CH 2 [A Cat.]

119 7 4

I bissori ga ni moksorinji.

Nal buruneun sorinji.

Naman neol saenggakhani.

I biga nareul wirohaejulkka.

Ireon nae mameul alkka.

Jakku niga saenggakna.

JEGER!

Hujan.

Saat aku mendengarkan lagu rain sound oleh B.A.P.

Ajaib.

Untung saja lapangan basket ini indoor. Kalau nggak aku bisa basah kuyup.

"Kyungri-ya, hujan ya?" Tanya Minhyun yang menghampiriku.

"Yap. Kau sudah selesai latihan?"

"Sudah. Nanti Haesung ikut pulang bareng?" Ucapnya sambil membereskan barang-barangnya.

"Ne, tapi dia ke mana?"

"Mollayo. Oh iya. Ini banana milk punyamu. Aku lupa ngasih."

"Ah, gomawo. Yang kalah taruhan. Hehehe." Ledekku.

"Kau ini."

"Kalian..dari..mana..saja?"

Haesung muncul dari balik pintu. Kedinginan dan terengah-engah, tapi nggak kehujanan.

"Kami dari tadi di sini dan biasanya juga di sini, kau nyari kemana?" Ucapku sambil meminjamkan jaketku untuk Haesung.

"Hmm..kantin, perpustakaan, ruang musik, lab, terus.."

"Eh? Hujannya mereda."

"Hujannya cepet banget. Hujan macam apa ini." Gerutu Haesung.

"Ya sudah, mendingan kita pulang sebelum hujan lagi." Saran Minhyun.

[][][][][][][]

"Waah! Sampai juga, kakiku pegel juga jalan terus." Keluh Haesung.

"Rumahmu besar ya." Puji Haesung yang ke 20 kalinya.

"Udah sering ke sini masih aja ngomong ru-mah-mu-be-sar-ya. Lagipula masih bagusan rumahmu." Balasku sambil merogoh tasku mencari kunci rumah.

"Habisnya setiap kali aku kesini, aku lupa rumahmu kayak apa. Kalau kau suka rumahku, mau nggak tukeran rumah?"

Anak ini.

"Eh? Kok ada pot pecah?" Celetuk Haesung.

"Hah? Mana?"

"Itu.."

Ada anak kucing yang muncul dari balik pot pecah itu. Kucing itu mengenakan collar berwarna baby blue. Sepertinya dia punya pemilik. Tapi...siapa?

"Ku..ku.ku..KUCING!!!"

Ah. Aku lupa.

Haesung takut kucing.

Gawat.

"Ah! Eommaa! Dowajuseyooo!"

"Aish! Shikkeuro!"

Kucing itu hanya melihat kami berdua dengan mata yang berbinar-binar. Ia tidak terlihat takut sedikitpun. Ditambah lagi kakinya terluka. Dengan perlahan aku menggendongnya ke dalam rumah.

"Ya! Pororo da!" Suara bernyanyi seseorang terdengar dari ruang tamu.

Hah? Itu siapa? Setahuku nggak ada anak kecil yang suka pororo di sini.

My MemoriesBaca cerita ini secara GRATIS!