Chapter 7 : Untuk Milea

1.2K 49 4

Pagi itu, kelas Arkan dan Ardian dilanda jam kosong. Pak Atno selaku guru matematika wajib yang menyebalkan itu sedang berhalangan untuk hadir. Sebuah keajaiban yang membuat semuanya bersorak riang dan menghambur ke luar kelas. Tetapi, ada juga yang diam di dalam kelas untuk makan atau tidur. Kalau Ardian dan Arkan sudah pasti keluar kelas menuju pinggir lapangan olahraga untuk melihat kelas XI IPA 2 berolahraga.

"Eh, Di, Di!" ucap Arkan dengan gerakan berhenti mendadak di depan pintu kelasnya untuk menuju dunia luar.

Ardian turut menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang dan menaikkan salah satu alisnya. "Ngapa?"

"Ituan,"

"Apaan?"

"Gua lupa sesuatu." lanjut Arkan yang kembali ke tempat duduknya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Setelahnya, ia kembali menghampiri Ardian.

Ardian mengernyit saat melihat kotak bekal berwarna ungu itu. "Itu apaan?" tanyanya yang hanya dibalas cengiran dari Arkan.

Lalu, Ardian hanya mengibaskan tangan kanannya seolah berkata 'bodo amat' dan berjalan ke luar kelas. Diikuti oleh Arkan dibelakangnya.

"Di, punya sticky notes ga?" tanya Arkan yang sedang mensejajarkan langkahnya dengan Ardian.

Ardian menoleh sebentar dan mengerutkan keningnya. "Gak tau, coba aja cek ke loker gue masih ada apa nggak."

"Yaudah, ke loker dulu ya?"

"Iye."

Keduanya berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi. Sesekali mereka tersenyum untuk beberapa orang yang menyapa mereka. Hingga tampaklah batang hidung itu. Wajah Bu Rahmi, guru kesiswaan mereka yang sedang menciduk murid bolos pelajaran.

"Kamu bolos pelajaran, Ardian?" tanya Bu Rahmi yang membuat Arkan menyikut lengan Ardian.

"Enggak, Bu. Kalau saya bolos, saya daritadi udah kabur. Memang kelas saya lagi jam kosong dan enggak ada tugas." jawabnya dengan kalem.

"Terus, kenapa kamu keliaran disini?"

"Saya mau ke loker buat ambil buku."

"Terus, si Arkan nih ngapain?"

"Ngintilin doang, Bu." jawabnya lagi yang membuat Arkan melotot kecil.

Bu Rahmi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Arkan. Meneliti cowok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Itu rambut kamu udah mulai gondrong," jeda. "bajunya kamu kecilin ya?" Beliau menuduh setelah melihat ke arah lengan baju Arkan yang tercetak jelas ototnya.

Arkan langsung menggeleng kuat-kuat. "Saya bukan terong-terongan, Bu, apalagi jamet. Saya anak baik-baik. Ini bajunya murni begini." jawabnya dengan jujur.

Bu Rahmi kemudian mengangguk. "Ya sudah, habis ngambil buku, balik lagi ke kelas." titahnya yang hanya diangguki oleh Arkan dan Ardian sambil kembali berjalan ke arah loker kelas sebelas.

Hingga mereka tiba di depan loker. Berjalan menyusuri dari angka ke angka untuk menuju ke loker Ardian yang terletak di ujung tembok. Cowok itu kemudian mengeluarkan kunci lokernya dan membuka pintu loker. Lalu, terpampang dengan nyata isi loker lelaki yang jauh dari kata 'berantakan'. Ardian merogoh isi lokernya dan mengambil sticky notes yang Arkan inginkan.

"Di, ada pulpen sekalian gak?"

Ardian hanya menyodorkan pulpen tanpa mengeluarkan suara apapun. Sedangkan Arkan mengambil pulpen itu dan menuliskan sesuatu pada sticky notes milik Ardian.

"Oh, buat Milea," kata Ardian setelah melirik tulisan sahabatnya itu.

Arkan menoleh sejenak dan mengabaikan perkataan Ardian. Hingga Ardian berkata lagi, "Jangan anggep dia sebagai Nadina. Dia bukan Nadina Almira. Dia itu Milea Nadina." perkataan itu membuat sekujur tubuh Arkan menegang.

"Gausah bahas Nadina."

"Lo bilang gak usah bahas Nadina, tapi lo sendiri menganggap Milea sebagai Nadina. Situ gamon?" seringai pun muncul di bibir Ardian. Ia terlihat mencemooh Arkan saat ini. Sebenarnya, ia tak mau. Tetapi, hanya dengan cara seperti ini Arkan bisa sadar dan melupakan Nadina, masa lalunya. "Gue ke lapangan dulu. Terserah mau nyusul apa enggak." tambah cowok itu setelah mengunci pintu lokernya. Meninggalkan Arkan yang kini terdiam dan nyaris meremas selembar sticky note yang sudah ia tulis.

*

Kini, Arkan berjalan menyusuri koridor untuk ke kelas Milea. Pikirannya masih mengulang perkataan Ardian tadi. Apa benar dirinya masih terbelenggu oleh Nadina Almira?

Arkan menggelengkan kepalanya. Berusaha keras untuk menghapus perkataan Ardian yang terus terngiang. Tujuan dia hari ini hanya memberi Milea roti dari mamanya. Sudah, hanya itu.

Namun, tanpa cowok itu sadari, hatinya sudah mulai jatuh untuk Milea.

Kakinya terhenti tepat di depan kelas XI IPA 2. Ia melirik sejenak ke dalam kelas. Memastikan ada orang atau tidak. Nihil. Tidak ada orang sama sekali. Itu bagus. Ia tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan kenapa ia berada di dalam kelas orang.

Ia masuk ke dalam kelas Milea dan menaruh tempat makan itu ke atas meja yang diatasnya terdapat baju seragam Milea. Arkan sudah memastikan itu memang benar meja Milea saat cowok itu melihat buku tulis Milea juga tergeletak di atas meja.

"Have a good day, Milea." katanya yang langsung beranjak keluar dari kelas Milea.

Tanpa Arkan sadari, seseorang telah melihat pergerakannya jauh dari tempat Arkan berdiri. Seseorang itu tersenyum dan kembali berjalan ke dalam kelas setelah melihat punggung Arkan sudah tertelan di belokan koridor.

*
hm hm, maaf ya part awal masih terlalu flat. tenang aja gais, part belasan nanti sudah dimunculkan konfliknya kok:))

 tenang aja gais, part belasan nanti sudah dimunculkan konfliknya kok:))

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

btw ini bonus muka Arkan dan Gibran.

Hujan & SenjaWhere stories live. Discover now