Boys Meet Evil

6.5K 557 70
                                    

Kata Victorys, Kim Taehyung mempunyai aura yang mampu menghantarkan kebahagiaan pada setiap orang yang mengenalnya.
Senyum Taehyung sanggup menyuplai semangat untuk mereka yang mengaguminya.

Kim Yoongi tak menampik fakta itu. Pemuda albino itu mengakui bahwa Kim Taehyung bisa mengajarkannya tentang arti perjuangan.

Taehyung tak pernah membiarkan sisi rapuhnya terkuak, sekalipun di hadapannya. Ia selalu menyamarkannya dengan senyuman dan tingkah konyolnya.

"Bisakah kau memakan ramyeon-mu dengan benar, Kim Taehyung?"

Contohnya seperti sekarang. Kedua pemuda yang usianya terpaut dua tahun itu sedang makan siang di apartemen. Taehyung memakan mie berkuah itu sambil mendongak dengan sumpit terangkat ke atas. Senyum kotak khas milik Taehyung terbit saat mendapati sang kakak memelototinya dengan wajah garang.

"I'm sorry, Hyung. Aku kan hanya terlalu bahagia bisa kembali makan ramyeon."

Semenjak Taehyung menjadi seorang idol, agensi yang menaunginya membatasi pola makannya. Makanan instan memang sangat diharamkan bagi seorang idol. Semua agensi pun pasti membenarkan fakta itu.

Yoongi tersenyum maklum. Pemuda itu mengusak rambut silver sang adik. Ia teringat saat Taehyung menjadi seorang rookie, adiknya nekat melakukan diet ketat untuk membentuk ABS.
Belum lagi jadwal latihan gila-gilaan yang diterapkan Taehyung.

"Ini ramyeon terakhir untukmu, Tae. Kalau bukan kau yang memohon padaku, aku tak akan membiarkanmu memakan makanan instan."

Taehyung mengangguk antusias. Pemuda itu kembali menikmati makan siangnya dengan khidmat. Sang kakak hanya menatap dalam diam.

'Kau hebat, Tae! Kapan kau mau membuka topengmu?'

Yoongi tersenyum sendu. Tanpa Taehyung sadari pun, Yoongi sudah tahu segalanya. Ia sering mendapati sang adik menangis seorang diri di kamar mandi.
Taehyung yang selalu mengadu tentang beban hidupnya pada Tuhan.

'Aku lelah, Tuhan. Rasa cinta mereka yang diberikan untukku adalah beban. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku ingin istirahat!'

Ingin rasanya Yoongi menggantikan adiknya untuk menanggung tanggung jawab itu, namun ia tak mampu. Yoongi tak bisa melakukan apa pun, selain memanjatkan untaian doa untuk sang adik.

"Hyung? Kau melamun?"

Yoongi tersentak. Didapatinya sang adik yang sedang melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya.

Yoongi menggeleng. "Ani! Aku tak melamun."

"Ah ... masa? Aku yakin kau sedang melamunkan seorang yeoja kan?" goda Taehyung.

Senyum jail tercetak di bibirnya. Ia sangat suka membuat sang kakak mati kutu karena godaannya.

Tak!

Yoongi refleks memukul kening Taehyung dengan sumpit di tangannya. Si empunya pun memekik saat sensasi ngilu menyambangi kening mulusnya.

"Kau tega memukulku, Hyung? Bagaimana kalau keningku benjol, Hyung? Victorys pasti akan khawatir."

Yoongi mendengus geli. "Jangan berlebihan, Tae. Keningmu tak akan luka hanya dengan sebuah sumpit."

Dan hal yang terjadi setelahnya adalah mereka saling bercanda dengan tawa riang yang menggema. Mereka saling  melempar berbagai ledekan hingga detik yang mereka lewati menjadi sedikit berwarna, melupakan sedikit duka yang menyelimuti keduanya.

***

"Apa Taehyung sunbae sudah datang, Hyung?"

Hoseok menggeleng tak tahu saat Jungkook  melempar pertanyaan padanya. Pemuda itu melirik arloji yang yang bertengger manis di tangannya. Sudah hampir satu jam limabelas menit kedua pemuda berparas tampan itu menunggu kehadiran Taehyung dan Yoongi, namun keduanya hingga kini belum menampakkan batang hidungnya.

Without Word (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang