Tiga pagi menyapa sekeping hati Menyatukan rasa dari ujung pebentang hari Meniupkan ribuan kisi-kisi rindu yang menepi Sekali lagi kuraba wajah langit tak bersisi Menelan kelamnya malam berwajah sepi Hingga terlelapnya hati berwarna sunyi
Untuk gadis berkucir kuda dari manusiasi keras kepala.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan sakit lagi ya pacarnya aku!"
Gadis berambut sebahu yang berjalan diseret di tengah lapangan indoor itu sudah berdecak kesal melihat tingkah Aken. Ya bagaimana Dea tidak kesal coba, bukannya segera menyusul teman-temannya ke ruang laboratorium Kimia, pacarnya itu malah melipir ke lapangan lalu berteriak keras, lengkap dengan lengan kokoh yang sudah membuat lambang hati di atas kepala ke arah Dea.
"Udah berapa kali sih aku bilang!" teriak Dea. "Dilarang bikin baper di tempat umum!"
Melihat lucunya hubungan Dea, entah mengapa gadis berkucir kuda itu kembali dilanda rasa iri dalam dada. Kenapa ya dulu hubungan dia dengan Bara tidak semenyenangkan itu?
Hei! Masa lalu ya masa lalu, Wida! Kenapa malah jadi diungkit lagi, sih?!
Gadis berseragam olahraga itu langsung menggeleng cepat. Apalagi guru olahraga mereka juga sudah berjalan mendekat.
"Cie! Diapelin sama supirnya lagi, nih?" ejek Pak Bams pada Dea. Iya, semenyenangkan itu juga guru olahraga mereka. Apalagi kalau sudah sama Dea. Sudah masih muda, bawaannya cuma mau bercanda.
"Duh jadi malu-malu keongkan saya, Pak!" balas Dea, menutupi sebagian wajahnya.
Pak Bams yang melihat langsung menggelengkan kepala. Heran juga beliau lama-lama sama kelakuan muridnya satu ini. "Itu kenapa lagi pergelangan kaki kamu diperban?"
"Habis jatuh, Pak."
"Jatuh cinta?"
Dengan air muka bahagia, gadis itu langsung menjawab penuh membara. "Ih, kok Bapak tahu, sih? Ngintip hati saya, ya?"
"Dasar bocah gendeng! Udah sana kamu duduk di pinggir lapangan."
"Siap, Kapten!"
Sesuai interupsi dari Pak Bams, selaku guru penjas SMA Negara. Pada jam olahraga kali ini, anak-anak disuruh membentuk barisan dua bersaf di lapangan basket indoor.
"Oke, karena kita juga semakin dikejar sama ujian praktek dan minggu lalu kita sudah ambil nilai untuk push-up, maka hari ini kita akan ambil nilai untuk sit-up. Mengerti?" teriak Pak Bams di tengah lapangan.
Kumpulan anak berseragam olahraga itu hanya ber-oh ria. Entah mereka jelas atau tidak. Atau mereka memang sudah capek sebelum perang dengan hari-hari menjelang ujian negara.
"Kalau gitu, biar Bapak mudah menghitung jumlah sit-up kalian, silakan cari pasangan sendiri. Bebas, yang penting dalam hitungan lima detik kalian sudah harus mempunyai partner. Mengerti?"