Chapter 0.01 : Ephemeral

15.9K 2.6K 459
                                                  

Ephemeral - First impression that makes the heart flutter

Jira masih begitu ingat ketika Kim Seokjin baru saja pindah di rumah kosong tepat di samping rumahnya sekitar beberapa bulan yang lalu. Sekitar hampir tiga bulan pria itu dan si kecil Jungkook selalu berhasil mencuri perhatiannya. Bayangkan saja, saat Jira terjaga dan membuka tirai jendela kamar, hal pertama yang ia temukan adalah sosok Seokjin yang tengah memegang selang air dan terlihat begitu tenang menyirami pekarangan rumahnya yang berumput hijau.

Tidak ada yang salah. Ayah biasa melakukan hal itu dan Jira juga sering melihatnya. Tetapi satu hal yang mencuri perhatiannya. Surai kecokelatan Seokjin yang ditempa sinar mentari, baju rumahan yang terlihat longgar dan tipis, sesekali lekuk tubuhnya akan tercetak pada kaus saat angin menerpa tubuhnya. Ketenangan yang ia tunjukkan bahkan menghipnotis Jira, lihatlah bagaimana ia begitu tenang meladeni celotehan menggemaskan Jungkook yang tengah bermain di atas kolam pasirnya, ia menggumam, sesekali tertawa gemas mendengar si kecil mulai menceritakan beberapa hal yang ia senangi, hei, telapak tangannya yang menyusup di balik saku celana kain panjangnya itu adalah bonus untukku!

Tidak hanya itu, Jira masih ingat saat Seokjin datang berkunjung untuk pertama kalinya. Suatu perkenalan singkat antara tetangga baru.

Saat itu Jira baru saja mendapat jatah tidur setelah semalam suntuk berkutat dengan tugas akhir, memilih menghabiskan beberapa cangkir kopi dan sekotak biskuit keju sebagai teman terjaga. Gadis itu baru saja terlelap setengah jam saat itu, tetapi guncangan hebat dari ibu membuat kesadarannya kembali sekejap mata.

"Ada apa, bu? Jangan bilang Ibu membangunkanku seperti ini hanya karena melihat tikus di dapur, suruh saja Ayah untuk menangkapnya, jangan berlari ke sini dan menyuruhku untuk menangkapnya. Aku mengantuk."

Jira ingat bagaimana ekspresi ibu saat menarik kembali selimut tebal yang sengaja ia kenakan hingga menutupi kepala. Irisnya melebar seperti habis melihat hantu saja.

"Jira, kau harus keluar. Tetangga baru datang menyapa dan berkunjung."

Kepala itu menggeleng cepat, sekali hentakan angin merebut kembali selimut yang sempat ibu genggam dan berusaha kembali untuk terpejam. Tetapi, apa yang Jira inginkan tak sesuai dengan apa yang terjadi saat itu. Ibu menarik selimutnya begitu hebat hingga sinar mentari yang menerobos melalui celah jendela kamar berhasil menyakiti netranya begitu hebat.

Setelah beberapa paksaan yang mengganggu, Jira memilih mengadu kedua tungkainya dengan sedikit diseret. Kedua kelopak matanya begitu berat, rambut acak-acakkan, wajah bangun tidur yang berminyak, dan ia benar-benar berantakan.

Ibu berceloteh tentang pria rupawan yang menjadi tetangga baru kami. Ia memiliki seorang anak berusia empat tahun. Tetapi Jira tak benar-benar mendengarnya. Gambaran dalam bayangan gadis itu adalah sosok bertubuh gempal, botak dan terlihat classy, oh, jangan sampai ia mengganggu mataku di pagi buta seperti ini.

Jira ingat ketika berhenti pada undakan di dekat pintu depan dengan iris yang menyipit saat menemukan sosoknya menghalangi cahaya matahari, pria berbahu lebar itu berdiri membelakanginya. Ia memakai setelan semi-casual. Kemeja putih fit body, celana bahan berwarna hitam, sepatu fantofel berwarna senada dengan surai kecokelatannya yang menawan. Tingginya semampai, ia terlihat menggendong seorang bocah, dan yang terakhir kali Jira sadari adalah ... aroma maskulin berpadu pinus segar yang tertangkap penciuman.

Terakhir kali Jira kesulitan bernapas adalah saat Jung Hoseok─sepupu laki-lakinya─itu secara tidak sengaja meninggalkan Jira di tepi kolam berenang dan hampir tenggelam saat berusia delapan tahun. Tetapi kali ini Jira tidak sedang berada di dalam kolam berenang, apalagi merasakan tubuhnya habis ditenggelamkan oleh air dalam jumlah yang banyak, ia hanya seperti kehilangan seluruh napasnya saat pria itu berbalik dengan buntalan lucu di dalam gendongannya.

Poninya yang terbelah memperlihatkan dahi indahnya, wajah kecil yang begitu rupawan, bahunya yang begitu lebar terlihat begitu nyaman untuk dipakai bersandar, dan tubuhnya yang tinggi semampai. Bibir kemerahannya terlihat begitu ranum dan manis, siap untuk dipetik. Irisnya yang seperti permata dan jangan lupakan urat-urat pada lengannya yang terlihat menonjol ketika menggendong si kecil menggemaskan itu. Hal ini tentu membuat Jira harus meneguk salivanya dengan begitu kepayahan.

Menggoda sekali, bukan?

Ibu bilang ia adalah seorang single parent dan anak yang berada di dalam gendongannya adalah anak laki-lakinya. Oh, lihatlah bagaimana bocah mungil itu terlihat begitu tenang dalam gendongan sang ayah. Ia bahkan terlihat tengah asik menghisap ibu jarinya. Benar-benar membuat gemas seisi semesta.

"Nak Seokjin, perkenalkan ini anak Ibu. Ia sebenarnya gadis yang cantik, hanya saja ketika bangun tidur seperti inilah tampilannya."

Oh, sial! Aku lupa mencuci muka.

Dengan pipi yang terasa panas, Jira membungkuk begitu dalam di hadapannya, berharap Seokjin akan cepat melupakan bagaimana pertemuan mereka yang buruk ini. Jira juga berharap Seokjin melupakan tentang wajah kusam berminyaknya, juga berharap bahwa tidak ada kotoran di matanya. Jira bisa gila.

Pemuda itu tersenyum lantas ikut membungkuk, setelah ia benar-benar menegakkan punggungnya, si kecil menggemaskan itu ikut membungkuk dan melepas ibu jari dari mulutnya, sebelum merentangkan kedua tangannya di udara berusaha menggapai-gapai presensi Jira seraya berkata dengan suara yang begitu menggemaskan. "Noona, gendong." <>

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang