Hai... hai, ada cerita baru nih. Young Summer ini agak lebih soft daripada Unforgiven ya, tapi tetep masuk dalam konten dewasa, jadi bijak bijkalah dalam membaca :D 

Oya, ini setting tempatnya bukan di Indonesia, tapi di Los Angeles. Semoga kalian juga suka ma cerita ini. 

Salam sayang :-*

Terlalu panas untuk keluar siang ini, tapi Eli sepupu tampanku yang memuakkan benar-benar membuatku tidak berdaya dengan permintaannya. Berhasil mengajak kencan Rosey di akhir pekan membuat ia kehilangan akal, memaksa memakai mobilku selama dua hari sementara aku disuruhnya mengambil mobil Eli yang sedang diservis di bengkel.

Lebih menjengkelkan lagi ketika AC taksi yang kunaiki saat menuju bengkel mati. Aku mendesah kesal, menggelung rambut sebahuku asal dan menjepitnya lalu membuka beberapa kancing pada bagian atas kemeja yang kukenakan. Benar-benar merasakan buliran-buliran keringat yang mengalir di leher. Ketika akhirnya taksi berhenti di depan bengkel, dengan segera aku turun, membayar dan berlalu tanpa mempedulikan sopir taksi yang menggumamkan kata-kata dalam bahasa asing.

Aku menghampiri seorang pekerja bengkel berkulit hitam dan menanyakan mobil Eli, pria itu menunjuk ke satu arah. Menoleh ke arah yang ditunjuk, aku melihat mobil yang kucari. Pandanganku tertumpu pada sepasang kaki yang terjulur di bawahnya. Aku mengucapkan terima kasih pada si pria berkulit hitam dan segera menghampiri sepasang kaki itu.

"Halo," sapaku berteriak mengalahkan kebisingan suara mesin.

"Ya," jawab pria di bawah mobil tanpa keluar.

"Apakah masih lama?"

"Tidak, sebentar lagi. Kau tunggulah dulu, Nona." Sekarang aku melihat pria itu menarik badannya keluar. "Hanya beberapa menit lagi," lanjutnya lagi melihatku seraya tersenyum.

OMG, he's so damn hot!

Aku cepat-cepat menggeleng—mengusir rasa terpesonaku akan dia—begitu melihat sebelah alisnya terangkat, seolah menanyakan sikapku.

"Oh, okay," sahutku tercekat, menjauh darinya setelah sebelumnya melihat name tag yang tertempel di sebelah kiri coverall-nya. Tobias Lorran.

Sambil berdiri bersandar pada dinding dan menyilangkan kedua tangan di depan dada, diam-diam aku memperhatikan pria itu.

Tobias Lorran. Dia ... tampan. Tentu saja. Tapi, dengan bentuk bibir terpahat sempurna dan hidung tinggi yang nyaris membuatku iri, dia tidak akan terlihat seperti pria macho tanpa cambang kasar yang memenuhi rahang dan dagunya. Dan yang paling menyesatkan adalah mata hitam pekat yang dinaungi alis tebal. Mata itu membuatku terpesona, perpaduan antara lembut dan tegas. Teduh namun menenggelamkan.

Pandanganku turun ke otot lengannya yang terlihat keras, kecoklatan dengan keringat mengalir di pori-porinya. Saat kembali mengangkat wajah, aku merasa gugup melihatnya sedang memergoki aku yang mengamatinya. Dia tersenyum, berjalan mendekat ke arahku sambil membersihkan tangannya dengan lap.

"Jadi kau sepupu Eli?" tanyanya memulai.

Aku mengangguk, menangkap pandangan matanya tertuju pada bawah leherku. Menyadari dua kancing teratas kemejaku terbuka sampai ke batas dada, aku segera mengancingkannya kembali. Berdiri berhadapan seperti ini membuatku harus mendongak saat bicara dengannya, meski dengan heels tujuh centi yang kukenakan.

"Sepertinya kau kepanasan," katanya mengalihkan pandangan ke mataku, "ayo, aku tahu tempat yang asyik buat bicara." Dia mengisyaratkan agar aku mengikutinya.

"Mr. Lorran—"

"Tobias. Panggil saja Tobias." Dia kembali menatapku dan tersenyum.

"Okay. Mr. Tobias—"

Young SummerRead this story for FREE!