6. Bertemu, lagi?

14 8 4
                                        

Happy reading...

---

Cintaku padamu akan utuh sampai kapanpun, karena aku bukan seperti sebuah bangunan yang akan habis termakan oleh ribuan rayap...

---

Taman. Tidak bosan-bosannya Nadhia datang ke taman. Nadhia suka taman. Bahkan taman kecil yang dibuat oleh seorang arsitek yang merancang rumah barunya, menambah kecintaannya terhadap taman.

Tapi, kali ini sedikit berbeda. Nadhia sudah berada di taman dekat dengan rumah barunya. Nadhia masih merasa asing dengan taman tersebut. Nadhia belum begitu mengenal tetangga-tetangga barunya, bahkan belum satu pun ia ngenal tetangganya.

"Nad, kita ngapain sih ke taman sore-sore gini? dirumah lo 'kan ada taman juga." keluh Nadin yang tak suka tempat ramai.

Siang ini, taman dekat rumah baru Nadhia cukup ramai. Banyak anak-anak yang sedang bermain. Pemandangan seperti inilah yang sangat Nadhia suka.

Nadhia menarik nafasnya panjang, "Kenapa sih, Din? Disini rame, enak tau. Lagian, 'kan, gue baru pindah beberapa minggu yang lalu, jadi gue belum kenal tetangga-tetangga gue. Gue ajak lo keluar, biar sekalian bisa kenal sama orang-orang disini. Sekali-sekali keluar dari tempat persembunyian gak masalah, 'kan?" goda Nadhia.

"Hah? tempat persembunyian? lo kira kita buronan kali!" ucap Nadin sebal.

Nadhia tertawa, Nadin memang tidak begitu suka taman. Karena, bagi Nadin taman adalah tempat yang selalu ramai. Nadin membenci keramaian, keramaian hanya membuat kepala nya pusing.

"By the way, rumahnya Bintang di daerah sini loh, Din." bisik Nadhia.

Nadin membulatkan matanya, "Wah, parah. Kemampuan nge-stalking lo melebihi intel, Nad."

Nadhia terkekeh mendengar perkataan Nadin, mereka melanjutkan jalannya sampai berjumpa pada kursi di dekat air mancur. Seketika terdengar suara ringtaun suara handphone Nadin.

Nadin mengangkat telponnya, "Halo? ada apa, Bun?" tanya Nadin.

Nadhia diam mendengarkan Nadin yang sedang telponan bersama Bundanya.

"Ayah pingsan, di persidangan?"

"Iya, Nadin ke rumah sakit sekarang."

Nadhia terkejut mendengar pembicaraan Nadin. Tak lama, Nadin memutuskan telponnya, "Nad, anterin gue ke rumah sakit, Nad." Nadin menangis.

Nadhia mengerti, ia segera telpon Pak Yahya untuk menjemputnya di taman dan bergegas ke rumah sakit. Di perjalanan, Nadin terus menangis, ia sangat takut Ayahnya terjadi apa-apa.

"Din, yang sabar, ya. Lu harus kuat, gue yakin lu bisa ngelalui ini semua. Gue selalu ada disini. Disamping lu." Nadhia terus memegangi tangan Nadin.

Nadin mengangguk, ia menghapus air matanya. Hubungan Nadin dengan sang Ayah, sangatlah dekat. Sehingga, Nadin sangat menyayangi Ayahnya. Ia percaya, perceraian Ayah dan Bundanya adalah sebuah kesalahan yang mereka lakukan.

Tapi bagaimana pun juga, perceraian ini adalah pilihan kedua orang tuanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Nadin harus menerimanya. Meskipun nantinya ia harus memilih untuk ikut Ayah atau Bundanya, tapi yang pasti, apapun yang Nadin pilih adalah hal yang terbaik.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Four Month [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang