In Your Eyes

3.1K 251 53
                                                  



Warn:
Bahasanya berat.
Penuh Diksi mendayu-dayu , bikin mual
Yang ga suka keju dan gula, harap mundur teratur..

____

Author: Pada Pujangga, Penulis, Pembaca saya haturkan, "Maaf, Maaf, Maaf".

____

"Wajah porselen begitu nyata, senyuman tipis dengan titik rasi pemikat. Sungguh begitu menggebu jantung ini saat bertemu. Aku bukan siapa-siapa, bahkan setelah menulis ini aku tetap bukan siapapun, anggaplah aku seorang yang tidak ingin kau temui. Tapi asa menyanggah rasa berubah menjadi harap. Aku hanya orang yang menatapmu saat senja dibangku coklat gelap dibawah pohon Oak baris kelima. Tempat favoritmu."

"Setiap pukul 5 sore kau duduk disana, tersenyum samar lalu memejamkan matamu. Aku suka saat angin membelai wajahmu, menerbangkan rambutmu acak, mengukir senyuman lebarmu. Aku tidak yakin tepatnya kapan. Saat musim semi pertengahan tahun lalu aku sadar, kau canduku."

"Berkali kucoba enyahkan rasa yang menggelitik perutku, namun lagi-lagi kakiku tahu dimana tempat aku bisa menentramkan jiwa."

"Aku menyadari aku salah, memupuk rasa menjadi harap. Aku juga membiarkan rasa menjadi liar, menginginkanmu lebih itu adalah mimpi indah, namun memilikimu seperti ingin menjangkau langit. Memutuskan asaku, lalu menerbangkannya keangkasa."

"Rasaku tak memerlukan balas, harapku tak menginginkan wujud, tapi aku butuh kau mengetahuiku, lelaki yang memandangmu saat senja dibalik peraduanmu"

"Boleh kau pegang janji, rasa yang kupikir adalah CINTA ini hanya padamu, janjiku aku hanya mencinta-mu, ingatlah aku akan memberikan seluruh milikku padamu, ingatlah ada seorang lelaki disudut dunia yang mencintaimu sama seperti ia mencintai hidupnya"

"Laki-laki perenggut hati, usah kau pikir rasaku ini, cukup kau tahu dan memahami. Jangan membalas cinta nan semu, jangan mengabul harap yang kosong. Karena aku mencintaimu tanpa batas, tanpa harap balas"

Seorang penuh harapan gila, dan sesak akan cinta didalam pikirannya.

KDN

------------

Gemuruh langit hitam pekat dikeheningan malam memamerkan keindahan layar hitam dihiasi berpuluhribu gemintang, mengelilingi sang pemilik pesona, sang bulan. Bahagia dirasa sang rembulan dikelilingi oleh bintang yang tidak terhitung banyaknya, tampak bulan malu-malu bersembunyi dibaling awan pekat.

Lelaki berpostur tubuh ramping duduk diatas atap apartementnya, memandangi langit dengan kertas lusuh dalam genggaman. Berkali-kali ia tak merasa jengah membaca deretan kata berlandaskan cinta yang ia temukan dibangku coklat dekat pohon Oak baris kelima, tempat favoritnya.

Angin berhembus kencang, ia mengeratkan sweater bulu tebal yang ia kenakan, berdiri lalu beranjak,

"Lelaki bodoh, menyatakan perasaan tapi tidak mengharapkan balasan? Apa itu seperti menjangkau langit? Bahasanya payah sekali!" bergumam lalu memasukkan kertas ditangannya setelah melipatnya dengan rapi terlebih dahulu.

______________

KDN Point of View

Lagi, serbuan rasa menyakitkan menikam dadaku mengoyak pertahanan mengalirkan bulir-bulir cairan bening menganak sungai dipipi. Acap kali sakit ini menyerbu dadaku, membuat tubuhku mengejang menahan perih tak tertahankan. Dalam lima menit ia merasuk didalam syarafku, dan aku akan merasakan sebuan sakit yang tak terhingga.

OngNiel - Undivided (Oneshot Collection) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang