satu

336 172 266
                                        

Gean Abditama. Aku bisa menyebutnya mata. Mata lentik yang sering aku gambar setiap harinya di atas kertas. Kamu pasti udah bisa nebak, gimana perasaan aku ke dia? Dia adalah cowok Universitas Indonesia jurusan teknik mesin sekaligus pencipta lightsaber mainan. Haha, mainan untuk anak-anak.

Aku kagum dengan dia. Gean itu kreatif. Gean, adalah pahatan Tuhan yang nyaris sempurna. Saat itu, aku melihatnya pada pandangan yang pertama. Seketika itu, aku melihat lightsabernya dahulu yang ia jual di depan kampus. Lalu dia menawariku untuk membelinya.

"Mau yang ini mbak?" Gean menatap mataku sambil menaikkan alis tipis hitamnya. Gean sedikit merundukkan posisi badannya mensejajari posisiku. Dengan ramah, ia menunjukkan lightsaber warna hijau yang sedari tadi aku pandang. Aku lalu memutuskan untuk memandang wajah Gean sebentar. Wajah Gean rupawan dan tidak dingin. Wajahnya cool. Matanya lentik, teduh, dan tulus. Ia lalu tersenyum padaku.

Terlalu sempurna...

"Iya mas, yang itu warnanya pink." aku menunjuk lightsaber yang Gean pegang sambil membalas senyumnya. Tapi sayang, ia malah membalas lagi dengan wajah bingung. "Ini warna hijau, gak ada warna pink disini." Aduh aku bagai orang yang buta warna dibuatnya. Tidak apa-apalah. Yang penting aku tidak buta warna kalau melihat rupanya. Rupa kulitnya yang sawo mentah. Dan aku gak mungkin menyebut warna kulitnya seperti sawo busuk atau sawo matang. Haha, gak mungkin. Karena rupa Gean tidaklah hitam, dan tidak juga putih.

"Oh iya, yang warna hijau." Ku selipkan rambut sebahuku yang tergerai di kuping kanan. Aku mengambil uang di tasku. Tasku yang bewarna pink. Btw, warna pink adalah warna kesukaanku. Kemudian, aku mengganti lightsabernya dengan sehelai kertas warna hijau yang bisa kamu sebut uang 20 ribu rupiah.

"Makasih... besok kalau lightsabernya rusak beli lagi ya!" kata Gean membuatku tertawa. Aku lalu menganggukkan kepalaku dengan manis.

-

bantu vote ya raeders. Semoga berkah.

"kamu adalah ketidakmungkinan yang ku semogakan"

LightWhere stories live. Discover now