8 ¦ Kalau Aku Nggak Mau Lupain Perasaan Aku ke Kamu, Gimana?

6.3K 768 44

Derry Gunawan: I'll come to your apartement at 12, el.

Sent.

"Mas Derry, ini handuk-nya."

Suara Shinta dari belakang tubuhnya, membuat Derry meletakkan ponselnya diatas meja ruang tamu rumah Shinta. Ia menoleh kebelakang, dan tersenyum pada Shinta. Ya, walaupun Shinta masih jutek seengaknya Derry nggak langsung diusir untuk pulang seperti beberapa hari lalu.

Derry meraih handuk bersih yang diulurkan Shinta.

"Thanks. Aku numpang mandi dulu." Sahut Derry yang hanya dibalas anggukan oleh Shinta.

Setelah menunjukkan kamar mandi yang akan dipakai oleh Derry, Shinta mendaratkan tubuhnya diatas sofa. Sambil menatap pundak lebar Derry yang masih terbungkus kemeja batik,  Shinta menghela nafas. Untung aja hari ini Gibran sedang ada tugas keluar kota lagi, jadi ia tidak perlu pusing memberi alasan pada Gibran kenapa ia tidak pulang semalaman.

Ketika Shinta beranjak dari sofa, ponsel Derry berbunyi. Rasa penasaran Shinta, membuat cewek itu melirik layar ponsel Derry.

Whatsapp
Elsya Isnain: for?

Shinta mengernyitkan dahi ketika membaca pesan masuk dari Elsya. Beberapa detik kemudian, ponsel Derry kembali berbunyi dan menandakan Elsya menelpon Derry.

Elsya Isnain calling...

Telpon pertama masuk, Shinta hanya menatap ponsel Derry. Namun ketika telpon ketiga masuk, Shinta memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut. Dengan gemetar, Shinta memencet tombol untuk mengangkat telpon.

"You want to come my apartement? Lunch?" Tanya Elsya ketika telpon tersambung.

Mas Derry mau ke apartement nya dokter Elsya? Ngapain?

"Halo, Der? Masih ada disitu kan kamu?"

Shinta menarik nafasnya dengan perasaan bingung.

"Mas Derry lagi ada di toilet dok. Sorry kalau saya lancang angkat telpon dokter Elsya, tapi daritadi HP nya Mas Derry bunyi terus bikin ganggu." Ucap Shinta dengan satu tarikan nafas.

"Oh? Oh okay, sorry-sorry. Saya sama Derry cuma temen kok."

Shinta tertawa pelan, lebih tepatnya tertawa karena merasa dirinya bodoh hanya karena ciuman mereka semalam, Shinta hampir luluh dengan Derry.

"Nope. Santai aja, kalian pacaran juga nggak bikin saya jealous. Saya bukan siapa-siapa Mas Derry. Kalau gitu saya tutup dulu telponnya, nanti saya bilang ke Mas Derry kalau kamu telpon. Siang dok," ujar Shinta.

Begitu sambungan telpon terputus, Shinta meletakkan ponsel Derry dengan setengah membanting. Bodoamat deh kalau Derry beli itu HP mahal-mahal, yang penting orangnya nggak tahu juga dan Shinta udah terlanjur kesal dengan Derry.

Ia kemudian melangkah masuk ke dapur dan mengambil minuman dingin dari dalam kulkas, lalu duduk dikursi bar. Sejujurnya, Shinta penasaran apa yang terjadi diantara Elsya dan Derry. Intinya begini, ia memang belum siap membuka hati untuk cowok itu. Tapi cewek mana sih yang nggak luluh ketika melihat perjuangan dari cowok yang bahkan berkali-kali dijutekin dan dimaki-maki dengan kata kasar masih tetap setia ngejar?

Dan Derry, entah dibuat dari apa kepalanya sampai-sampai tahan dengan semua kejutekan dan makian kasar Shinta. Awalnya Shinta memang menganggap biasa ketika Derry sering memberikannya gombalan-gombalan di kantor.

Tapi, having sex dalam keadaan mabuk dengan Derry? Sama sekali tidak pernah terbesit dikepalanya. Ya, Shinta merutuki kebodohannya sendiri yang malam itu menelpon Derry dengan keadaan mabuk. Dan sumpah Demi Tuhan, Shinta sama sekali tidak sadar malam itu. Baru ketika pagi harinya, ia menyadari jika telah terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi diantara keduanya.

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!