Pantai penuh dengan orang-orang dan iringan karnaval manusia pada parade sepanjang Venice Beach Boardwalk. Aku bersemangat, melompat turun dari mobil ketika Tobias berhenti. Tidak pernah membosankan untuk menyaksikan keramaian di kawasan Bohemian yang penuh sinar matahari. Hangat dan menyenangkan. Ada banyak seniman: musisi, penyair, penyanyi yang berusaha menghibur dengan keahlian mereka.

Aku memotret para pemain skateboard bertelanjang dada yang beraksi, mengambil dari beberapa sudut.

"Menikmati pemandangan, he?" tegur Tobias ketika aku masih asyik memotret pemuda-pemuda seksi dengan skateboard mereka.

"Ini request dari customer," sahutku acuh.

"O ya ya ya...."

Aku melirik Tobias yang melenggang pergi, memotret sekali lagi kemudian berlari mengejar Tobias. "Hey, kenapa? Kau iri?"

Tobias berhenti. "Iri? Sama siapa?" tanyanya menatapku, mengedikkan bahu.

"Mereka," aku menunjuk kumpulan pemain skateboard dengan dagu.

Tiba-tiba saja Tobias menarik hidungku kencang, aku menggeleng-geleng seraya berusaha menepis tangan pria itu dengan satu tanganku.

"Tentu saja tidak."

Aku meringis begitu tangan Tobias terlepas, mengusap-usap hidung menghilangkan sakit. "Sakit!" seruku kesal memukul bahu Tobias.

Tobias hanya tertawa, kemudian kembali berjalan, aku mensejajari langkahnya. Kami melewati seorang pesepeda yang menyemburkan api, Tobias melemparkan koin ke box yang tergeletak tidak jauh dari pesepeda itu. Sedangkan aku memotret aksi para pemain akrobat yang lain.

"Venice Beach itu gambaran dari puncak segala kemeriahan Los Angeles," gumamku masih membidikkan kamera.

"Itulah kenapa aku suka musim panas," sahut Tobias.

Aku tertarik dengan ucapannya, berhenti memotret dan menatap pria itu. "Kenapa kau suka musim panas?"

"Karena musim panas adalah puncak dari segala kemeriaham, kemegahan, dan keceriaan."

Aku mengerutkan hidung, menggaruk ujungnya. "Aku lebih suka musim gugur."

"Kau bukan gadis pemurung, kenapa suka musim gugur?" seringai Tobias.

Aku merengut mendengar ledekan Tobias, kembali memotret tanpa menjawab pertanyaannya. Dia memang tidak membutuhkan jawaban.

"Kita akan menginap?" tanyanya sementara aku masih sibuk dengan kameraku.

"Tidak."

"Kenapa? Kita bisa menginap."

"Aku tidak membawa ganti."

"Oh, come on, kau tidak butuh itu.

Untuk kesekian kali aku membidikkan kamera ke wajah Tobias. "Tobias," kataku menekan tombol shutter, "ini musim panas, kita tidak bisa menginap di hotel tanpa reservasi."

"Holly shit! Kita tidak butuh hotel."

Aku mengabaikan ucapannya, mencari subyek lain untuk kupotret. Sementara dia terus membuntutiku.

****

Sambil duduk memeluk kaki di atas pick up, aku merengut karena kesal. Entah bagaimana ceritanya, mobil Tobias mendadak tidak bisa jalan. Itu membuat kami terpaksa tinggal di tepi pantai, sepertinya hanya aku yang terpaksa, karena Tobias malah terlihat sangat menikmati.

Young SummerRead this story for FREE!