37

83.6K 5.8K 457

Azkil dan Bian tampak sedang menikmati makan siang di kantin rumah sakit, Bian adalah dokter di rumah sakit ini sekaligus dokter yang diminta secara khusus untuk menjaga Alana dan
sedang bersekongkol dengan Azkil untuk mengerjai keluarganya Alana. Ini adalah misi rahasia Azkil dan yang berperan di sini adalah Bian sebagai dokter dan Alana sebagai pasien, tentu Azkil sebagai sutradaranya.

Azkil masih tidak dapat menahan tawanya melihat ketakutan orang-orang karena Alana yang masih kritis dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Bukan bermaksud jahat atau apa, ia hanya ingin memberi pelajaran kepada orang-orang yang telah menyakiti Alana terutama Winata, Airyn dan daddy-nya yang mengabaikan Alana.

Rencana konyol ini dimulai saat Alana dan Azkil hanya berdua di ruangan itu dan tiba-tiba Alana sadarkan diri tapi Azkil ingin Alana tetap berpura-pura tidur layaknya orang yang koma bahkan dokter yang menangani Alana saat itu diminta oleh Azkil agar Bian yang menggantikan posisinya untuk menangani Alana, setelah Azkil menceritakan maksudnya kemudian dengan mudah dokter itu menyetujui karena Azkil juga adalah mahasiswanya yang cerdas dan Azkil bersyukur akan itu.

Masalah kejang-kejang kemarinpun sudah diatur sedemikian rupa oleh Azkil.

"Sampai kapan drama ini berakhir?" tanya Bian setelah meneguk air mineral di hadapannya.

Azkil menaikkan sebelah alisnya. "Sampai kak Bian menikah sama kak Lexa."

Azkil sama halnya dengan Alana yang sudah mengenal Bian jauh sebelumnya.

Bian menghela napas kasar. "Ngawur, back to the topic. Jangan bahas masalah aku."

Azkil memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena itu adalah masalah pribadi Bian. "Sampai aku puas melihat mereka sedih dan terluka. Dengan begini 'kan kita jadi tahu siapa yang benar-benar takut kehilangan Alana."

Siapa sangka Alana yang terbaring koma di rumah sakit itu hanya rekayasa semata.

***

Alana rasanya lelah merem terus dari kemarin, ingin sekali ia melihat wajah cantiknya Zea tapi apa daya Azkil masih melarangnya untuk membuka mata, tapi Alana tidak bisa memungkiri kebahagiaannya karena mendengar orang-orang yang ia sayang khawatir terhadapnya terutama Winata dan Airyn, ternyata mereka masih menyayangi Alana.

Ruangan ini kapan sepinya 'kan aku capek merem terus?

Samar-samar ia mendengar suara Zio yang begitu ia rindukan.

"Abang, Zea cantik, Zio suka!"

Varel memutar bola matanya kesal, entah sudah berapa kali bocah lima tahun itu berbicara seperti itu sampai Varel bosan mendengarnya. "Dasar kids jaman now."

"Daripada kamu kids jaman old!" ledek Gavril yang membuat Zio tertawa terbahak-bahak.

"Tuaan abang Gav daripada dedek Rel."

Zio menatap geli Varel. "Jijik!"

Gavril dan Varel menatap heran Zio, bocah lima tahun tapi banyak sekali bahasa-bahasa alien yang ia tahu.

Airyn yang sedari tadi menggendong Zea hanya tersenyum tipis mendengar obrolan absurd dari tadi. Zio menatap Airyn. "Tante jahat, sini biar Zio yang gendong dedek Zea!"

"Siapa yang nyuruh Zio panggil tante jahat?" tanya Gavril.

"Soalnya dia sering sakiti kak Alana," balas Zio polos, entah Zio tahu darimana hal itu.

"Panggil kak Airyn saja, seperti Zio panggil kak Alana," ujar Airyn yang tidak terima dipanggil tante apalagi ada embel-embel jahat di belakangnya.

Alana (Tersedia di Gramedia) ✔Baca cerita ini secara GRATIS!