Epilog

825 45 2

Pada akhirnya, tanpa aku sadari, intuisiku selalu mengarah ke kamu dan merubah diriku menjadi lebih baik.

Reina gak pernah menyangka dengan perasaannya kepada Alvan. Mulai dari Reina yang gak peduli sama seorang Alvan yang sedang di gandrungi oleh cewek-cewek disekolahnya, lalu, kelas Alvan yang bersebelahan dengannya saat kelas sebelas tapi Reina tak pernah mau tahu akan hal itu. Hingga pada liburan kenaikkan kelas, dengan paksaan Ninda, saat itu pula kisah mereka berdua dimulai.

Mulai dari sikap Reina yang benar-benar apa adanya karena gak ada niat deketin Alvan sedikitpun, sampai lama-lama pikiran Reina selalu mengarah pada Alvan.

Lalu, cerita pertemuan Ninda dan Lando pada awal kelas dua belas. Mulai dari Lando yang bandel, lama-lama berubah menjadi lebih baik karena Ninda. Pikiran Ninda juga selalu mengarah pada Lando. Berpikir bagaimana caranya agar cowok itu jadi lebih baik lagi.

Terakhir, cerita Rio dengan Raisa yang sekarang tinggal kenangan belaka. Mau bagaimanapun sikap Raisa terhadap Rio, cowok itu akan tetap memikirkan Raisa. Seolah intuisinya mengarah begitu saja tanpa diminta, hingga menciptakan rindu di malam sendu. Namun perlahan tapi pasti,intuisi Rio tak lagi mengarah kepada Raisa.

Intuisi dari diri orang yang sedang jatuh cinta, akan tergerak dengan sendirinya dari alam bawah sadarnya. Menciptakan sebuah pikiran yang lama-lama akan membuat rasa rindu menyeruak. Menyesakkan relung jiwa pada malam sendu. Atau membuat rasa khawatir membuncah begitu saja.

Mau sampai kapanpun, kalau perasaanmu untuk dia, intuisi mu juga akan terus mengarah kepadanya. Mau tidak sepeduli apapun kamu dengan dia, tetap saja alam bawah sadarmu akan menyuruh kamu untuk memikirkannya.

"Mau ada yang deketin gue, gue mikirnya mah lo mulu, Van. Mau tuh orang ganteng juga, tetep aja di mata gue gantengan lo."

"Ciee, bilang gue ganteng,"

"Kenyataannya emang gitu kok!" ucapnya. "Bilang apa kalo udah dibilang ganteng?"

Alvan tersenyum. "Bilang..." ia menggantungkan kalimatnya. "ACIE CIE. Gua emang ganteng kok kaya Shawn Mendes." balasnya disertai tawa yang berderai.

"Fix. Kita musuhan." kata Reina yang mati kutu.

"Ok fine." balas Alvan yang menahan tawanya.

Cowok itu mengalihkan pandangannya. Seolah-olah tidak mengenal perempuan di sampingnya ini. Sedangkan yang disampingnya ini bungkam. Mulutnya gatal berkata sesuatu. Tapi kan, lagi musuhan..batin Reina.

5 menit,

10 menit,

Reina gak kuat!

"Alvan, gue gak kuat..."

"Kita baikan ya?"

"Ya ya ya?"

Kemudian cowok itu menoleh. Tertawa melihat kelakuan Reina detik itu. Ia hanya mengucap, "Cepet banget berubah pikirannya. Iye." ucapnya yang membuat Reina menyipitkan matanya. Seolah menatap Alvan dengan tak suka.

"Bilang dulu, 'iya kita baikan, Reina' gitu," kata Reina yang membuat Alvan menaikkan salah satu alisnya.

"Harus banget?" wajahnya terlihat datar dan membuat Reina sedikit ciut.

"Yaudah gausah.." balasnya dengan suara memelan.

Alvan tertawa lagi. "Jangan marah dong," bujuknya. Padahal mah kan Reina gak marah. "Iyaa kita baikan, Reina."

YaAllah, gini aja udah ambyar.

"Baik kan gue?" tanya Alvan dengan percaya dirinya.

"Biasa aja." jawabnya sambil mengalihkan pandangannya.

Intuisi [ Completed ]Baca cerita ini secara GRATIS!