Walau aku curiga yang baca Young Summer cuma Bebeb @ErnaL_Dewi (haha),tapi aku tetep semangat update nya. Soale mau update Unforgiven votenya belum memenuhi syarat update XD.
Kalo ada yang baca cerita ini selain Bebeb Erna, tinggalin jejak doong. Biar part selanjutnya bisa kudedikasikan buat kalian :D

Beberapa hari ini aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Sebenarnya berusaha tidak mengingat-ingat kalau aku sudah mengencani pria yang usianya sembilan tahun lebih muda dariku. Kuabaikan panggilan dan pesan-pesan yang dikirim Tobias. Aku ingin menjauh darinya, melupakan dia kalau bisa. Hubungan kami tidak akan berhasil, aku yakin itu.

Aku mematikan laptop dan pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Selesai menyikat gigi aku menatap cermin, melihat seorang wanita dewasa dengan rambut blonde yang tergelung asal, mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek. Sorot matanya memancarkan rasa sepi. Yah ... aku kesepian. Aku memiliki banyak teman, tentu saja. Tapi tidak pernah berhasil memiliki sahabat, aku pikir aku tidak butuh itu. Aku mandiri. Kuat. Dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hidupku baik-baik saja sampai saat sebelum bertemu Tobias.

Aku menajamkan pendengaran ketika mendengar suara dari luar apartemen. Seseorang mengetuk pintu. Apa itu Eli? Kadang dia datang untuk menginap. Bergegas mencuci muka dan mengelapnya dengan handuk, aku lalu keluar.

Ketukan terdengar semakin keras, aku melangkah cepat mendekati pintu. "Iya, iya ... sebentar! Apa kau tidak bisa menunggu?" seruku sambil membuka pintu dan kemudian tertegun.

Dia di sini. Terlihat sangat kacau.

"Kau mengabaikan aku, Emily. Bagaimana bisa?" tanyanya dengan suara parau.

"Tobias ... kau mabuk?"

"Tidak, tidak. Aku tidak menyentuh alkohol sama sekali hari ini." Tobias menggeleng-geleng. Tapi dari gerakan tubuhnya yang sempoyongan dan aroma bir yang kucium, aku tahu dia berbohong.

"Aku akan mengantarmu pulang," kataku datar, bersiap menutup pintu. Tapi Tobias meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.

"Ayolah, Emily.... Aku tidak ingin kau menjauh," pintanya dengan nada memohon.

Aku menghela napas. "Ini tidak akan berhasil, Tobias. Aku terlalu tua untukmu."

"Itu bukan masalah, Aku tidak sedang mengencani angka," sahutnya cepat.

Aku diam, menatap pria di depanku dan tiba-tiba merasa sangat lelah. "Please...," bisikku putus asa.

"Emily ... Emily-ku." Tobias merengkuh kepalaku dan meletakkannya di dadanya. "Kau ditakdirkan jadi milikku, Em ... aku tahu sejak pertama melihatmu."

"Tobias, kau mabuk," gumamku serak, mengangkat kepalaku dari dadanya dan mendorong pria itu menjauh.

"I'm not fucking drunk!" teriak Tobias gusar. "Ya, aku minum, tapi aku tidak mabuk, Emily," sambungnya memelankan suaranya. "Jangan menjauh, Em ... please."

Aku menggeleng. "Aku tidak bisa, Tobias. Aku tidak bisa...."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mungkin mengencani anak-anak!" Kali ini aku yang berteriak, gusar dan marah. Marah pada keadaan yang sudah menyiksaku seperti ini.

Tobias menatapku dengan sorot mata terluka. "Aku bukan anak-anak," desisnya dengan rahang yang mengetat. "Kau sangat tahu itu," gumamnya melanjutkan. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku.

Aku melihat punggungnya menjauh dengan dada yang terasa sesak, segera menutup pintu untuk mencegah keinginan memanggilnya.

*****

"Kau membuatnya gila, Em." Eli yang baru datang berkata sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa, duduk di sampingku.

Aku tidak mengindahkan dia, terus melihat acara TV yang sedang kutonton.

"Tobias mungkin bisa bercinta, tapi dia sama sekali tidak berpengalaman soal hati dan cinta."

Aku melirik Eli sebal. "Apakah kau tidak bisa sedikit bersimpati dengan masalah sepupumu, Elian Gale?" sarkasku menyebut nama lengkapnya. "Kau pikir aku tidak gila?"

"Apa masalahmu, Em?"

Aku meletakkan remot ke atas meja dan menyerongkan tubuh agar bisa menghadap sepupu tampanku yang menyebalkan.

"Menurutmu apa? Memikirkan sudah mengencani pria yang sembilan tahun lebih muda dariku saja sudah membuatku ingin mengubur diri sendiri."

"Itu tidak seburuk yang kau pikirkan, usia bukanlah masalah."

"Lalu kenapa kau memintaku menanyakan umur Tobias? Kenapa kau tidak membiarkan saja hingga aku tidak perlu tahu kebenarannya?"

"Dan membiarkan kau menjalani hubungan dengan ketidaktahuanmu?"

Aku terdiam.

"Aku tahu Tobias tidak akan mengatakannya jika kamu tidak bertanya, Em. Karena itulah aku memintamu untuk menanyakannya, agar jika kau keberatan dengan itu dan meninggalkan Tobias, dia tidak akan terlalu terluka karena belum terlalu jauh mengharapkanmu."

Aku memicingkan mata ke arah Eli, berkata dengan sedikit gusar, "Sebenarnya yang sepupumu itu aku atau dia? Kenapa kelihatannya kau lebih mengkhawatirkan Tobias daripada aku?"

Eli melihat ke arahku, memamerkan senyuman lebarnya. "Karena aku sangat mengenalmu, kau tidak membutuhkan siapa-siapa untuk bersimpati padamu."

Benarkah?

Bahkan Eli menganggapku sekuat itu. Pada kenyataannya, dengan menjauh dari Tobias, aku sangat tersiksa.

Young SummerRead this story for FREE!