36. Kabar Baik Tapi Buruk

16.7K 2.9K 104
                                    





Chapter 36

"Kabar Baik Tapi Buruk"

Bukannya kejujuran yang murni itu lebih baik dibandingkan kejujuran karena tertangkap basah? Lantas apa lagi yang ditunggu?


Lelucon yang Adara lontarkan sama sekali tidak terdengar lucu, gadis itu sibuk tertawa sendiri dengan gurauannya, sedangkan gue terduduk sibuk dengan pikiran sendiri. Resah. Satu kata itu yang gue rasakan sekarang ini. Berkali-kali gue menatap layar ponsel dan pintu dengan gelisah, di saatyang sama gue menykini diri sendiri bahwa apa yang gue lakukan itu sudah benar.

Gue tertawa hambar ketika Adara menceritakan kehidupan masa SMA nya, dimana ia menjahili seorang guru dengan memberikan lem aibomn di kursi guru, yang gue yakini cerita itu akan terdengar lucu jika saja gue mendengarkan dengan baik.

Kaki gue mengetuk-ngetuk lantai, menimbulkan bunyi sandal rumah yang bertemu dengan ubin lantai, memebuat perempuan di sebelah gue itu menoleh.

"Sen, lo naber?"

Gue menggeleng ragu, namun pada akhirnya tangan gue bergerak menepuk pundaknya. "Pacar gue mau kesini sekarang, nggak apa apa?"

Gue bodoh.

Gue tolol.

Ayo hujat gue sepuasnya.

Raut wajah Adara seketika berubah. Senyum cerah dan tawanya hilang sekejap digantikan ekspresi yang sama sekali nggak terbaca. Seperti campuran sedih dan panik?

Sedetik kemudian ia tersenyum lebar, mendorong gue kecil ala menggoda. "Cieeee, yaudah gue balik dah daripada jadi nyamuk"

"Lo balik? Seriusan? Gue nggak masalah sih, kali aja lo bisa kenalan sama dia"

That stupid idea, yang keluar begitu saja dari mulut gue. Dia menggeleng cepat. "Nggak njir, ngapain gue gangguin orang pacaran. Eh iya minta Line lo dulu dong"

"SenaFZ"

Adara mengangguk dan segera berdiri merapikan barang-barangnya. "Oke nanti gue hubungin lo, gue balik ya"

Gue mengantarkan Adara hingga ia masuk ke dalam mobil, menunggunya hingga benar-benar pergi. "Bye Sena!" Ia melambai kecil dan menjalankan mobilnya hingga hilang di balik tikungan, bersamaan dengan itu suara klakson mobil dari arah yang berlawanan datang.

Mobil Daniel.

Gue menghela nafas, terlambat seperkian detik saja, rumah gue akam diselimuti atmosfer yang sama sekali nggak mengenakkan.

Gue bodoh memang iya, gue akui itu.

Tapi keputusan sebelumnya terdengar salah di lubuk hati gue. Anggap saja, ini kesempatan untuk menunggu Daniel mengatakan yang sebenarnya.

"Bocil!" Daniel keluar dari mobil lantas mengacak-acak rambut gue gemas hingga berantakan. Cowok itu mengenakkan kemeja flannel yang sengaja nggak dikancing menampilkan kaos hitam dibaliknya, celana ripped hitam juga sepatu converse hitam.

"Itu tadi mobil siapa?" Tanyanya ketika kami berjalan masuk ke dalam rumah.

"Hah? Mobil?"

Dia mengangguk. "Iya, tadi aku liat ada mobil yang baru aja pergi dari rumah kamu"

Bukannya seharusnya Daniel yang lebih tau? Dia beneran nggak tau bentukan mobil Adara seperti apa? Oh mungkin selama ini Daniel yang jemput.

Jagoan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang