:one:

4.1K 333 55
                                                  

Bagi Park Sooyoung, hidup di desa terpencil yang bahkan lebih buruk ketimbang perumahan kumuh di dekat rumahnya adalah mimpi buruk terbesarnya.

Gadis itu masih ingat betul saat ketika Ibunya membawanya kemari menggunakan bis tua yang mesinnya amat berisik. Dan jangan lupakan fakta, bahwa bis itu mengeluarkan asap hitam yang membuat Sooyoung terbatuk kecil.

Sialnya, ia harus duduk dengan tenang tanpa mengeluh selama satu setengah jam.

"Ibu, kapan kita akan sampai?"

Sooyoung menatap Ibunya yang sibuk menghubungi ayah Sooyoung.

"Setengah jam lagi, sayang."

Sooyoung menghembuskan napasnya pelan, rasa bosan menyerangnya dengan hebat.

Gadis itu memilih menatap ke jendela, memandangi padang ilalang dan pepohonan yang amat tinggi dan gelap, seolah kau tak akan bisa kembali jika sudah masuk ke dalamnya.

Sooyoung cukup menikmati pemandangan disini, masih asri dan amat hijau. Berbeda sekali dengan Seoul, hanya gedung gedung pencakar langit yang menjadi pemandangan tiap harinya.

Tapi, mengingat fakta bahwa Ibu dan Ayahnya memaksa pindah dan membuat Sooyoung harus meninggalkan beribu kenangan indahnya di Seoul membuat Soyoung sedikit banyak membenci desa tempat lahir Ayahnya itu.

Itu mutlak, bagi Sooyoung.

🍀


"Sayang, kita sudah sampai."

Nyonya Park mengguncang bahu anaknya pelan.

"Eungh."

Sooyoung meregangkan badannya, mengucek mata pelan sebelum bertanya pada Ibunya.

"Apa kakek akan menjemput kita, Bu?"

Ibu mengelus puncak kepala anaknya lembut.

"Tentu saja tidak, Sayang. Kakekmu sedang berkebun."

Sooyoung mendesah pelan, merasa harinya amat berat.

"Kita jalan kaki. Tak apakan, sayang?"

Gadis itu menggumam pelan, meng-iyakan perkataan Ibunya.

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam.

Sooyoung berpikir tentang kehidupannya di desa ini.

Apa ia akan dapat teman? Apa anak disini akan memujanya atau mengejeknya karena dia berasal dari Seoul? Apa sapaan yang harus ia ucapkan pertama kali?

Ah, rasa rasanya gadis itu akan gila karena kebingungan.

"Sayang, naiklah ke lantai atas. Kamar mandinya ada di belakang rumah. Segeralah mandi sebelum gelap."

Sooyoung memacu langkahnya ke lantai atas, yang bagi Sooyoung adalah loteng.

Bagaimana tidak?

Tumpukan kardus, kuda kudaannya sewaktu kecil, dan beberapa lukisan terjejer di samping pintu kamarnya.

Sooyoung mendesah berat, membuka knop pintu yang berderit karna jarang digunakan.

Gadis itu harus sedikit menunduk untuk masuk ke kamarnya sendiri.

Menurut Sooyoung, hal ini benar benar menyebalkan.

Setelah setengah jam membereskan barangnya, Sooyoung turun ke lantai satu. Mendapati kakek dan neneknya serta Ibunya yang sedang berbincang.

"Oh, apakah ini Sooyoung? Kau bertambah cantik."

Sooyoung tersenyum, sudah lama ia tidak kemari.

wнen yoυ love ѕoмeone. [ vjoy ]✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang