4 : Kenyataan :

21.9K 3.3K 1K

4

: k e n y a t a a n :

2003


Penasaran, Aksel pun mencari tahu dengan menguntit pacarnya dan Ramon.

Berdasarkan info dari salah satu temannya, dia melihat Ramon dan pacar Aksel di salah satu kafe dekat sekolah saat malam minggu. Asumsi Aksel, mereka mungkin akan berkencan lagi.

Nadia - pacar Aksel saat itu yang kemudian Aksel lupakan siapa namanya - Aksel ikuti sepulang mereka sekolah. Nadia tak langsung pulang setelah bel pulang sekolah berbunyi.

Dari ujung lapangan yang dekat dengan gerbang sekolah, Aksel memerhatikan Nadia yang terlihat sedang berdiri di depan pos satpam. Gadis itu sibuk dengan ponselnya. Tak lama, Nadia pun mulai berjalan menjauhi pos satpam. Aksel segera menutup kaca helmnya dan berkendara mengikuti gadis itu diam-diam. Hari ini, dia bertukar motor dengan motor Nolan dan mengganti tas yang dia biasa kenakan. Tubuhnya juga sudah dibalut jaket yang sangat jarang dia pakai. Setidaknya dengan begitu, dia takkan terlalu dikenali.

Setelah berjalan di beberapa belokan, Aksel menghentikan motornya dan melihat Nadia berjalan ke arah seorang pengendara motor sport yang sudah Aksel kenali. Motor Ducati hitam-oranye yang terlihat sangat mencolok di depannya itu jelas milik Ramon. Aksel masih terdiam di belakang pohon, pura-pura mengetikkan sesuatu di ponsel agar tak terlalu mencurigakan. Setelah Nadia dan Ramon mulai beranjak pergi, barulah Aksel menyimpan ponselnya dan berkendara mengikuti mereka.

Tempat yang dituju adalah sebuah kafe yang agak jauh dari sekolah. Ramon menghentikan motornya di lapangan parkir, lalu memasuki kafe sambil menggandeng Nadia.

Pelan, Aksel mengikuti mereka, lantas mencari tempat dekat, tetapi agak tersembunyi untuk mengintai pacarnya. Pilihannya jatuh pada kursi di belakang kursi yang Ramon dan Nadia tempati. Kursi itu berupa bangku panjang dengan bantalan duduk yang saling memunggungi, sehingga Aksel tetap bisa mendengar apa yang Ramon dan Nadia bicarakan.

Aksel menaikkan masker tipis di wajahnya. Usai memesan minuman, Aksel mengamati Nadia dan Ramon yang terlihat asyik dan tertawa-tawa sambil memesan makanan. Kemudian, Ramon terkekeh, menatap Nadia dengan tatapan dalam, lalu mengecupi kening hingga pipi Nadia berkali-kali.

Ebuset. Aksel mengangkat alis, nyaris membuka mulut. Si Ramon kan, udah tahu kalau Nadia pacar gue. Kenapa masih dilibas? Dia nggak laku banget emangnya, sampai ngembat cewek orang?

Menarik napas panjang, Aksel pun kembali fokus pada targetnya. Aksel tak suka diberi harapan sampah. Kalau memang Nadia tak lagi menyukainya, kenapa masih memepertahankan hubungan?

Ramon membisiki sesuatu di telinga Nadia yang membuat gadis itu terkikik. Dengan gerakan halus dan terlatih, Ramon memiringkan kepala dan mengecupi leher Nadia.

Ucetdah. Aksel menahan diri agar tidak geleng-geleng kepala. Itu Nadia kagak takut semisal Ramon beneran punya penyakit kelamin terus ketularan dia, ya?

"Eh, udah dong, Ram. Malu ih, ntar dilihatin pelayan," ujar Nadia, menahan wajah Ramon agar tidak mendekati lehernya lagi.

"Biarin aja mereka lihat," balas Ramon, santai. Dia memberi senyum miring dan tatapan berbinar penuh tantangan. "Kamu mau aku ngelakuin lebih dari ini, tapi nggak mau para pelayan itu nyadar apa yang aku lakuin pun, aku bisa." Seringai Ramon melebar. "Mau nyoba?"

Nadia terkikik. "Nakal ya, kamu."

"Tapi, kamu senang aku nakalin," ujar Ramon dengan nada mengeluarkan fakta.

Deklasifikasi | ✓Baca cerita ini secara GRATIS!