Vote&comment ya, Himeddict.. 😊❤
----------
"Ya, dia adalah bidadari yang tidak bersayap, tapi berhijab."
----------
Virgoun - Bukti

***

Pukul 06.00 WIB. Sang fajar telah terbit dari tempat persembunyiannya. Sinarnya mulai melesak dan memancar perlahan di ufuk timur. Hangat rasanya. Tapi, tetap saja rasa dingin itu masih ada, karena temperatur di Bandung memang sangat dingin. Ya, wajar saja, karena ini bukan di pusat kota.

Kalau di pusat kota Bandung, pasti tidak akan sedingin ini. Pun, tidak akan sedamai ini di jam-jam pagi. Sudah bisa dibayangkan kalau di pusat kotanya bagaimana, pasti akan ramai dan macet tentunya.

"Dek, kamu lelah, ya? Mau kakak gendong aja?" ucap Syammiel seraya menuntun tangan gadis kecil bernama Tasya, adik kandungnya.

Gadis kecil berponi dan berambut panjang itu memberengut. Kedua alisnya bertaut dan bibirnya maju beberapa centimeter. "Ish, Kakak! Nggak mau ah! Tasya nggak lelah kok, Kakak aja yang suka berlebihan," ambeknya seraya menengadah, menatap Syammiel yang jauh lebih tinggi darinya.

"Uuuh! Calm down, My Pretty Sister! Calm down...," tutur Syammiel seraya membungkuk dan menarik kedua pipi gadis kecil itu. Ia merasa gemas pada adik kecilnya itu. Ingin memperlihatkan kemarahannya, tapi raut wajahnya selucu itu. Tasya-san wa kawai desu ne.

"Ish! Kakak!! Pipi Tasya jangan ditarik-tarik gitu, dong! Nanti pipi Tasya jadi tembem, aku gak mau...," omel gadis kecil berkulit putih itu. Ia mencebik kesal pada kakaknya, Syammiel.

Syammiel tersenyum lebar. Ia menunjukkan deretan gigi putih dan rapinya pada adik kecilnya itu. "Iya, iya. Maaf ya, Tasya Cantik...," tuturnya seraya menepuk-nepuk poni Tasya dengan pelan.

Akhirnya, Tasya tak gusar lagi pada Syammiel. Gadis kecil itu memang mudah sekali ngambek, apalagi kalau dijaili oleh kakaknya yang usil itu. Tapi, ia juga mudah luluh pada sikap kakaknya, apalagi jika Syammiel mengiming-iminginya dengan es krim dan cokelat. Tasya pasti akan riang kembali dan melupakan rasa kesalnya.

Setelah itu, Syammiel dan Tasya melanjutkan aktivitasnya yaitu jogging. Tasya mendahului Syammiel. Entah kenapa lari gadis kecil itu begitu lincah dan secepat itu. Atau mungkin, Syammiel yang sengaja jogging dengan tempo sedang---agar ia tetap bisa memantau adik tersayangnya.

30 menit pun berlalu.

Syammiel dan adiknya, Tasya, berhenti di tepi jalan raya yang kini mulai terlihat ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Tubuh mereka berdua sudah terasa panas, keringat pun tampak bercucuran di pelipis mereka.

"Kak Cam, Tasya haus, Kaaak," rengek gadis kecil itu. Ia mengelap keringat di pelipisnya dengan punggung tangannya sendiri.

"Kalo gitu kita ke minimarket yang di sana ya, Dek," ucap Syammiel seraya menunjuk sebuah minimarket yang ada di seberang jalan. Nama minimarket itu pun sudah sangat familiar di telinga masyarakat.

"Iya, Kak, ayo!" seru Tasya.

Setelah itu, Syammiel dan gadis kecil itu menyeberang jalan yang saat itu tak begitu lengang. Mereka masuk ke dalam minimarket itu dan langsung menuju ke tempat minuman.

Syammiel memilih dua botol air mineral dan satu buah minuman isotonik untuknya sendiri, lalu ia melihat ke belakang. Tidak ada Tasya di situ. Ke mana dia?

"Kaaak!" panggil Tasya dengan nada setengah berteriak. Ia ada di sana, di depan kotak freezer. Ia pasti sedang mengincar es krim atau minuman dingin.

Syammiel menghampirinya lalu berkata, "Jangan makan es krim dulu ya, Dek ... kamu kan belum sarapan."

"Yaaah, Kaaak," rengek gadis kecil itu. Ia mulai merajuk seraya mengerucutkan bibirnya.

"Boleh dibeli, banyak juga gapapa. Asal ... dimakannya nanti, setelah kamu sarapan. Oke, Adik kecilku yang cantik?" bujuk Syammiel seraya mengelus-elus rambut Tasya dan menatapnya dengan penuh sayang.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!