Tapi Mas,"

"Nggak ada tapi-tapian. Turun sekarang, atau kamu aku kunciin didalem mobil." 

Akhirnya, mereka berdua turun dari mobil. Jantung Shinta udah berdetak tidak karuan ketika Derry membuka pintu rumahnya. Sumpah demi Tuhan, ia bahkan tidak mempunyai persiapan apa-apa untul bertemu dengan orangtua Derry.

"Lho Derry, kamu bawa siapa?" Tanya Sasa yang sedang turun dari tangga saat melihat Derry yang menggendong Orlen dan satu tangannya menggandeng Shinta.

Mendengar suara anggun Sasa, refleks membuat Shinta mengencangkan gengaman tangannya pada Derry yang langsung dibalas dengan usapan jempol Derry pada punggung tangan Shinta untuk menenangkan cewek itu.

"Papi udah pulang, Mi? Ini Mami mau pergi sama Papi?"

Sasa mengangguk. "Udah, ada dibelakang. Lagi kasih makan ikan, habis ini Mami mau arisan sama Papi." Jawabnya. "Kamu belum jawab pertanyaan Mami loh," sambungnya.

Shinta yang sedari tadi menunduk, akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Sasa.

"Sore Tante, saya Shinta." Sapa Shinta lalu menghampiri Sasa untuk bersalaman.

Sasa yang kebingungan hanya bisa membalas senyuman Shinta, kemudian menatap Derry dengan tatapan bertanya.

"Mi, Derry minta maaf sebelumnya ya." Ucap Derry.

"Ini ada apasih Der? Mami nggak ngerti ah, bingung." Ujar Sasa. "Papi, masuk deh Pi sini."

Tidak lama kemudian, Redy masuk kedalam ruang tengah dan sama bingungnya ketika melihat Derry.

"Ada tamu Mi?" Tanya Redy.

"Tanya sama anak kamu aja lah, Mami juga bingung."

Redy akhirnya memerintahkan mereka untuk duduk disofa. "Ini ada apa sih, Der? Coba jelasin ke Papi sama Mami."

Derry menyerahkan Orlen pada Shinta. Ia kemudian tersenyum menatap Mami dan Papi-nya.

"Sebenernya, Derry bawa Shinta dan Orlen karena mau ngenalin ke Mami dan Papi. Shinta hamil anak Derry, dari awal sebetulnya Derry udah mau bilang ke Mami sama Papi. Dan sekarang, anak Derry udah lahir Mi." Jelas Derry.

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!