Part ini aku dedikasikan untuk @ErnaL_Dewi yang udah ngebom komen di bab 1. Thanks, Dear :-*

"Jadi sekarang kau dekat dengan Tobias?" tanya Eli sambil lalu sementara tangannya asyik memindah-mindah channel televisi. Itu dua minggu setelah pertemuanku dengan Tobias.

Aku membuka microwave dan mengeluarkan sewadah popcorn dari dalamnya, membawa ke sofa tempat Eli duduk. "Aku tidak tahu," gumamku.

"Jangan main-main dengannya, Emily. Dia pemula, pasti menderita jika kau mencampakkannya."

Aku meraup segenggam popcorn dan melemparkannya ke arah Eli. "Hey, aku yang wanita di sini."

"Tapi kau jauh lebih pengalaman dibanding Tobias," gumam Eli seolah tidak peduli dengan perasaan lembut 'wanitaku'.

Aku merengut. "Kau bersikap seolah dia anak-anak," sungutku meletakkan wadah popcorn ke sofa dan berlalu dari hadapan Eli.

"Hey, Emily."

Aku mendengarkan tanpa berhenti.

"Kalau sempat, tanyakan pada Tobias berapa umurnya."

"Akan kuingat," sahutku kesal.

"Dan satu lagi...."

Kali ini aku berhenti, memperhatikan Eli dari belakang. Dia sama sekali tidak menoleh.

"Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi Tobias sudah menguntitmu sejak enam bulan yang lalu."

Ucapan Eli membuatku urung meninggalkannya, kembali melangkah mendekati sepupuku itu. "Kau serius?" tanyaku.

"Kau pikir, dari mana dia tahu segalanya tentangmu?"

"Dia bilang kau bercerita banyak tentangku...," gumamku penuh selidik.

Eli tertawa. "Yang benar saja! Apa aku terlihat seperti laki-laki yang senang menggosipkan sepupunya?"

Aku mengangkat bahu. "Siapa tahu," celetukku.

Eli memukulkan remot yang dipegangnya ke kepalaku pelan. "Tentu saja aku tidak seperti itu," gerutunya yang membuatku terkekeh.

"Menurutmu, kenapa Tobias menguntitku?" tanyaku kemudian.

"Tanyakan saja padanya," jawab Eli tak acuh.

Aku merengut. "Apa susahnya cerita!" dengusku kesal.

"Aku tidak tahu, Em. Sudah kubilang aku bukan pria penggosip."

"Jadilah pria penggosip demi sepupumu ini."

Eli melirikku. "Bahkan dengan mata puppy eyes yang kau tunjukkan, jawabanku tetap tidak."

Aku kembali merengut, lalu mencubit pinggang Eli keras sebelum berlalu meninggalkannya. Tanpa menghiraukan jerit kesakitan sepupuku.

****

"Apa itu benar?"

Tobias sama sekali tidak terpengaruh dengan nada garang yang kukeluarkan. Cengiran lebarnya benar-benar membuatku gemas. Kami berada di bengkel tempat dia bekerja saat ini.

"Kau menguntitku sejak enam bulan lalu?"

"Yeah...."

"Dan, apa maksudmu," desisku memicingkan mata.

Tobias mengangkat bahu. "Tentu saja karena kau menarik."

Mataku membola. Aku ingin menggertaknya, tapi melihat sorot matanya yang jenaka aku melemah.

"Tobias, beri tahu aku berapa umurmu?" tanyaku datar berusaha memasang wajah serius.

"Apa itu penting?"

"Tidak terlalu, tapi aku ingin tahu."

Dia terdiam, terlihat khawatir, aku ingin tahu apa penyebabnya.

"Tobias," pintaku lagi.

Pria itu menggaruk kepalanya. "Dua puluh," katanya akhirnya.

"Sungguh?" tanyaku tak percaya.

Tobias mengangguk.

Aku menatap Tobias tak yakin. "Dua puluh tahun?"

"Hey, age is just a number, it is not important thing."

"Aah...." Aku mengerang, aku tahu dia lebih muda dariku, tapi tidak sembilan tahun. "Aku tidak percaya ini. Aku jatuh cinta pada anak-anak? Apa yang salah denganku?" Tanpa menunggu lebih lama, aku bergegas berdiri dan meninggalkan Tobias. Sama sekali tidak menghiraukan panggilannya.

Begitu masuk ke mobil, aku segera menghidupkan mobil dan melajukannya. Melirik kaca spion dan melihat Tobias yang berusaha mengejar.

*****

Young SummerRead this story for FREE!