Chapter 140: Perlakuan Untuk Kedua Pahlawan

2.9K 136 45

Untuk sesaat, tidak ada yang mengatakan apapun. Liliyn hanya menghela nafas dengan takjub, sementara suara Nikki "Ooh~! Wujud Shishou yang itu memang yang terbaik!!" dapat terdengar jelas. Lalu setelahnya, suara Mikazuki yang mengatakan "Ya! Ya! Penampilan normal Master memang yang terbaik!" pun dapat terdengar.

Bahkan Aquinas pun sangat terkejut karena kata-kata dan tindakan Hiiro sampai-sampai dia lupa berkedip seakan-akan sedang membeku.

"A-A-A-A...." (Eveam)

Eveam terus menerus mengatakan huruf yang sama dengan interval yang teratur. Saat dia melakukan itu, hasrat ingin membunuh yang luar biasa pun mulai keluar dari Marionne, dan saat tangan kanannya akan menyerang Hiiro-

Gatsu!

-Aquinas telah memegang tangannya sebelum Marionne sadar akan hal itu.

"Ap-?! Aquinas, kau sialan!" (Marione)

Sambil memerintahkan Aquinas untuk melepaskan tangannya, dia mencoba menggerakkan tangannya untuk lepas dengan paksa.

"Kau sialan! Kenapa kau berani menghentikan aku! Dia adalah Humas kau tahu! Dia berkonspiasi dengan para pahlawan dan membawa mereka ke sini untuk membunuh Yang Mulia!" (Marione)

Prajurit yang ada di sekitar sana terkejut dengan kalimat Marionne dan mulia melihat Hiiro dengan pandangan yang penuh dengan hasrat ingin membunuh.

"Uu~ aku ketakutan..." (Mikazuki)

Mikazuki memegang baju Hiiro dengan gelisah. Nikki mengatakan "Musuh Shishou adalah musuhku!" dengan nada kekanak-kanakkan sambil menyiapkan posisinya.

Ekspresi optimis Silva yang sebelumnya kini sudah berubah menjadi wajah meringis. Liliyn hanya melihat saja kelanjutan situasi ini seperti biasa sementara Shamoe berdiri di belakangnya sambil berteriak "Feeee~" dengan bingung.

"Yang Mulia! Kita harus segera menangkap dan mengurung mereka!" (Marione)

"Ki-Kita tidak bisa melakukan itu!" (Eveam)

"Ap-?! Kenapa?!" (Marione)

"Me-Memang benar kalau dia adalah seorang Humas, maka itu menjelaskan alasan mengapa dia mengenal para pahlawan. Aku juga terkejut saat dia mengatakan kalau dia juga di-summon, namun kalau itu benar, berarti dia juga datang dari dunia lain. Sepertinya dia dipaksa datang ke dunia ini oleh Raja Victorias. Kalau kau memikirkannya seperti itu, maka Hiiro adalah korban dari takdir!" (Eveam)

"Mu-Muuu. Ta-Tapi mungkin saja kalau itu adalah tipu daya yang bertujuan untuk menipu Yang Mulia!" (Marione)

"Itu salah." (Aquinas)

Marionne menjadi marah karena Aquinas memotong pembicaraan mereka.

"A-Apa maksudmu itu? Apa kau punya bukti yang kuat untuk itu?" (Marione)

"Mataku bisa melihat semua kebenaran. Kau tahu tentang hal itu juga kan? Sangatlah mustahil untuk menjawab pertanyaanku dengan kebohongan. Apa yang Hiiro katakan semuanya adalah kebenaran." (Aquinas)

Aquinas melihat ke arah Hiiro.

"Dan Marionne, kalau kau akan melakukan sesuatu, mungkin saja tidak akan bisa menang, kau tahu?" (Aquinas)

"Apa yang kau katakan...?" (Marione)

Kalau Marionne langsung menyerang saat itu, Hiiro sendiri sudah menyiapkan banyak cara untuk menghadapinya. Saat dia memasukkan lengannya ke sakunya, dia tetap mengeluarkan sihir ke ujung jarinya. Saat melakukan itu, Hiiro pun bersiap untuk menulis kata untuk merespon situasi apapun yang mungkin terjadi.

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!