7

548 15 1

"Kenyataan yang menyakitkan bisa menjadi awal dari kebahagiaan baru."

                             ^^^^

       Aldan pulang, mama menyambutnya dengan pertanyaan, "Kamu sudah bertemu Asya?" tanyanya ingin tahu.

       "Sudah." jawab Aldan sambil lalu, dia ingin segera masuk kamar dan istirahat.

       "Kamu tidak bohong kan!" seru Mama Aldan tak percaya.

       "Telpon saja Asya, kalau tidak percaya." jawab Aldan diiringi suara pintu kamar yang tertutup.

                            ****

       Asya telah kembali dari toko, dan dia masih memandangi kotak biru yang tadi siang diterimanya. Warnalah yang membuat Asya ragu untuk melihat isi kotak itu. Dia masih ingat kalau Putera sering mengatakan kalau warna biru adalah lambang kesedihan untuknya, hal inilah yang membuat Asya ikut tak menyukai warna biru.

       Perlahan Asya mulai membuka kotak kecil itu dengan hati-hati. Setelah dibuka, ternyata isinya hanyalah selembar kertas yang dilipat berbentuk segitiga. Jika diamati, lipatan seperti itu terasa sangat familiar di ingatan Asya.

       Setelah dibuka, terpampanglah dua baris tulisan disana. Asya sangat mengenal tulisan itu, dia yakin kalau pengirim kotak itu adalah Putera. Asya langsung membaca isinya penuh semangat.

*Aku akan menunggumu di tempat biasa kita bertemu, besok siang. Putera*

       Asya sangat senang, Putera ternyata telah kembali dan mengajaknya bertemu. Hal inilah yang selama ini dia tunggu, Asya rasa penantiannya tak akan berakhir sia - sia, karena dia punya alasan untuk membatalkan perjodohan yang dibuat orangtuanya.

       Kekhawatiran yang tadi sedikit mengganggu, akhirnya menguap begitu saja. Setelah tiga tahun, dengan masa penantian yang cukup panjang dan melelahkan batinnya, semua itu telah hilang berganti rasa bahagia yang tak terkira.

       Asya belum memberitahukan kabar itu pada keluarganya karena dia ingin hal itu menjadi kejutan untuk mereka. Asya benar-benar tak sabar ingin segera bertemu Putera dan menanyakan banyak hal, juga menceritakan apa yang selama ini dia alami serta rasakan.

                             ****

       Aldan kembali memandangi undangan Naila ragu, akhir-akhir ini dia memang mulai memikirkan mengenai pernikahan, apalagi jika melihat undangan pemberian Naila.

       Pikiran Aldan tiba-tiba dimasuki oleh Asya. Dia masih ingat, saat dia datang ke toko dan memandang Asya yang tengah berpikir. Tanpa sadar, Aldan tersenyum namun beberapa detik kemudian dia segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Dia lebih memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata.

       Aldan mungkin memejamkan mata, tapi jelas sekali pikirannya belum dapat beralih kemana pun selain Asya. Dia belum sadar kalau sejak beberapa waktu yang lalu, dirinya telah terpengaruh oleh Asya.

       Pada dasarnya, Aldan ingin menikah tapi dia takut akan resiko dari pernikahan itu. Dia selalu melihat kalau kebanyakan hubungan teman-temannya yang telah menikah kandas begitu saja, yang terjadi setelah itu adalah perebutan hak asuh anak, lalu uang mereka diserap terus oleh mantan istri mereka dengan alasan keperluan anak.

                             ****

       Sesuai surat yang Asya terima, dia datang ke tempat favoritnya dan Putera jika mereka pergi bersama. Dia bahkan sengaja datang lebih awal agar Putera tak harus menunggunya. Tapi hingga hampir setengah jam, Putera belum juga tiba.

       Asya mulai gelisah, takut terjadi sesuatu tapi akhirnya Putera tiba juga. Dia langsung duduk dihadapan Asya, tanpa mengatakan apa pun. Asya bahkan tak menyadari itu karena perhatiannya lebih tertuju pada penampilan baru Putera. Dia jadi terlihat lebih rapi, lebih berwibawa dan lebih tampan. Itu yang Asya pikirkan setelah beberapa tahun tak melihat Putera.

       "Bagaimana kabarmu?" tanya Putera mengawali.

       Asya tersenyum, "Aku baik, bagaimana denganmu? Apa urusanmu sudah selesai?" Asya sudah mulai ingin tahu.

       "Sudah." jawab Putera singkat. Raut wajahnya tidak terlihat semangat, ada sesuatu yang dia sembunyikan.

       "Aku sempat berpikir kalau kamu tak akan kembali, tapi aku sangat senang mengetahui kamu sudah kembali. Aku selalu mencoba menghubungimu, tapi nomormu tidak aktif. Apa ponselmu hilang?" yang Asya penasaran.

       "Sya..." Putera terdiam sejenak, "Aku mau minta maaf padamu." ujarnya melanjutkan.

       "Minta maaf untuk apa! Melihatmu kembali saja aku sudah sangat senang. Jangan permasalahkan mengenai aku, aku baik - baik saja kok!" hibur Asya.

       "Bukan itu yang kumaksudkan. Kenapa pemikiranmu selalu seperti itu?" Putra mulai terlihat kesal, "Seharusnya kamu melanjutkan hidupmu, kenapa kamu menungguku?"

       Asya tidak mengerti maksud ucapan Putera, "Itu karena aku percaya, akhirnya kamu kembali juga kan!"

       "Tak seharusnya kamu mempercayai semua perkataanku. Aku benar - benar tak pantas untuk kamu cintai, Sya." Asya mulai menangkap ada sesuatu yang salah dengan pembicaraan mereka, perasaannya terasa aneh.

       Putera yang tak tahan, berdiri dari duduknya lalu meninggalkan sesuatu di meja. Asya yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa terpaku disana, benda dihadapannya lah yang membuat Asya terpaku. Dia bahkan seperti kehilangan suara saat ingin memanggil nama Putera.

                             

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!