:twelve:

981 218 34
                                                  

Sooyoung bangun dengan rasa pening yang mendera kepalanya begitu hebat.

Gadis itu mengerjapkan matanya hanya untuk melihat bahwa dia ada di kamarnya.

Tunggu. Kamar?

Sooyoung menyingkap selimutnya, mendapati pakaiannya sudah berganti. Dan, jangan lupakan, perban sialan di telapak kirinya.

"Ibu!"

Sooyoung berteriak dari dalam kamarnya. Selang beberapa menit setelah itu, derap langkah terdengar tergesa.

"Ada apa, sayang?"

"Ba-bagaimana aku bisa disini?"

Sooyoung menatap Ibunya bertanya, sedangkan Nyonya Park memilih duduk di samping ranjang Sooyoung.

"Kau tak ingat?"

Sooyoung mengernyit dalam, mencoba mengumpulkan kepingan terakhir ingatannya.

Namun, yang ia ingat hanya tatapan kelam Jungkook.

Sooyoung menggeleng pelan.

"Aku tak ingat, Bu."

"Jimin menggendongmu pulang. Kau harus lihat wajah anak itu yang kelihatan amat khawatir."

Nyonya Park terkekeh mengingat ekspresi Jimin yang kelewat lucu ketika membawa Sooyoung dipunggungnya yang kecil. Jimin terlihat tenggelam di bawah Sooyoung.

"Dia bahkan berteriak begitu keras hingga membangunkan kakekmu. Oh, dan dua temanmu yang lain. Mereka kelihatan aneh, tapi masih dibatas wajar."

Nyonya Park menggendikkan bahu menimang perkataannya.

Sooyoung menaikkan alisnya bingung.

"Kelihatan aneh?"

"Mereka hanya diam ketika Jimin heboh dengan dunianya sendiri. Lalu, pergi tanpa pamit."

Sooyoung mengingat kembali semua yang terjadi.

Luka sayat di perut Yeri,

Tangannya yang berdarah,

Jimin yang berlari kesetanan menghampirinya,

Dan,

Tatapan kelam Jungkook.

Semua ingatan itu berubah jadi puzzle yang saling melengkapi, membuat Sooyoung memijat pelipisnya pelan.

Pusing kembali mendatanginya.

"Kau pusing, sayang?"

Sooyoung mengangguk kecil, mengatakan pada Ibunya untuk keluar dari kamar.

"Istirahatlah, sayang. Ibu akan membuatkan teh camomile untukmu."

Ibunya menghilang dibalik pintu.

Sooyoung menaikkan selimutnya sebatas dada. Kemudian, kembali ke dunia mimpinya.

🍃

"Bagaimana bisa Sooyoung terluka?!"

Taehyung menggeram dalam kalimatnya. Ia dibakar amarah.

Ketiga orang di depannya hanya diam.

"JAWAB AKU!"

"AKU YANG MELUKAINYA! KENAPA?! KAU TAK TERIMA?!"

Jungkook berteriak hingga urat nadinya tercetak di leher. Mereka berdua sama sama bernapas dengan berat.

wнen yoυ love ѕoмeone. [ vjoy ]✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang