Bagian 4 Berlibur Ke Pantai

6.9K 185 8
                                    


"Ooiiyy yang punya kontaknya Dilla hubungin dunk dia, aku lagi gak punya pulsa neh buat nelpon, tanyain dia jadi ikut enggak, lama bener ditungguin," teriak ketua kelas, entah kepada siapa.

Hari ini Dilla dan teman-teman satu kelasnya kuliah, berencana berangkat berekreasi ke salah satu pantai yang ada di Pelaihari. Rencana ini telah mereka bentuk satu bulan sebelumnya. Dengan berlibur mereka berharap dapat  merefreskan otak dan bersenang-senang setelah, 2 minggu berlalu dengan berat menjalani masa-masa Final test. juga sebelum mereka berpisah di semester ini dan pulang kekampung halaman masing-masing.

Di depan kantor gedung fakultas, bis berukuran sedang tengah terparkir, menunggu rombongan untuk berangkat. Sebagian telah stay duduk di bangku penumpang, dan sebagian yang lain masih duduk duduk disekitaran bis, menunggu bis akan berangkat. Rupanya rombongan saat itu belum berangkat karena menunggu seorang peserta rombongna itu yang belum datang.

"Di chat ajja si Dillanya ketua kelas," teriak salah seorang laki-laki dari dalam bus, dia melongokan kepalanya di jendela bus.

"Udah di chat, tapi ceklis semuanya," jawab si ketua kelas.

"Hadduuh ne enggak ada yang ada punya nomernya Dilla ya,"  gerutu ketua kelas lagi. karena tak ada yang merespon teriakannya.

"Bentar ketua kelas, ne lagi di telpon si Dillanya," teriak salah seorang cewek.

Beberapa saat kemudian Dilla datang dengan berlari. Nafasnya ngos-ngosan sampai didepan bis

"Nah ne anak baru ajja nongol udah jam berapa neh," semprot si ketua kelas sambil melirik jam tangannya. "Kita udah molor setengah jam dari jadwal keberangkatan, gara-gara nungguin kamu" ketus ketua kelas.

"Maaf-maaf ketua kelas, tadi dijalan ada nenek-nenek yang jatoh, jadi aku nolongin dia dulu," Dilla memberi alasan, nafasnya masih ngos-ngosan, matanya pun merem melek, beberapa tetes peluh mengalir diwajahnya.

"Hallah alesan ajja kamu, udah sana masuk ke bis, anak-anak udah pada nungguin, kita udah mau berangkat, nanti tambah molor"

Dilla pun segera naik kebus, dengan cengengesan.

Dengan menggunakan bis, Dilla dan teman-temannya yang berjumlah 23 orang bertolak dari Banjarmasin menuju pantai yang tempat mereka akan berekreasi. ketika telah sampai di pantai, mereka lalu mendirikan 2 tenda sederhana dari terpal untuk berteduh, Satu tenda untuk perempuan dan satu tenda untuk laki-laki. Namun ada beberapa orang yang membawa tenda pribadi. Dengan dikerjakan secara bergotong royong 2 tendapun dapat dengan cepat selesai didirikan, walau hanya tenda sederhana, sekedar cukup untuk berteduh. Selanjutnya mereka memindahkan barang-barang bawaan mereka yang sebagian telah diturunkan dari bis kedalam tenda yang telah didirikan. Setelah semua dirasa beres kawan kawan Dilla pun langsung berhamburan menuju pantai.

"Dilla kamu tidak ikut teman-teman lain kepantai, foto-foto dan main air disana? Tanya Nayla yang sedang berbenah membereskan tenda di bagian dapur yang masih berantakan..

"Enggak ah, panas banget, enakan didalam tenda, adem, nanti sore saja jalan-jalan kepantainya kalau udah enggak panas," jawab Dilla, sambil menghampiri Nayla, Risna, Aziella dan Veby yang ada disana. Terlihat mereka sedang menyiapkan makanan untuk dimakan sore Nanti.

Kalian sendiri enggak ikut temen-temen yang lain jalan kepantai, Dilla mendudukkan tubuhnya, ikut berkumpul dengan mereka yang tengah sibuk.

"Nanti ajja  Dil, harinya panas banget," sahut Veby

"Ada yang bisa aku bantu gak neeeh?" tawar Dilla, matanya memperhatikan apa yang sedang teman-temnnya kerjakan. saat itu terlihat mereka sedang memotong motong sayur.

"Seriusan mau ngebantu Dil?" Tanya Risna yang duduk disebelah kanan Dilla, meyakinkan.

"Ya iyalah serius bu, kalau enggak serius ngapain juga aku kesini,"

"kirain Cuma basa-basi doank, Kalau begitu potongin wortel geh Dil," pinta Risna sambil meyerahkan pisau dan beberapa potong wortel,

"Emangnya kamu bisa Dil motongnya," Nayla terlihat tak yakin.

"Gampang, Cuma motong ajja kan," kata Dilla, sambil mengambil pisau dan wortel yang diserahkan Risna.

"Yakin bisa tuh, ntar malah cuma bikin berantakan," veby juga ikut tak yakin.

"Yeee, ne tante ngeremehin, liat ajja dulu, baru komen," kata Dilla sambil memulai memotong wortel.

Srak-srak, Dilla mulai memotong-motong wortel itu, dengan tatapan meragukan dari Nayla, Risna, Veby dan Aziella.

beberapa potong telah Dilla hasilkan dengan rapinya.

"Tidak aku sangka Dil kamu bisa juga mengerjakan pekerjaan seperti ini. Inikan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh perempuan" Aziella ikut nimpul, suaranya selalu terdengar lembut seperti biasa dari balik cadar yang ia kenakan. yang terlihat darinya hanya kedua matanya dan dahinya. ditangannya terpegang pisau dan potongna kol yang sedang dia iris-iris.

"Aaaah biasa saja koq Zeil, Cuma motong-motong wortel, siapapun pasti bisa." sanggah Dilla sambil fokus memotong wortel.

"Kalau aku lihat dari cara kamu memotong dan hasil potonganmu Dil, potongan wortelnya rapi, cara motongnya juga seperti koki gitu, aku kira potongannya akan berantakan dan sembarangan, enggak aku sangka kamu ternyata bisa, iya gak Na?" Aziella menyenggol Nayla disebelahnya,

"Iya Dil, bener kata Aziella, tidak aku sangka kamu bisa rapi gitu motong wortelnya, aku ajja yang cewe belum tentu bisa memotong serapi itu, kaya dadu dadu begitu. Ternyata kamu bisa mengerjakan pekerjaan ini. Biasanya kan ini kerjaan cewe." Nayla yang sibuk mengiris kacang panjang, terpana melihat hasil potongan wortel Dilla.

"Yeee enggak harus cewek juga kali Na yang bisa kerjaan beginian, cowok juga bisa kale, coba deh kamu lihat di dapur restoran, kokinya kebanyakan cowokkan. Nah itu berarti cowok juga bisa. Lagian kerjaannya mudah banget kayak gini."

"Ehh emang kamu koki ya Dil?" Veby terkesima.

"Hehehe enggak seeh"

"Terus kamu belajar dimana Dil cara motong-motong wartel itu, soalnya kelihatannya potongannya cantik" tanya Risna.

"Ya Dari lihat mama aku dirumah, dan juga sedikit-sedikit beliau ngajarin."

"Mama kamu yang ajarin?" kata veby tidak percaya.

"iyya" Dilla mengangguk.

"Kok bisa? Jarang banget tuh, ada mama yang ngajarin anak cowoknya masak," timpal veby lagi.

"Haha Bukannya jarang lagi, tapi jarang banget mungkin. Sebenarnya mama aku enggak bener-bener ngajarin, cumankan aku melihat dari biasa yang mamaku kerjakan, sesekali aku praktekkan, makanya sedikit-sedikit bisa. Sesekali mama juga minta tolong aku untuk kupas bawang, kelapa, ngulek juga. Ini pun motong wortel diajarin sama mama aku. Mama aku pernah berkata, belajarlah sedikit sedikit memasak nak, biar nanti kamu tidak susah, dan kamu bisa mandiri. Misalnya nanti kamu sudah beristri, istri kamu sakit ato ngelahirin, disaat istri kamu tak bisa melayani kamu dengan memasak buat kamu, kamu tidak bakalan susah, karena kamu bisa masak sendiri dan masak nuat istri kamu." Kata Dilla masih sambil memotong wortel.

"Waaah bener tuuh kata mama kamu Dil, seharusnya semua laki laki harus kaya gitu," ujjar Nayla setuju dengna perkataan Dilla.

"Iyya bener seharusnya laki-laki itu memang harus bisa masak juga bukan hanya perempuan," sambung Risna.

"Waaahh sepertinya si Dilla bisa jadi calon idaman neeeh hahaha, bisa masak" celetuk Veby.

"Tapi kan Radilla itu buaya Nay," sela Aziella.

Cadar kemunafikanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang