ALKI bukan ALyuKI

932 187 89
                                        

"AAAAARRRRRRGGGGGggghhh..." teriak ku kesal. Bukan hanya kesal! Tapi benar-benar kesal. Beberapa kali kakiku ku hentak- hentakkan di atas ranjang.

"Ini semua gara-gara Al...!!" geram ku lagi. Tapi seketika aku menggeleng. Aku tidak mau mengkambing hitamkan orang yang tidak bersalah, walau nyatanya sedikit banyak kekesalanku ada hubungannya dengan pria bernama Al itu. Dan jika memang benar-benar harus ada yang di salahkan, maka teman-teman kantorku yang super lebaylah yang menjadi tersangka utama. Sekali lagi aku menghela nafas.

"Haaahhh..."

"Kenapa anak mama pulang-pulang malah menghela nafas berat gitu, kayak ibu rumah tangga pengangguran yang jatah belanjanya kurang aja?" sebuah suara mengejutkanku.

"Mamaaa... kok masuk kamar Yuki gak ketok dulu sih?" sewotku sembari menatap Mama yang sedang berdiri di ambang pintu. "Lagian Mama curhat ya...?"

Wanita setengah baya itu terseyum lebar. "Mama tadi udah ngetok 1000x tapi kamu gak denger"

"Lebay deh... lagian ada apa Mama ke kamarnya Yuki?"

"Makan malamnya udah siap. Buruan mandi terus makan gih..." perintah mama.

"Hemm..." balas ku yang langsung berdiri dari ranjang untuk segera menuju kamar mandi.

Kadang aku heran. Berapa sih usiaku sekarang? Kenapa Mamaku itu selalu memperlakukan ku seperti anak kecil yang baru lulus SD. Hello... usia ku tu udah 21 tahun. Dan Mamaku masih aja ngira kalo aku berusia 12 tahun. Capek deh...




Telpon di meja ku menyala. Seketika aku menghentikan kegiatanku dan mengangkatnya.

"Yuki saya minta berkas yang dari PT JAYA ABADI dan sekalian laporan untuk bulan kemarin" ujar suara dari sebrang tanpa basa basi.

"Baik pak..." jawab ku singkat sebelum menutup panggilan itu.

Segera aku mengambilkan apa yang di minta oleh atasanku tersebut. Aku hampir meninggalkan tempatku sebelum aku merasa jika rekan-rekanku sekarang tengah menatap ke arahku. Aku berbalik menatap mereka, tapi dengan cepat mereka juga mengalihkan pandangannya. Seolah tak ada apapun yang terjadi. Walau begitu aku masih bisa melihat senyum di wajah mereka.

'Siaalll...!!' maki ku dalam hati. Dan seketika membuat moodku berupah buruk. Kulangkahkan kakiku ke ruang atasanku dengn wajah menekuk.

"Kenapa wajah mu?" tanya Al.

"Buakan apa-apa" jawab ku ketus sembari meletakan berkas yang di minta Al di atas meja.

"Oiya... mumpung kamu di sini ikut aku ke bagian pemasaran untuk melihat laporan sisa barang kemarin" ucap Al sebelum aku sempat berbalik.

"HAH..." entah kenapa aku malah terkejut.

"Kenapa sih? Dari tadi aneh banget?" sepertinya Al penasaran dengan tampangku yang kelihatan sedang kesal. "Lagi M?"

Tampangku tambah cemberut."Emang gak ada orang lain yang bisa di ajak pergi. Lagian tinggal minta mereka kirim laporannya kesini kan juga bisa?"

"Gak ada... dan kebetulan aku juga mau ngecek barangnya langsung" jawab Al yang berdiri dari tempatnya dan menarik tangan ku.

Kembali aku terkejut mendapati perlakuan Al. Beruntung sebelum Al benar-benar menyeretku keluar ruangan, Aku telah berhasil menarik tangan ku kembali dari genggaman Al.

"Aku bisa jalan sendiri" kataku masih ketus.

'Astaga... apa cowok ini gak mikir kalo kita itu lagi di kantor. Seenaknya main tarik-tarik aja' batinku sembari melihat Al tajam

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 14, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ALKI bukan ALYUKIStories to obsess over. Discover now