Chapter 10 : Mengenai Milea

1.2K 70 6

Pukul sepuluh pagi pada hari Jumat, Milea tidak berada di sekolahnya. Sudah selama seminggu ini sekolah mereka libur dikarenakan kesibukan ujian praktik kelas tiga berlangsung. Maka dari itu, pada detik ini, gadis ini sibuk menatap sebuah foto yang menampilkan dirinya dengan seorang cowok di sebuah tempat wahana bermain yang terkenal di Jakarta. Foto itu diambil sekitar satu setengah tahun lalu saat Milea baru saja masuk SMA. 

"Angga, gue kangen."

Pada malam itu, Milea memutar musik dari Aerosmith yang berjudul I Don't Wanna Miss A Thing. Lagu itu selalu mengingatkannya pada cowok bernama Erlangga Ardyanta yang akrab dipanggil Angga atau Aga. Hampir di setiap penghujung minggu, Milea akan menyetel lagu itu dan terdiam. Membiarkan pikirannya mengawang di udara. Mengingat sosok Angga yang selalu berarti untuknya.

'Neng Lea, makan yuk?'

'Gue gak rabies elah! Takut banget sih,'

'Artis, artis apa yang ramah? Adipati Salken! Hehehe,'

'Tiang, tiang apa yang enak? Tiang-tiang minum es!'

'Lea, pulang sama siapa? Mau dijemput gak?'

'Mukanya selo aja dong, jangan goyang!'

'Lea, bikinin nasgor.'

'Le, manggil doang sih."

'Arthasy kesayanganku, bikinin aku minuman dingin dong!'

'Buset dah, cewek apa cowok sih lo? Makannya banyak bener! Tekor gua!'

Semua dialog yang Angga ucapkan kepadanya dan semua kelakuan Angga kepadanya, masih Milea ingat dalam memorinya. Selalu Milea simpan pada pojok ruangan otaknya. Pojok ruangan yang gelap dan hanya ia intip sesekali. Pojok ruangan yang tak dapat disentuh siapapun selain dirinya sendiri.

Arkan P : nad

Arkan P : tbtb gue merasa lo lagi perlu hiburan

Arkan P : perlu hiburan, nad?

Milea tersenyum. Ia menghapus air mata yang sempat mengalir sedikit. Ia mengetikkan sebuah balasan untuk Arkan yang pada intinya, ia mengiyakan pertanyaan Arkan.

Milea Nadina : hmm boleh

Arkan P : siap2 ya kita jalan siang ini

Arkan P : tante lena ada di rumah kan?

Milea Nadina : iya

Setelah tanda read sudah terpampang jelas, Milea langsung beranjak dari kasurnya. Mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian jalan yang santai. Tak lupa Milea membawa hoodie kesayangannya.

*

"Mau cerita?" tawar Arkan di sela-sela aktivitas mengantrinya di loket bioskop.

Milea hanya menggeleng. Ia tersenyum sendu seraya menatap ujung sepatu converse putihnya. Membuat Arkan merasa sedikit tak enak hati. Sejurus kemudian ia menggumamkan sebuah kata maaf yang tentunya ditujukan kepada Milea.

Gadis itu kemudian mengernyit heran. Wajahnya mendongak untuk menatap wajah Arkan karena ia hanya setinggi bahu cowok itu.

"Buat?" tanya Milea dengan tatapan yang tak kunjung terlepas dari Arkan.

"Udah lupain aja. Tujuan gue hari ini kan buat lo seneng. Bukan bikin lo kepikiran lagi."

Milea masih bingung. Tetapi ia memutuskan untuk kembali menatap ke arah depan. Memikirkan maksud Arkan tanpa sadar kalau sekarang perhatian Arkan terpusat pada Milea.

Hujan & SenjaRead this story for FREE!