1. Seorang Pengembara

21 1 0
                                                  


"hey.. Chepa, Rika. Cepat bangun kita akan melanjutkan perjalanan kita" ucap Adam yang begitu antusias

Aku adalah Adam, seorang pengembara berumur 19 tahun. Aku bersama dengan kakakku Rika dan pamanku Chepa menjadi seorang pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat untuk menjajakan barang dagangan kami ke tempat yang akan kami datangi. Barang yang kami jual adalah barang antik yang tidak sembarangan orang dapat memilikinya.

Di antara kami bertiga sepertinya yang paling antusias hanyalah aku, aku selalu ingin mengunjungi tempat yang tak pernah ku datangi, karena di setiap tempat memiliki suasana khas tersendiri atau adat istiadat mereka yang begitu unik dan juga budaya yang berbeda-beda. itulah yang membuatku sangat tertarik akan perjalanan ini, tetapi entah dengan mereka berdua, sepertinya mereka berdua tidak begitu menyukai berpetualang seperti ini, mereka juga sering kali membuat alasan yang tak masuk akal agar dapat lebih lama di suatu tempat.

Kami memiliki 2 kuda, yang satu bernama Kabo dan Boka. Walaupun mereka sebenarnya bukan saudara sedarah atau terlahir dari Rahim yang sama. Kami memberi nama Kabo dan Boka agar mereka terlihat seperti saudara, padahal tidak sama sekali. Kedua kuda ini pun sepertinya tidak menyukai nama yang diberikan oleh Adam, hanya keterpaksaan dan sesekali ia meringis, menampakkan giginya dan suara khas seekor kuda didepan wajahku disaat aku menatapnya dan memanggil nama mereka, Kabo dan Boka. Jelas mereka tidak menyukai nama yang diberikan olehnya, mungkin, siapa juga yang tahu akan hal itu.

Sudah sejak lama kami menjadi pengembara dan juga berdagang, entah sudah berapa lama kami melakukan perjalanan panjang ini dan mulai dari mana, sejak awal aku tak pernah mempertanyakan pekerjaan ini lagi, karena sekarang aku sudah begitu mencintai pekerjaan ini, pergi kesuatu tempat baru di dunia Gayatri ini, melihat berbagai Ras dan sesekali berkenalan dan mendengar beberapa kisah luar biasa yang ia ceritakan. Di saat mendengar seseorang menceritakan kisahnya, seolah-olah dunia tempat yang ku tinggali ini semakin besar dan sudut pandangku tentang dunia ini semakin meluas.

Aku dan Rika tidak mengetahui apapun tentang siapa kami sebenarnya, kami ini Ras apa dan di manakah kami di lahirkan, kami tidak mengetahuinya bahkan paman Chepa pun tak mengetahuinya. Paman Chepa berbeda dengan kami berdua, dia dari Ras Lizard seorang penyelam yang handal dan ras pembuat tameng terbaik di dunia ini, sesekali Chepa juga menjadi tukang perbaikan peralatan berburu, seperti pedang, tombak, tameng bahkan busur.

Tentang kami berdua masih menjadi misteri yang tidak bisa ku beritahukan, karena aku pun tidak mengetahuinya. Rika unggul dalam berbagai hal, ia pandai memasak dan sepertinya semua pekerjaan yang menyangkut rumah tangga, ia jagonya. Ia dapat mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia kakak yang hebat, sedangkan aku tidak dapat melakukan apapun. Rika dapat membuat api yang sangat besar bahkan sering kali membantu Chepa untuk melunakkan besi atau mencairkan besi atau bahan dasar membuat perlengkapan persenjataan. Sedangkan yang dapat ku lakukan hanyalah membaca buku di setiap tempat yang akan kita datangi di kemudian hari dan hanya berpedang saja yang bisa ku lakukan, yang lainnya nihil, aku tak berguna. Serta sering kali juga membuat percobaan untuk memperkuat diriku, agar aku sedikit setara dengan kakakku, namun seharusnya kekuatan Api yang ada dalam diriku seharusnya sudah muncul, tetapi di umurku yang sudah mencapai 19 tahun, sama sekali tak ada kemajuan sedikitpun. Aku hanya bisa membuat asap kecil, sungguh tak berguna.

"ayo bangun, aku sudah memberi Kabo dan Boka makanan. Kita sudah siap berangkat" ungkapku kepada mereka berdua yang terlihat begitu kelelahan. Tertidur di bawah pohon rindang dengan selimut tipis serta bantal yang terlihat lusuh.

Urusan beberes saat sebelum berangkat adalah tanggung jawabku, aku paham dengan kelelahan mereka dan sering kali banyak hal yang tak di inginkan terjadi. Mereka bagaikan keluargaku yang sesungguhnya, walaupun saat ini mereka terus menganggap bahwa aku sama sekali belum dewasa di umurku yang seharusnya sudah menginjak usia cukup dewasa.

"apa tidak apa-apa aku yang akan memandu jalan. Hehehe"

Setelah mendengar itu, seolah-olah nyawa yang susah payah mereka kumpulkan agar dapat melaksanakan aktivitas hari ini, aku paksa mereka agar langsung terisi 100% pada saat itu juga. Karena dari kejadian sebelumnya, jika aku yang menjadi pemandu jalan pasti hal buruk akan terjadi, melewati pinggiran jurang, ketempat bersejarah yang begitu berbahaya dan menjadi incaran para makhluk buas. Jadi terlihat dari expresi mereka yang matanya melotot hingga hampir keluar, terlihat jelas bahwa mereka tak ingin kejadian itu terulang kembali. Namun di sana lah titik dan point penting dari petualangan kami, walaupun hanya aku yang beranggapan seperti itu.

Kami pun berangkat, kereta kuda kami sudah siap dan semua persiapan sudah terpenuhi. "kita akan berangkat kemana..?" ucapku dengan mata yang berbintang-bintang. Karena sudah 4 hari kami berjalan dan belum menemukan kota atau desa agar kami bisa berjualan.

"kita akan ke desa terdekat dari sini" ucap Chepa sambil mengendarai kuda.

"berapa lama lagi kita akan tiba..?"

Matahari pagi memancarkan kilauannya, tepat pengenai kami semua yang menyaksikan saat itu terjadi. "lihatlah, kita akan tiba sebentar lagi" ucap Rika sambil menutupi sinar matahari menggunakan tangan kirinya.

"wah iya. Itu desanya"

Terlihat salah satu bangunan tertinggi di desa itu, sebuah kincir angin yang cukup besar hingga terlihat dari kejauhan tempat kami melihat dari sini.

Sebenarnya sering kali aku ingin bertanya akan banyak hal seperti, masa laluku, apa yang terjadi dengan kami sebelum menjadi pengembara, siapa orang tua kami ataupun sering kali seperti ada seseorang yang berbisik di telingaku padahal tidak ada orang lain di sekitarku dan sering kali aku bermimpi sesuatu yang aneh. Itu tentang Ras manusia dan seekor naga hitam. Namun di saat melihat tanggapan mereka untuk pertama kalinya, terlihat jelas ia menyembunyikan kebenaran yang selama ini ku pertanyakan, dan sejak saat itu, aku mulai menerima semua apa adanya. mereka berdua adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki, tak mungkin mereka menyembunyikan kebenaran itu tanpa suatu alasan yang dapat di terima oleh nalarku.

HighfellsWhere stories live. Discover now