Lyora POV

Keenan Guxford, pria yang satu ini sangat pandai mencuri perhatianku. Tapi bukan karena pesona yang dia miliki. Melainkan perkataan yang baru saja diucapkannya.

"Kau adalah gadisku, sejak aku menemukanmu dalam kegelapan waktu itu."

Perkataan itu selalu terputar dalam otakku. Entah apa maksud pria itu saat mengatakannya. Bagaimana seorang pria bisa menganggap wanita yang baru saja ia temuni sebagai gadisnya?

Tubuhku masih saja terpaku ditempat yang sama saat Ken pergi meninggalkanku menuju walk in closet, Aku bersyukur saat kau menemukanku kala itu, Ken. Tapi aku tak tahu apakah aku harus bersyukur atau tidak saat kau mengatakan bahwa aku ini gadismu. batinku.

"Kau harus bersyukur. Karena aku sangat mencintaimu, Lyora Chasin'lvy."

Suara jantan seorang pria tiba-tiba saja hadir ditengah-tengah lamunanku.

Sontak saja ku angkat kepalaku yang tertunduk kearah sumber suara itu. Ken. Ya, pemilik suara itu tak lain adalah Ken. Pria aneh yang menganggapku sebagai gadisnya. Dan apa katanya barusan? Dia mencintaiku?

"Berhentilah membaca kata hatiku, Ken." pintaku dengan suara yang lirih.

"Berhentilah membatin karna semua itu percuma saja, sayang." balas Ken seraya berjalan menghampiriku dengan langkah gagahnya. Kedua tangan yang ia selipkan kedalam saku celana membuatnya terlihat cool saat berjalan. Suit yang dikenakannya pun menambah aura ketampanan yang ia miliki.

Saat langkahnya terhenti dihadapanku, langsung saja aku menundukkan kepalaku agar mataku tak bertemu dengan sepasang mata indah miliknya.

Tapi percuma saja karena dengan cepat Ken menahan pergerakan kepalaku menggunakan kedua telapak tangan kekarnya untuk menangkup pipiku, "Tak apa jika kau belum terbiasa dengan cintaku. Lama-lama kau juga akan terbiasa." tuturnya santai.

Seberani mungkin aku menghindari sentuhan lembut pria itu dengan menampik kedua tangannya agar terlepas dari pipiku yang mulai memanas, "Bagaimana kau bisa mencintai seorang wanita sebegitu mudahnya, Ken?"

Ken menyeringai, "Mencintaimu tidaklah mudah, Lyora."

Ku kerutkan dahiku, "Apa maksudmu?" tanyaku kebingungan.

"Karna kau sulit ditaklukkan. Saat aku menciummu, kau tak membalasnya. Saat aku berkata bahwa kau ini gadisku, kau hanya diam. Saat aku menyatakan cintaku, kau meragukanku. Jadi, apakah seperti itu dapat dikatakan mudah?"

Bibirku terasa kelu saat mendengar penjelasan yang Ken lontarkan. Tubuhku pun semakin terpaku lebih dalam ditempat yang sama.

Melihat diamku, pria bermata abu-abu itu pun bertindak dengan menyunggingkan seringaian nakalnya, "Apa kau tidak bisa berciuman hem?"

Kedua bola mataku membulat penuh seketika. Aku merasa malu saat mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba Ken merengkuh pinggangku lalu menarik tubuhku yang tadinya terpaku menuju dada bidangnya yang terbalut navy suit.

Sontak saja aku menahannya dengan mengarahkan kedua tanganku didepan dada bidangnya itu. Telapak tanganku mendeteksi detak jantungnya yang random. Aroma maskulin yang khas pun mulai menusuk pancainderaku.

"Aku akan mengajarimu caranya berciuman, sayang." bisik Ken tepat disamping telingaku dengan suaranya yang berat.

Dengan susah payah aku meneguk salivaku. Detak jantungku pun mulai berpacu tak karuan. Perlahan Ken mendekatkan wajahnya pada wajahku. Saat jarak antar wajah kami yang hanya beberapa centi saja, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan menampakkan sesosok wanita cantik blonde hair.

My Coolest Guardian AngelBaca cerita ini secara GRATIS!