Part 12 - Karena Kehadirannya Kembali, Rusak Sudah Semuanya

274 26 2

Kimi masih duduk di depan kedai yang sudah tutup setengah jam yang lalu. Dia menunggu El yang berjanji akan menjemputnya di kedai. Namun sampai sekarang batang hidungnya pun tidak terlihat.

Berkali-kali juga Kimi mencoba menelepon namun ponsel om-nya mati. Udara semakin berhembus kencang meniupkan aroma tanah yang begitu kentara. Pertanda akan turun hujan sebentar lagi.

Kimi merapatkan jaketnya dan menyampirkan hoodie di atas kepalanya. Kalau begini, lebih baik dia pulang saja daripada hujan akan menghambatnya. Namun belum sempat dia menyetop taksi, hujan mulai turun. Makin lama makin deras dan menjebaknya lebih lama di depan kedai.

Akhirnya dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kedai sambil menunggu hujan reda. Kilat dan petir saling bersahut-sahutnan sehingga membuat langit penuh dengan cahaya seperti flash kamera.

Kimi tidak menyukai kondisi seperti ini, tubuhnya menggigil dan bibirnya bergetar karena takut. Dia berlari masuk ke dalam ruang El dan bersembunyi di kolong meja. Sejak kecil saat hujan disertai kilat dan petir, dia selalu bersembunyi di kolong meja menunggu ada yang menolongnya. Tapi kini dia sendiri.

Dia memeluk lututnya sambil terus berdoa agar ada yang menenangkannya.

Eyang, om El, Kimi takut. Hikss...

Air matanya meluruh mengenai lengan jaketnya. Di luar suasana hujan masih sangat deras.

"Kimi!" samar-samar dia menangkap suara seseorang yang menyebut namanya. "Kimi!" sekali lagi suara itu terdengar. Dia mendongak untuk menajamkan pendengerannya.

"Kimi! Kamu di dalam?"

"Om Malik..om Malik!" Kimi langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari sumber suara. Wajahnya bahagia saat melihat laki-laki itu tengah mencarinya di dapur lalu memeluknya dari belakang.

"Om Malik.." cicit Kimi.

"Kimi? Ada apa?" Malik melepaskan pelukannya lalu berbalik. "Kamu baik-baik saja?" tanya Malik dengan panik.

"Aku..aku takut petir." isak Kimi.

"Sshh..tenanglah. Ada saya disini."

Malik memeluk tubuh mungil Kimi dengan erat. Berusaha menghilangkan rasa takutnya.

**

Aroma kopi yang pekat menghampiri indera penciuman El. Dia memandangi uap yang keluar dari cangkir putih itu. Kemudian pandangannya terpusat pada kondisi di luar coffeeshop yang tengah dia duduki sekarang. Hujan deras membuat jalanan semrawut. Mobil dan motor saling membunyikan klakson agar mempercepat jalannya padahal di depan saja kondisi macet menghadang.

El amat merasa bersalah pada Kimi yang menjanjikan akan menjemputnya dari kedai. Tapi..

"Kamu masih disini rupanya." Nesya mengambil duduk berhadapan dengan El yang terkejut dengan kedatangannya.

"Ya. Diluar masih hujan dan tentu saja macet dimana-mana." jawab El santai lalu menyesap kopinya lagi.

"Maaf karena sibuk menemaniku disini, kamu nggak bisa menjemput Kimi." ujar Nesya. El hanya mengangguk. "El, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ya."

"Apa kamu..hmm..sudah menikah?"

El menyipitkan matanya. "Kamu nggak perlu menjawab kalau nggak nyaman dengan pertanyaanku tadi. Lupakan saja."

"Belum. Aku belum menikah."

"Oh begitu. Apa yang kamu tunggu. Usiamu sudah lebih dari cukup, pekerjaanmu sudah mapan, pasti banyak perempuan-perempuan cantik yang menunggumu."

Target KimiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang