Satu

19 2 0


MIKA


Kalau ada yang sedikit membuatku senang menjelang malam ini, itu adalah ketukan pintu berulang-ulang—tidak sabaran. Iramanya berantakan; dua-tiga-dua-lima ... aku menghitungnya sambil berjalan menuju ruang depan. Menyalakan lampu, menggenggam pegangan pintu, menarik napas cepat, membuangnya dengan lebih cepat, dan membuka pintu. Ada sedikit rasa takut—bukan, bukan takut, tapi lebih ke grogi—ketika aku melihat wajahnya di balik pintu itu; pipinya memerah, bibirnya bergetar, dan ada butiran-butiran salju tersangkut di rambutnya. Jaketnya dipakai asal, tidak rapat, dan aku bisa melihat kancing ketiga kemejanya dimasukkan ke lubang kedua. Membuat kemeja itu sedikit tertarik ke atas.

"Kamu mengirimkan postcard!" teriaknya. Ah, tidak. Dia tidak berteriak. Suaranya lepas begitu saja dari laringnya dan memang seperti itu; rendah namun nyaring.

Aku menujuk dadanya.

"Kancingmu salah lubang."

"Kamu mengirimkan postcard," katanya lagi.

"Mau masuk dulu?" tanyaku. Aku menunjuk rambutnya. Butir-butir salju di sana akan mulai mencair terkena panas tubuh dan membuat rambutnya basah. Dia bisa saja sakit kepala nanti. "Aku ambilkan paper towel."

Aku melebarkan pintu, meninggalkannya, dan berjalan ke dapur. Mengambil segulung paper towel yang baru dibuka kemarin. Ketika aku kembali ke ruang depan, dia sudah berdiri di dekat meja belajarku. Memegang postcard bergambar Merlion.

"Kamu mengirimkan postcard," katanya lagi—untuk ketiga kalinya.

Aku meletakkan paper towel di meja. Membiarkannya merobek beberapa bagian dan menghapus rambutnya. Beberapa butir salju jatuh ke karpet dan langsung mencair. Terserap. Tidak meninggalkan jejak apapun.

"Karena aku ingin menghubungimu," jawabku.

Dia menatapku. Rambutnya jadi semakin berantakan.

"Enggak pakai perangko," katanya lagi. Sekarang postcard itu ada di atas meja. Aku menyentuh tepiannya dengan ujung jariku. Membaca tulisan yang ada di sana.

Hai!

Tidak ada alamat, hanya nama aku dan dia.

"Aku memasukkannya ke mailbox-mu pulang kuliah tadi," jawabku. Dia menuntut penjelasan, maka aku memberikannya. "Aku enggak ingin rugi membeli satu dolar perangko hanya untuk postcard yang akan dikirimkan ke apartemen yang jaraknya hanya empat blok dari apartemenku."

Aku melihat merah di pipinya yang berangsur menghilang karena suhu hangat di ruangan ini.

"Kita sudah tahu alamat masing-masing," lanjutku.

Dia tersenyum. Tipis. Menyadari sesuatu. "Kamu memancingku untuk datang ke sini," katanya kemudian.

* * *

* * *

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


TUTA


Dia tertawa. Manis sekali. Aku bisa melihat barisan giginya yang rapi dan matanya yang tinggal terbuka setengah ketika bibir tipisnya mengungging senyum lebar. Aku menganggap tawa dan senyum itu sebagai jawaban; iya. Senyumnya belum berubah. Ah, senyum seseorang rasa-rasanya, tidak akan pernah berubah. Masih menghangatkan. Masih menularkan perasaan tenang yang membuatku merasa sedikit lebih nyaman di ruangan ini. Rambutnya yang hitam kecokelatan diikat asal ke belakang, membuat sanggul kecil di atas tengkuknya. Ketika dia berbalik ke dan berjalan menuju sofa, aku bisa melihat tengkuk itu; putih, jenjang, dan membuatku sedikit merinding. Seperti tumpukan salju yang aku terabas setelah aku menemukan kartu pos itu di kotak suratku menjelang malam tadi. Tidak ada alamat, hanya nama kami berdua, dan tulisan; hai!

Tapi itu semua sudah cukup untuk membuatku berlari ke atas dan mengambil kemejaku di lemari—yang agak baik dan warnanya belum pudar. Entah mengapa itu yang terpikir ketika aku melihat deretan kemeja di sana. Aku ingin yang baik, lumayan, kancingnya masih lengkap, dan yang tidak memalukan ketika dipakai. Lalu menarik asal jaket yang tersampir di punggung sofa. Memakainya sambil menuruni tangga. Aku pikir awalnya, aku akan sangat kikuk ketika melihatnya di balik pintu itu. Tapi ternyata tidak. Rambutnya, matanya, dan senyumannya membuat semua mencair—begitu juga dengan butiran salju di kepalaku.

"Mau kopi?" tanyanya.

Kopi ... dia ingin bicara. Dia ingin kami bicara. Aku juga mungkin ingin bicara. Entahlah.

"Sounds good," jawabku.

Aku tidak menyesali jawaban ini. Aku hanya terkejut betapa jawaban itu keluar dengan cepat dari mulutku, dengan nada yang cukup riang pula.

Dia berjalan ke dapur. Mengambil teko bening dari coffee maker dan mengisinya dengan air dari keran di tempat cuci piring.

"Kopi akan membuat pembicaraan jadi lebih mudah," katanya. Dia tersenyum lebar. Mungkin dia bercanda. Mungkin juga tidak. Aku tidak tahu. Aku merasa dia masih yang dulu. Tapi ada sebagian dari dirinya yang tidak aku mengerti.

"Mug," katanya sambil menunjuk cupboard di dekatku. Jarinya runcing. Aku masih mengingat bagaimana caranya dia memotong kuku; membuat jadi segiempat tumpul agar jari itu tidak terlalu kelihatan runcing. Aku tahu dan masih mengingatnya karena jari itu sangat aku sukai dulu dan mungkin juga sekarang. Aku tidak pernah berhenti menyukainya. Hanya saja, aku sudah berhenti menggenggamnya sejak ... ah!

Aku membuka cupboard itu, mengambil dua mug dengan asal, dan meletakkannya di atas meja dapur.

Dia menyalakan coffee maker, mengambil toples gula, botol creamer, meracik dengan ukuran yang masih aku ingat; 2-1-2, dua sendok kopi, satu sendok gula, dan dua sendok creamer. Aroma kopi menyeruak.

Lalu pertanyaan itu terucap juga dari bibirnya.

"Rindukah kamu?"

Coffee maker mengeluarkan bunyi panjang yang membuatku tersentak. Aku tidak menjawab. Aku malah mengulang pertanyaan itu.

"Rindukah kamu?"

* * *

HalfRead this story for FREE!