5 ¦ Derry Masih Normal, Mi

5.4K 748 12

Derry POV

Gue melangkah pelan menaiki tangga rumah, tanpa menimbulkan suara. Secara gue baru sampai rumah pukul dua belas malam, dan sangat amat pasti orang rumah udah pada molor. Maklum, nasib jadi anak tunggal ya gitu. Di rumah sepi, tapi kadang gue bersyukur nggak punya adik atau kakak yang suka nyusahin dan bikin dongkol.

Ketika gue akan memutar knop pintu kamar, suara Kanjeng Mami alias si Nyonya besar yang faktanya adalah Ibu kandung gue membuat tangan gue menggantung diudara.

"Derry Gunawan, Mami mau ngomong serius ke kamu. Sekarang." Ucapnya dengan suara yang terdengar bossy.

Ini nih, sifat Mami yang kadang suka bikin gue kesel, yaitu Mami yang bossy. Kadang gue mikir, dimana Papi ketemu Mami lalu tahan dengan sifat yang bossy gitu sampai akhirnya nikah dan punya gue. Tapi setelah gue pikir-pikir bener juga kalimat love is blind, yang namanya sifat jelek dari pasangan kita, langsung bagus aja kalau udah jatuh cinta. Entah kita yang terlalu bego dibutakan cinta atau emang udah hukum alam-nya kayak gitu.

Okay, back to reality. Gue memutar kepala dan melihat Mami yang memakai piama-nya, sedang berdiri dengan jarak 3 meter dari tempat gue berdiri dan menatap gue seolah gue bocah SMA kelas 12 yang baru pulang kemaleman karena habis hahahihi hura-hura main lalu besoknya harus Ujian Nasional. Astaga, umur gue bahkan udah hampir kepala tiga guys.

Dan bahkan gue udah bisa bikin anak orang hamil dan karena itu, gue sudah menyanding gelar menjadi seorang Ayah.

"Mi, besok aja ya? Ini udah malem dan Derry capek. Mau tidur." Ucap gue dengan nada baik-baik.

Mami menghampiri gue. "Right now."

"Ish.. emangnya Mami mau ngomongin apa sih? Besok pagi bisa Mi, lagian ini udah tengah malem." Gue masih mencoba untuk bersabar.

Ketika Mami akan mengeluarkan suara lagi, ponsel gue berbunyi. Siapapun yang telpon gue sekarang, bener-bener save my life! Dalam hati, berkali-kali gue mengucapkan alhamdulillah karena bisa beralasan pada Mami.

Erga si tukang pamer calling...

Hah, ini anak walaupun tukang pamer kemesraan kalau lagi sama Salma, ternyata bisa juga save my life.

"Mi, Erga telpon mau ngomongin soal kerjaan. Udah ya Mi, besok aja. Derry lagi banyak kerjaan dan meningan Mami lanjut tidur." Ucap gue berbohong sambil menujukkan screen lock ponsel.

Iya, banyak kerjaan. Ngelobi Shinta -yang tai-nya itu cewek malah ngehindar dari gue- lalu, nengok Orlen ke Bogor, kerjaan di kantor numpuk, meeting berentet kayak gerbong kereta.

Mami menghela nafas kasar. "Okey, I'm gonna talk with you tomorrow morning. Good night, my baby boy." Putusnya.

Good night, my baby boy. Yup, kalian nggak salah baca. Emang Mami gue masih menganggap dan memanggil gue sebagai baby boy nya yang bikin gue langsung ditatap geli oleh para cewek-cewek kalau lagi ditempat umum, dan Mami mengeluarkan dua kata memalukan nan menyebalkan itu.

Hastagah, harusnya Mami inget kalau anaknya udah tua gini.

Ponsel gue berhenti berbunyi ketika Mami masuk kedalam kamarnya. Gue pun masuk kedalam kamar dan menelpon balik Erga, menanyakan kenapa ia menelpon gue. Setelah itu gue memutuskan untuk mandi dan tidur karena badan gue benar-benar lelah empat hari ini gue ajak Kuningan-Bogor ditambah macetnya jalanan.

You know, demi Orlen apapun itu juga gue lakuin. Kuningan-Bogor masih bisa gue hajar walaupun capek pulang-pergi. Kecuali ke planet lain, baru gue angkat tangan.

°°°

"Der, kamu serius 'kan sama Elsya?" Tanya Mami ketika kami sedang sarapan.

Gue mengernyitkan dahi. "Hah?"

Firasat gue sebenarnya udah nggak enak nih kalau bahas-bahas soal Elsya.

"Kapan Mami dan Papi bisa ngelamar Elsya?"

Uhuk... uhuk...

Gue meraih segelas air putih dan meminumnya, sambil menepuk-nepuk dada karena tersedak nasi goreng. Jadi ini yang mau diomongin sama Kanjeng Mami semalam ternyata. Pantes sampai bossy banget ngajaknya, wong masalah Elsya.

"Apa? Lamar? Mi...." rengek gue.

Kanjeng Mami kesayangan gue itu langsung menyipit. "Der, jangan bilang kamu penyuka sesama jenis alias kamu homo ya? Terus cewek-cewek yang deket sama kamu itu, cuma akal-akalan supaya rahasia kamu nggak ketahuan. Jawab Mami!" Ujarnya.

WHAT? Gue homo? Yang bener aja, kalo gue homo nggak bakal jadi Orlen.

Gue yang masih terdiam, dibuat kaget dengan suara meja yang dipukul keras oleh Mami. Anjir ini Mami apa hulk? Meja makan rumah gue itu kayu-nya jati anjay, kelingking kaki kepentok kaki meja sakitnya warbyasah. Nggak percaya? Sini ke rumag gue, terus elo cobain deh tuh kalau kaki lo nggak nyut-nyutan sampe rasanya lemes berarti lo titisan hulk.

Gue dan Papi yang mendengar suara pukulan, langsung terlonjak kaget dan menatap Mami.

"Ini meja jati Mi, itu tangan nggak sakit?" Tanya Papi.

Mami menatap Papi. "Sakit sih, tapi ini buat gebrakan si Derry biar ngaku."

Wedeh gebrakan katanya coy, GEBRAKAN. Anjay.

Gue menatap Mami dengan kesal. "Enak aja Mami bilang kalo Derry homo! Derry masih normal Mi, masih suka PEREMPUAN. Masih mau kawin." Protes gue.

"Ya terus, kamu nggak kawin-kawin juga. Inget ya Der, umur kamu udah bukan untuk main-main. Udah cukup." Ucap Mami.

Papi yang masih menikmati sarapannya itu, hanya diam dan nggak membela gue sama sekali. Duh, please deh ya gue berasa anak perawan yang udah umur 30 tahun tapi belum juga nikah dan dikejar-kejar deadline untuk nikah. Ya kalau cewek, masih masuk akal lah dibawelin umur 30 belum nikah karena perempuan bakal ngalamin yang namanya menopause. Lha ini gue laki-laki!

"Pi, ini Papi nggak mau bantuin Derry buat ngomong sama Mami?" Tanya gue menyindir.

Papi menggeleng. "Nggak, ogah Papi ikut campur urusan beginian. Lawan Mami-mu itu sama aja kayak lagi debat sama batu." Jawab Papi.

"Papi!" Seru Mami.

"Eeeeh... iya-iya, ampun Mami-ku sayang." Ujar Papi sambil nyengir.

Gue memutar bola mata kesal, lalu berdecak. "Udah lah, obrolan kita pagi ini sama sekali nggak berfaedah. Derry mau jalan ke kantor aja, keburu macet." Ucap gue akhirnya kemudian menandas habis air mineral.

Ketika gue berjalan menuju ruang tengah, kerah kemeja gue ditarik oleh Mami. "Dasar anak durhaka, pamit tapi nggak cium tangan dulu sama orangtua. Siapa yang ngajarin?" Omel Mami.

Gue nyengir dan meraih tangan Mami. "Hehehe... lupa Mi, baby boy nya Mami jalan kerja dulu ya. Assalamualaikum Mami cantik." Ucap gue sambil menyalami tangan Mami dan Papi.

"Waalaikumsalam. Bulan depan pokoknya Mami sama Papi bakalan lamar Elsya. Kamu siap nggak siap, harus siap." Ucap Mami yang membuat gue langsung melongo.

Anjay, masalah Shinta dan Orlen aja belum kelar. Nah ini segala harus siap ngelamar Elsya lagi, aduh pening kepala gue tuh!

°
°
°

Derry mulai pusing kawan-kawan muehehehe baru awal doi udah pening, besok-besok makin pening doi😂😂😂

Mau tau banyakan #GenkDerry-Shinta atau #GenkDerry-Elsya sih?

Oh ya, gomawoooo yang udah vote dan comment hehehe lovvvv💚

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!