Kami Menyebutnya "Ceri"

73 2 0

Instagram,  22 Desember 2017

"Selamat Hari Ibu, bla bla bla kutipan bla bla bla kata mutiara."
Hari ini memang banyak anak-anak, muda hingga dewasa semua mendadak mendeklarasikan diri sebagai anak berbakti, bijak dalam ber-caption, mengingatkan kita kepada jasa dan peran wanita hebat yang telah melahirkannya, sejalan dengan sabda nabi tentang siapa yang harus dihormati "Ibumu, ibumu, ibumu."

Sebenarnya aku malas menuang hal yang ku anggap kering, parahnya (meski tidak semua) aku menganggap mereka yang mem-posting #hariibu hanya latah tanpa tahu sejarah, bahkan ku vonis dengan cap acting.

Bagaimanapun aku sadar diri, timbangan durhakaku jauh lebih berat dari massa berbakti,wajar jika aku menilai semua menggunakan standard yang sama : halah... gimmick thok !.

Tapi,tenang. Aku tetap berusaha berbakti kepada orangtua, meski maksud (yang kita rasa) baik belum tentu (direspon dengan) benar ya.

***

Sore tadi, aku melihat snapgram @zaky_zr,
Aktor film Tausiyah Cinta,  yang juga penulis.   Berjalan dua hari aktivis KAMMI yang satu ini selalu memberikan stories berfaedah, tentang hari ibu misalnya.

Dia memberikan wawasan baru buatku tentang hari ibu, bahwa hanya sehari dalam setahun, satu waktu, bukanlah bentuk muslim untuk menunjukkan bakti terhadap sosok ibu. Setiap detik, kalau memungkinkan ya berbaktilah kepada ibu. Begitu.

Satu lagi, salah paham sejarah yang terlanjur melatah. Ternyata, Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu bertujuan untuk mengenang jasa-pengorbanan para pejuang wanita menuju merdeka, bertepatan dengan Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang dilaksanakan pada tahun 1928 silam.

Duh, piye cah, mayoritas netizen terlanjur memahami bahwa hari ibu (Indonesia) adalah hari semisal valentine, yang ditunjukkan dengan sayang dan bakti khusus ke ibu. Padahal jelas, latarbelakang penetapan Hari Ibu adalah jiwa patriotik, dominan ke perjuangan bukan kasihsayang.

Jelasnya, fenomena ini mengingatkanku ke sejenis buah (Muntingia calabura L) yang bernasip mirip.

Ini terjadi sekitar satu dasawarsa lalu, mungkin lebih. Yang ku ingat saat itu celana pendek merah masih kupakai sebagai seragam kebanggaan setelah pindah lembaga pendidikan.

Kami (aku dan teman-teman) biasa memetik buah ini siang hari, atau jam-jam sore sebelum mengadu lutut kami  dengan bola plastik di lapangan, hujan-badaipun jika sudah terlanjur asik berhadapan akan kami terjang (bohong).

Buah ini biasanya tumbuh liar di jalan, tapi ada juga beberapa pemilik pekarangan rumah yang berbaik hati mengizinkannya tumbuh-berkembang.

Bagi kami, ini adalah bahan panjatan, sasaran setelah lonceng sekolah terdengar dari kejauhan. Kami biasa menyebutnya dengan Ceri, dan nama ini terus kujadikan acuan hingga aku tahu bahwa ada yang lebih pantas menyandang nama ceri selain buah ini.

Ceri yang biasa kami makan dulu adalah Muntingia calabura, yang lebih dikenal dengan talok. Sementara ceri yang baru kukenal adalah prunus Avium, Cherry sejati yang ada kue-kue home industry .

Ya, bagiku hari yang dirayakan pada tanggal 22 Desember bernasib sama, seperti  buah ceri, Nama yang Tertukar. Kesalahan dari awal kenapa tidak menamainya dengan Hari Wanita ? Eh, alhamdulillah setidaknya bukan teks proklamasi yang salah.

23.27
Kenari, Dec 22 2017.

Dalam keadaan mata mulai salah

Secangkir Kopi : Tentang Kau, Mimpi, dan InspirasiBaca cerita ini secara GRATIS!