Part 14 - Kebohongan Tidak Selamanya Abadi

314 22 2

"Yahh seragamku kotor. Gimana dong nih?" Kimi meringis menahan kesal karena seragam kerjanya kotor terkena es krim yang tidak sengaja ditumpahkan seorang bocah kecil.

"Gue punya seragam cadangan kok di loker. Tenang aja, Kim." kata Titin berusaha menenangkan Kimi.

Kimi berjongkok untuk menyamai bocah laki-laki kecil yang masih berdiri sambil memegangi es krim cokelatnya. "Mama mu mana? Kok sendirian?" tanya Kimi. Rautnya wajahnya berubah halus saat melihat anak kecil berponi mirip mangkok itu.

"Mami..disana sama daddy El." jawab anak laki-laki itu sambil menunjuk ke sepasang pria dan wanita yang tengah duduk bersebelahan. Kimi dan Titin menoleh ke arah telunjuk mungil itu.

Titin membeku. Kimi berusaha menggeleng-geleng kepalanya. Keduanya pun saling berpandangan. Mereka hafal betul siapa sosok 'daddy' yang dikatakan bocah laki-laki itu.

"Tin, pikiran kita sama kan?" gumam Kimi dengan masih memandang ke arah pasangan itu.

"I..iya, Kim. Aku belum rabun jauh kok."

"Aku harus minta penjelasan dari om El!" ujar Kimi berapi-api. Namun Titin menahan lengan Kimi. "Lepasin aku, Tin. Apa-apaan dia udah punya anak tapi aku nggak tau. Jangan-jangan eyang juga nggak tau masalah ini."

"Kimi, lebih baik kamu tanya saat otakmu tenang. Kamu jangan bikin gaduh di tempat umum. Lebih baik kita kembali ke kedai sebelum jam istirahat habis." Titin berhasil menarik Kimi pergi dari area food court.

Kimi tidak habis pikir kalau om kesayangannya itu tega membohonginya. Sejak siang tadi, Kimi tidak menemukan keberadaan El di kedai. Tidak ada telepon bahkan pesan sekali pun. Karena memikirkan tentang El dan anak kecil berambut mangkok itu, Kimi jadi tidak bisa berkonsentrasi. Beberapa kali ia salah mengantarkan pesanan untuk pengunjung.

Om Malik

Hay, Kimi. El ada di kedai?

Tanpa membalas pesan, Kimi justru langsung menelepon Malik. Ia butuh keterangan lebih lanjut tentang 'bocah mangkok' itu. Siapa tau Malik mengetahui rahasia besar El. Kimi mengendap-endap keluar melalui pintu dapur yang langsung terhubung dengan sisi belakang kedai.

"Halo, om Malik. Pulang dari kedai aku mau bicara serius sama, om."

"Tentang apa? Kalau nggak penting aku ogah ketemu kamu." ledek Malik di ujung sana.

Kimi memutar bola matanya karena jengan dengan sikap sok sibuk khas Malik. "Nggak usah sok sibuk. Pak Presiden aja yang ngurusin negara masih sempet buat vlog. Aku tunggu om di Sturbucks deket kedai." geram gadis itu.

"Ehemm.." hampir saja Kimi menjatuhkan handphonenya saat mendengar suara dehaman yang berasal dari arah belakang. Kimi berbalik dan mendapati sosok El yang berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. "Nelpon siapa? Pak Presiden?"

"Hmmm..itu...hmmm.." El menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban dari keponakannya itu.

"Ini masih jam kerja. Kedai lagi ramai dan kamu ngumpet disini bahas urusan yang nggak jelas."

"Enak aja bahas yang nggak jelas. Aku tuh.." Kimi terhenti tidak meneruskan ucapannya. "Yaudah aku balik kerja lagi." Hampir saja ia keceplosan kalau ia akan bertemu dengan Malik sepulang dari kedai. Bisa-bisanya om-nya itu akan menanyainya macam-macam.

**

Zeefana sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan El. Ia tidak sanggup melihat pria tampan di hadapannya saat ini. Ada rasa kecewa yang disimpannya untuk El. Beberapa hari ini El terasa seperti menjauhinya. Entah dengan alasan apa. Dan ia terkejut saat mendapat pesan dari El yang mengajaknya minum kopi.

Target KimiBaca cerita ini secara GRATIS!