Bab ini hawt, siapin kipas ya ;)

Oya, part ini aku dedikasikan buat @NurLaela8 yang udah kasih vote di part 3b pertama kali, thanks yaa :-*

Lima belas hari ini aku benar-benar merasa seperti mayat hidup, menjalani aktifitas tanpa hati. Satu bulan yang lalu aku baik-baik saja, dan sekarang ... tidak bertemu Tobias membuatku sangat kacau. Aku tidak bisa mempercayai ini. Pria muda itu bisa mempengaruhiku dengan sangat cepat, meski dengan benteng yang sudah kubangun selama tujuh tahun.

"Em, dipanggil Bos!" seru Andrew salah satu rekan kerjaku.

Aku mengerang lelah. "Ada apa lagi?" desahku. Sudah kelima kali ini dia memanggilku.

"Kulihat dia sangat ingin memakanmu," cengir Andrew.

Aku membungkam Andrew dengan lirikan yang mematikan, berdiri dari kursiku sambil meraih sebuah stopmap dan segera menuju ruang kerja atasanku.

Baxter tua yang biasanya memiliki wajah ramah kini tampak masam saat aku melongokkan kepala di pintu ruang kerjanya yang terbuka. Aku mengetuk pintunya pelan meski dia sudah melihatku.

"Kau memanggilku, Bos?" tanyaku santai.

"Masuklah, Emily!" serunya pelan.

Aku melangkah mendekatinya.

"Duduklah," katanya lagi yang langsung kuturuti.

"Ada masalah, Bos?"

Baxter menekuk wajahnya, itu membuatku yakin aku dalam masalah besar. Baxter jarang sekali marah, jika dia marah pasti ada permasalahan yang serius.

"Apa ini masih soal yang kita bahas tadi?" tanyaku hati-hati. Aku membuat banyak kesalahan pada proposal tayangan untuk minggu depan yang kuajukan kemarin. Sebenarnya Baxter sudah memintaku untuk memperbaikinya, hingga empat kali. Dan kupikir aku sudah membereskan semua kesalahanku.

"Aku menolak proposalmu, Emily," ujar Baxter tegas.

Ini di luar dugaanku.

"Oh, ayolah Bobbie," keluhku menyebut nama depannya, "kau tidak mungkin menolaknya, aku mengerjakan proposal itu berhari-hari," sambungku dengan wajah memelas.

"Aku harus menolaknya, FOX sudah menayangkan tema yang kau ajukan sore ini," jelasnya masam.

Aku melotot. "Tidak mungkin...," gumamku.

"Tapi itulah yang terjadi," tegas Baxter. Dia menekan remot dan layar monitor besar yang menempel di salah satu sisi dinding kantornya menyala, memutar acara dari stasiun televisi yang menjadi saingan kami.

"Mereka meniru ideku!" seruku kesal.

"Tidak bisa dibilang meniru, Em, karena mereka menayangkannya lebih dulu dari kita."

Aku mengerang membenarkan.

"Kesamaan ide merupakan hal yang lumrah," lanjut Baxter. "Kau harus bekerja lebih keras, Em. Kerjakan lagi proposalmu dan carilah ide yang original!"

Ideku selalu original, aku tidak mengerti kenapa FOX bisa mendapatkan ide yang sama persis dengan ideku padahal sebelumnya kami selalu jadi yang pertama.

"Okay, Bos," sahutku lemah, aku tidak punya pilihan selain mengerjakan perintahnya.

"O,ya. Satu lagi, Em."

"Ya, Bos?"

"Kamu terlihat kacau akhir-akhir ini, apa pun masalahmu aku harap kamu bisa segera menyelesaikannya karena itu berpengaruh pada kualitas pekerjaanmu."

Young SummerRead this story for FREE!