Jujur, ia merindukan kakek dan neneknya.

"Iya, halmeoni. Ini aku."

"Cucuku semakin tinggi. Wajahmu juga sangat cantik. Kenapa tak jadi idol saja?"

Sang Kakek berucap dengan dialek yang amat kental. Bagi sooyoung, kakeknya itu sangat lucu ketika bicara.

"Ibu bilang ia akan mengusirku jika aku jadi idol, harabeoji."

Nenek dan Ibu tertawa mendengar celetukan polos Sooyoung.

"Seera-ya, bagaimana bisa kau mengubur anugrah Tuhan yang diberikan pada cucuku?"

Kakek bertanya dengan nada bercanda, membuat mereka tertawa lagi.

"Ibu, Halmeoni, Harabeoji, aku mau mandi dulu ya."

Setelahnya, Sooyoung dengan malas beranjak ke belakang rumah.

🍀

Masih pukul 5 sore dan Ibunya sedang memasak di dapur.

Soyoung memandang langit yang kejinggaan di teras sendirian.

"Sayang."

Suara Ibunya terdengar, Sooyoung menyahut dari tempatnya.

"Ada apa, Bu?"

"Tolong belikan kecap di toko kelontong di ujung jalan."

Sooyoung menerima beberapa lembar won dan memakai sandalnya.

"Aku pergi."

"Hati hati."

🍀

Semilir angin menerbangkan rambut Sooyoung yang tergerai.

Sooyoung merapatkan jaketnya, memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Ah, dingin sekali."

Butuh waktu 10 menit untuk sampai di toko kelontong satu satunya di desa itu.

"Permisi. Ada orang?"

Sooyoung membunyikan bel antik yang bunyinya 'ting'.

Sembari menunggu, Sooyoung melihat interior toko itu yang sangat antik.

Bau kayu yang dipliturpun tercium ke hidungnya.

Ia tak sadar bahwa ada seorang lelaki yang sedang memandanginya dengan penuh bingung di matanya.

"Ekhm, anda mau membeli sesuatu?"

Sooyoung sedikit terjingkat karena terkejut.

Gadis itu menengok ke arah suara. Mendapati sosok pria muda yang terlihat cukup tampan.

Pemuda disini tidak buruk juga, begitu pikir Sooyoung.

"Aku mau membeli kecap."

"Ah, tunggu sebentar."

Pria itu tersenyum hingga matanya tak tampak. Bagi Sooyoung, itu amat menggemaskan.

"Dibungkus?"

"Tidak usah."

Sooyoung memberikan beberapa won dari Ibunya.

Baru berbalik badan, pria tadi memanggil Sooyoung.

"Aggashi, terimalah ini. Ini arak beras untuk menghangatkan tubuhmu."

Sooyoung menerimanya ragu ragu.

"Ah, terimakasih. Berapa harganya?"

Sooyoung meraba sakunya, takut takut jika tidak ada uang di sakunya.

"Itu gratis. Sebagai tanda selamat datang ke desa kami."

Sooyoung menaikkan alisnya bingung, membalikkan badannya lagi menatap pria itu.

"Kau tahu aku baru pindah kesini?"

"Aku tahu karena wajahmu terlihat asing. Dan dialekmu berbeda denganku."

"Ah, begitu."

Sooyoung membuka mulutmya lebar. Membuat pria itu tertawa kecil.

Pemuda itu menyodorkan tangannya, Sooyoung menyambutnya dengan cepat.












"Kenalkan, Namaku Park Jimin."

"Ah, namaku Park Sooyoung. Kau bisa memanggilku Sooyoung."

"Selamat datang di desa kami, Sooyoung-ssi."

Ah, jangan tersenyum.

Sooyoung bisa diabetes jika kau terus tersenyum, Park Jimin.[]

Jimin dulu baru kamu, tet. -awthor

Yah, kan gw pemain utamanya. Kok si bantet beroti sobek yang muncul duluan? -tetet

Yeu, kasian. Awthor lebih sayang ama gw daripada lu. Makanya jan suka baperin anak orang, kesel kan awthornya ama lu. -jimin

Dih udah bantet, kompor lagi. Musnah ae lu. -tetet

Udah udah, suami suamiku yang akur dong.-awthor

/diarak army

Btw, voment juseyo^^

XOXO
-author yang ngalong semalem

wнen yoυ love ѕoмeone. [ vjoy ]✔ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang