3 ¦ Pakai Bahasa Isyarat aja Kalo Nggak Mau Ngobrol

6.7K 888 13

Sore hari sehabis meeting, Derry menghabiskan sisa-sisa jam kantor bersama dengan Erga, Farhan, dan Pak Dimas untuk meminum kopi di cafè yang letaknya berada tepat disebrang gedung kantor mereka. Sambil merokok satu atau dua batang, setidaknya cukup melepas penat mereka ketika hampir seharian ini mengurus meeting dan deadline pekerjaan. Untung aja tidak sampai harus lembur. Bisa-bisa nih, Erga yang duduk disamping Derry—wah habis deh dia gerutu.

Oh jangan lupakan soal Pak Dimas, memang bos mereka itu udah resmi bergabung dalam basis mereka sejak acara perayaan ulang tahun Erga.

"Jadi Der, anak kamu udah lahir?" Tanya Pak Dimas setelah menyeruput kopi-nya.

Derry mengangguk sambil mematikan puntung rokok diasbak. "Udah Pak, cuma ya itu. Shinta-nya ngeselin. Masa dia nggak mau lihat muka saya kata-nya. Wuah!" Keluh Derry.

Perihal kehamilan Shinta juga Pak Dimas mengetahui-nya setelah bergabung. Awalnya, Derry habis-habisan diomelin Pak Dimas karena bikin sekertaris rajinnya itu resign dan minggat dari kantor. Tapi, mau gimana lagi.

"Elo kali yang bikin Shinta kesel. Udah tau dia muak banget sama gombalan elo, Der." Celetuk Erga.

"Kok gue sih? Orang gue aja cuma mau nemenin dia ngasih ASI di ruang bayi, masa iya nggak boleh ikut? Emang-nya cuma dia doang yang mau liat anak-nya, lah gue juga dong. Siapa yang berkontribusi sampe bikin Shinta hamil? Gue lah jawaban-nya! Malah waktu gue bilang dia egois, malah gue yang dicubit." Sungut Derry kesal. "Udah gitu ya, gue dibilang cowok brengsek sama suster jaga. Katanya gue mau enak-nya doang! Sialan, kalo bukan karena gue nggak sadar dan Shinta nggak sadar juga nggak bakalan jadi bayi."

Segrombolan pengunjung perempuan yang duduk tidak jauh dari tempat mereka, langsung menoleh menatap tempat mereka dengan tatapan sedikit sinis saat mendengar ucapan Derry yang cukup keras. Erga dan Farhan yang merasakan tatapan tersebut langsung menoyor kepala Derry.

"Eh soang banget dah elo ya! Itu mulut bisa santai nggak sih cerita-nya? Udah berisik kayak petasan pengantin sunat, suara nggak bisa dikecilin. Itu cewek-cewek yang duduk disana bakalan ngira kalo kita semua ini cowok brengsek, tau?" Omel Erga.

Farhan berdecak. "Tau nih, kontrol dikit suara-nya."

"Saya tau kamu esmosi--"

"Emosi, Pak." Ralat Erga.

Pak Dimas mendengus. "Iya saya tau, itu cuma saya plesetin aja biar santai. Ah nggak seru kamu, Er." Gerutu Pak Dimas. "Okey, back to topic. Saya tau kamu emosi Der, tapi saya kalo jadi Shinta sih emang kesel banget sama kamu. Malah saya timpuk langsung pakai batu kalo bisa. Coba kamu pikir, dimana letak salah kamu ngomong sama dia?" Tanya Pak Dimas.

Lantas ketiga cowok yang berumur hampir kepala tiga itu, mengernyit bersamaan ketika Pak Dimas melemparkan pertanyaan untuk Derry. Jika Erga dan Farhan mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Derry tadi, sedangkan Derry kebingungan apa yang sebenarnya salah.

"Nggak dah Pak, kayaknya saya nggak salah ngomong. Masa cuma saya bilang egois, dia marah sih. Harusnya 'kan dia mikir dong." Ucap Derry.

Erga berdecak beberapa detik kemudian setelah mencerna. "Ck, bego dipelihara nih. Jelas aja Shinta kesel sama elo." Ujar Erga.

Derry menatap Erga dengan bingung. "Kok lo ngatain gue sih?"

Sedangkan Pak Dimas hanya geleng-geleng kepala. Farhan menghela nafas panjang.

"Ya Shinta mau ngasih ASI masa elo mau ikut? Sama aja lo dapet pemandangan indah yang gratis dong? Jelas lah, Shinta mana mau rugi dua kali!" Ucap Farhan gemas.

Paradoks [#2 EDF Series-Derry Story]Baca cerita ini secara GRATIS!