Jakarta, 2018.

Sinar matahari yang berasal dari ventilasi jendela masuk kedalam ruangan, menandakan pagi yang cerah telah datang. Namun, sangat disayangkan seorang gadis masih saja terselimuti oleh kain berbahan woll diatas kasurnya. Alarm disampingnya mengumandangkan suara dan getaran tiada henti. Hingga ke 12 kalinya, alarm itu langsung menghantam lantai dengan sadis. Rupanya, Mentari dengan gerakan refleks layaknya orang teringat sesuatu langsung bangkit dari tidur nyenyaknya. Saking ingatnya, ia sampai tak sadar kalo telah menendang alarm yang ada di meja dekat kasurnya

Waktu menunjukkan pukul 06.30 yang artinya, Mentari masih mempunyai waktu selama tiga puluh menit untuk persiapan menuju kampus. Hari ini ia ada kelas melukis. Dengan waktu yang dibilang kurang dari cukup, ia bergegas ke kamar mandi yang menyatu dalam kamarnya.

Resiko jadi anak kos, gini nih.

Tiba dihalaman kampus, Mentari berniat memarkirkan mobilnya berada dibawah pohon rindang. Saat ingin memarkir, sebuah mobil jeep mengambil posisi parkirnya. Dengan membanting stir dan membunyikan klakson yang kencang, Mentari mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil.

"Woi! Itu parkiran gue, geblek!"

Karena tidak mendapat respon dari si pengemudi, Mentari keluar dari mobil dan hendak melabrak pemilik mobil itu.

"Keluar lo, woi!"

"Berisik banget sih, lo!" respon cowok didepannya. Bukannya merasa bersalah, Max malah menenteng tasnya untuk pergi.

"Eh, eh. Lo mau kemana?" Tanya Mentari saat berhasil menghalangi Max.

"Masuk, lah. Gue ada kelas."

"Terus mobil gue, gimana?"

"Lo siapa gue?" Tanya Max sok serius.

"Temen kampus, gue."

"Oh. Cuma temen, kan? Ngapain mesti ngelapor ke gue?" Jawab Max enteng.

"Gue mau parkir disini, geblek." Kata Mentari sambil menunjuk lahan parkirnya. "Tapi malah lo ambil." Sambungnya.

"Ya udah, lah. Terima nasib aja kali. Angkat pantat hilang tempat." Jawab Max dengan cengiran khasnya.

Karena muak dengan tampang tak berdosa Max, Mentari menendang ban mobil milik Max. Alih-alih mobil Max jadi rusak, malah mentari yang mengaduh kesakitan.

"Aw... Aduh duh." Ujarnya sambil mengelus pangkal kakinya.

"Sini gue pijetin! Mangkanya jadi cewek jangan petakilan." Kata Max sambil menarik paksa kaki Mentari.

"Lo sih nggak mau ngalah."

"Lo yang salah, kok gue yang disalahin, sih?"

"Ya abis gue mau parkir disini lo ambil, sih. Kan jadinya gue sebel. Coba lo ngalah dikit kek sama cewek. Apaan coba kaya gitu." Cerocosnya.

"Ih, berisiknya! Lo sakit masih aja ribut ya."

"Pacaran aja terus!"

Baru saja ingin membalas nistaan Max, Mentari sudah terintrupsi oleh suara yang berasal dari gedung. Ternyata seorang dosen cantik bergelar killer memandangi mereka sejak, ya mungkin 10 menit yang lalu.

"Eh, eh... Nggak, bu. Ini loh si anu, siapa nama lo?" Mentari mengalihkan pandangannya pada cowok disampingnya.

"Max."

"Nah, iya!" dengan secepat kilat Mentari langsung memutuskan kontak matanya beralih ke dosen. "Ini nih, buk. Si Max ngambil lahan parkir saya, kan saya nggak terima tuh buk, ya kali saya yang harus ngalah sama dia. kan dia cowok ya, buk? Harusnya dia—"

M E N T A R IBaca cerita ini secara GRATIS!