|01| I Want You, But I Can't

130K 12.1K 2.5K
                                                  

⚫|01| I Want You, But I Can't ⚫

⚫⚫⚫


"Kyaaaaa, Askaaa!!"

"Aska, I love you ...!!"

"Aska, tembak gue dooong!!"

"Aska, selingkuh sama gue dooong!!"

"Aska--"

"HAMILIN GUE DOOONG!! HAMILIN, MAS! HAMILIIIIIN!! AKU RELA KAMU APA-APAIN, MAAASS ...!!"

Seketika sorak sorai yang menyerukan nama Aska menjadi terhenti. Para cewek yang sedari tadi semangat melengking di pinggir lapangan ini, langsung melempar tatapan tajam ke pelaku yang asal nyeletuk itu. Ke pelaku yang suaranya berbeda sendiri dari kaum hawa. Pelaku yang seenak udelnya menimbrung teriakan mereka.

"Apa? Kok ngeliatin gue kayak gitu amat?" tanya Egi dengan watados.

"Iiiih, Egi, apaan sih ...?!"

"Iya nih! Diem gak lo! Ganggu aja!"

Tapi Egi malah menyengir. "Idih sok marah, sok malu-malu kalian pada. Padahal ayo jujuuuur, kalian cuma gak berani aja kan bilang frontal kagak gitu ke Aska. Dasar para cewek gatel!"

Langsung saja ada yang melempar sepatu ke Egi.

Salah satu temannya Aska ini emang kadang bikin sebel! Tidak betah hanya menjadi penonton, dia mulai gangguin para cewek.

Biasanya, dia gak pernah ketinggalan bergabung bersama Aska di tengah lapangan sana. Tapi kali ini gak bisa. Egi gak ikut main basket karena kakinya lagi keseleo. Akibat jatuh dari pohon karena ngintipin anak cewek yang lagi ganti baju beberapa waktu lalu.

Usut punya usut, ternyata Egi gak ngintip sendirian. Melainkan bersama Aska juga! Astaga! Mereka kan jadi maluuu. Kalo tau Aska bakal ikut ngintip, mereka kan bisa milih dalaman terbaik mereka. Eh.

Dan usut punya usutnya lagi, ternyata dua cowok itu bukan asal ngintip! Melainkan sedang berlomba menghitung apa saja warna pakaian dalam yang para cewek kenakan!

Astaga! Aska nakal dech!

Dan f*ck banget buat si Egi! Gatel sih jadi cowok!

Berbeda dengan Egi yang kakinya sampai keseleo, Aska malah baik-baik saja. Dan juga masih bisa ngakak ketika melihat Egi merintih kesakitan.

Oke kembali ke Aska, cowok itu malah sempat-sempatnya melambaikan tangan ke para cewek disertai senyum mempesona andalan. Membuat mereka semakin histeris dan teriakan makin menggila.

Berbeda dengan Agam--partner in crime-nya di SMA Atlanta--yang gak suka, jijik, eneg, risih, dan muak setengah mampus kalau disoraki begitu heboh oleh kaum hawa saat memperebutkan bola, Aska malah sangat menikmatinya.

Bahkan karena meleng melihat para cewek yang cantik-cantik itu, bola yang awalnya ada dikuasanya, direbut sama tim lawan.

Ehm sebenarnya Aska sengaja sih. Dia juga gak begitu serius serius amat bermain di sini. Juga sekaligus memberi kesempatan tim lawan mencetak poin. Tim lawan ... yang nyatanya adalah tim basket sekolah.

Yap. Aska dan teman-teman timnya bukanlah pemain basket sekolah. Tapi walau Aska gak bergabung di ekskul basket, kemampuannya bahkan melebih sang kapten!

Ya abisnya gimana dong. Aska gak suka terikat sih. Dia melakukan sesuatu cuma untuk senang-senang aja. Dan menantang tim basket sekolah bermain di lapangan dengan sorakan yang mengelu-elukan namanya, memang manjur banget ngebuat dia seneng!

"Aska semangaaatt!!"

"Ayo, Aska, rebut lagi bolanya!"

"Ayo, lo pasti bisa, Askaaa!!"

Aska sempatkan mengedipkan sebelah mata ke para cewek dan berseru lantang, "Thanks, my lovely girls!"

Dan lagi. Teriakan para cewek makin menggila.

Di jam istirahat ini, lapangan SMA Harapan Bangsa kembali menjadi ramai karena sang idola nomor wahid yang jadi fokus mereka.

Ya jelaslah. Dibanding nongkrong di kantin, mereka lebih memilih melihat Aska dong. Melihat Aska yang keringetan lari-larian di tengah lapangan. O-em-jiii! Rasanya pengen banget bawa Aska pulang terus disekap di kamar!!

Sebagian besar dari mereka bahkan sudah bersiap-siap untuk menyambut Aska selesai bertanding. Ada yang membawa saputangan, minuman, bahkan sampai kipas angin kecil yang warna-warni itu.

Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba! Pertandingan sudah selesai. Tentu dengan tim Aska sebagai pemenangnya. Penghinaan tak kasat mata lagi untuk tim basket sekolah.

"Askaaaa, sini-sini keringatnya gue elapin!"

"Eh, Aska, mending sama gue aja. Gue kipasiiin!"

"Aska, ini ini minum dulu! Gue sengaja lho buat sendiri dari rumah. Khusus buat lo!"

Sekejap, Aska sudah seperti makanan terbuka yang dikerubungi para lalat.

Cowok itu malah terkekeh senang. Menerima setiap perlakuan yang diberikan para cewek.

Tapi ... dari sekian banyak cewek yang mengerubungi Aska, ada satu yang hanya diam di tempat sejak tadi. Hanya mampu menonton dari jauh. Hanya mampu berteriak dalam hati.
Meskipun mau. Meskipun ingin. Meskipun kakinya ingin sekali ia gerakkan menghampiri Aska.

"Lo gak mau ikut nyamperin Aska, Sar?" tanya Fio, yang masih sambil berkipas di samping Sarla.

Tapi belum sempat Sarla menjawab, Fio sudah kembali berkata dengan topik yang berbeda. "Btw, kenapa di koridor juga gak dipasang AC sih? Kan panas."

Sarla menoleh ke Fio. "Fi, kelas kita aja bahkan gak pake AC."

Fio terdiam sejenak. "Oh iya ya. Ya udah, kipas angin deh. Pasang kipas angin kek, biar gak gerah. Kalo gue keringetan, kan entar bau. Oh iya kembali ke pertanyaan awal. Lo gak mau nyamperin Aska juga gitu?"

Langsung saja bahu Sarla terkulai lemas. Ditatapnya iri para cewek yang bisa bebas menggrepe-grepe Aska itu.

"Gue ... malu, Fi," lirihnya.

"Hah? Malu apa sih, Sar? Dari dulu jawaban lo itu mulu. Lo gak kalah cantik kok. Pinter lagi. Malu apa coba??"

Sarla tatap lagi para cewek itu, lalu melihat dirinya sendiri. "Mereka ... cantik-cantik banget. Badannya bagus-bagus juga. Lagian, Aska gak mungkin ngeliatin gue, Fi."

Memang sih. Cewek yang ngedekatin Aska itu cantik-cantik banget! Mulai dari anak cheers, bahkan sampai yang sekaligus berprofesi model! Badannya juga oke punya lagi. Gak kayak Sarla yang ... datar depan belakang.

Fio ikut melihat ke depan. "Ehm iya juga sih. Tapi lo usaha apa kek. Kalo diem mulu di tempat, selamanya Aska gak bakal pernah notice lo."

Sarla terdiam. Benar juga kata sahabatnya ini. Tapi ... kalau banyak banget cewek di dekat Aska, bagaimana caranya agar ia bisa membuat cowok itu melihatnya?

Apa perlu Sarla membius Aska? Lalu menculiknya dan membawa ke hutan belantara hanya agar Aska menjadi miliknya seorang? Hanya agar ia bisa bebas mengapa-apakan Aska untuk dirinya sendiri? Perlukah?

***

.

.

.

.

.

Yeay ketemu Aska lagi! Agam di-update besok ya💃

Btw, sebelumnya adakah yang mengira kalo Aska bakal dipasangkan dengan Tisa? Hehe~


Minggu, 17-12-17

Dangerous Guy With MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang